Home » 2016 » July » 17 » Epilog
10:10 AM
Epilog

Baiklah kiranya buku ini kututup dengan sebuah puisi.
Meski mungkin ini tidak seperti sebuah puisi, tapi pastinya ini bukan hanya sekedar basa-basi.
Semua datang dari hati untuk negeri dan untuk anak-anak ibu pertiwi.

Karena rupanya masih amat jauh negeri ini dari cita-cita kemerdekaannya.
Tak sedikit anak-anak ibu pertiwi yang lapar di negeri ini, yang terkenal dengan kekayaaannya yang tiada tara.
Tidak sedikit pula perbuatan keji yang terjadi di sudut-sudut negeri ini, yang terkenal sangat beragama.

Dan tidaklah sedikit pula keserakahan dan ketidakadilan yang tanpa malu dipertontonkan.
Dipertontonkan oleh mereka yang bahkan kita sebut sebagai petingi-petinggi bangsa.
Entah apakah memang kita telah menjadi bangsa yang pelupa, ataukah memang kita tergolong anak-anak yang durhaka.

Karena bepuluh-puluh kitab suci hadir di negeri ini.
Berpuluh-puluh Wali telah datang mendidik anak-anak negeri ini.
Bepuluh-puluh Resi telah datang membawa banyak pekerti untuk negeri ini.
Beratus-ratus orang-orang suci pun terus mengajar dan mengajar anak-anak bangsa ini.
Bahkan beribu-ribu ayat dari Tuhan pun ada tertulis di tiap-tiap prasasti.

Tapi, masihlah juga berjuta-juta rakyat tetap saja menanti dan menanti.
Menanti datangnya sebuah janji untuk negeri yang diberkahi ini.
Menanti terbitnya kembali sang fajar menerangi jiwa anak-anak ibu pertiwi.
Menanti terwujudnya gemah ripah loh jinawi.
Menanti terwujudnya semua cita-cita yang dibawa oleh revolusi.

Setelah panjang menanti, tahulah kita bahwa rupanya Tuhan tidak senang jika kita hanya bisa menanti tanpa upaya yang nyata.
Rupanya Tuhan ingin kita benar-benar berpijak di atas kaki kita sendiri untuk membangun sejatera.
Rupanya Tuhan enggan memberi rahmat-nya kepada mereka yang enggan untuk bertakwa.
Karena Dia tahu, telah ia tunjukan jalan-Nya bagi bangsa Indonesia untuk benar-benar merdeka.
Telah Dia turunkah hikmah dan ajaran bagi negeri ini untuk membangun hidup yang adil, makmur, setausa.
Telah Dia serahkan kunci surga itu kepada anak-anak bangsa Indonesia.
Sejuta berkah pun telah berbaris di langit-Nya untuk diberikan saat waktunya telah tiba.

Dan kinilah waktunya bagi anak-anak bangsa dari Sabang sampai Merauke untuk berkerja.
Bekerja di atas ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh sejarah kepadanya.
Bekerja di atas takdir revolusi yang telah dititahkan untuknya.
Bekerja untuk mewujudkan Ampera yang telah diamanatkan kepadanya sejak lama.
Mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kuat dan setausa.
Mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan sejatera.
Mewujudkan persaudaran bangsa-bangsa dan persaudaraan umat manusia.
Mewujudkan kehidupan yang berbhineka tunggal ika di atas dunia.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 156 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar