Home » 2016 » July » 22 » Dwi Tunggal Proklamasi dan Deklarasi Sebagai Panduan Revolusi
6:43 PM
Dwi Tunggal Proklamasi dan Deklarasi Sebagai Panduan Revolusi

“Saudara-saudara kaum revolusioner sejati, kita berjalan terus, ya kita berjalan terus, berjuang terus, kita tidak akan berhenti. Kita berjalan terus, berjalan terus, menuju terus pada sasaran-tujuan seperti diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945 beserta anak kandungnya yang bernama Deklarasi Kemerdekaan yang tertulis sebagai Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945.

Di dalam Resopim telah saya tandaskan dan gamblangkan cetusan tekad nasional kita itu, cetusan segala kekuatan nasional secara total, cetusan isi jiwa nasional sedalam-dalamnya. Pendek kata, dalam Resopim itu saya telah memberikan Darstellung daripada deepest innerself kita. Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah sasaran-tujuan perjuangan kita yang jelas, tandas, terang, gamblang! la adalah pegangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, rahasia hidup, ya pengayoman hidup daripada revolusi kita.

Di bawah sinar suryanya Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itu kita berjalan, di bawah sinar suryanya Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itu kita berjuang membangun National Dignity (harga diri nasional), dan Perumahan Bangsa kita, yaitu Republik Indonesia yang kita cintai ini. Di bawah sinar suryanya itulah kita menuju kepada penyelesaian revolusi besar kita. Berkat Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itulah kita, seluruh rakyat Indonesia, tidak pernah sedikit pun putus asa, tidak pernah sedikit pun patah semangat. Sebab, bermacam-macam godaan, beraneka ragam tamparan perjuangan dalam menegakkan revolusi itu, adalah memang sudah inhaerent kepada sesuatu revolusi – embel-embel daripada sesuatu revolusi.”   (Bung Karno)

Kita benar-benar patut menaruh rasa hormat yang setinggi-tinggi kepada para pendiri bangsa ini, yang bukan saja telah menghantarkan kita kepada alam kemerdekaan kebangsaan Indonesia, tapi juga telah merumuskan untuk kita sebuah formula untuk mewujudkan kemerdekaan itu seutuh dan selengkap-lengkapnya. Mereka bukan saja hanya menyerahkan tongkat revolusi kepada kita ini, melainkan telah menyerahkan juga sebuah panduan yang jelas, tandas, terang dan gamblang kepada kita agar dengannya kita dapat menyelesaikan revolusi yang belum selesai itu. Yang tentang semua itu tersimpan rapih di dalam dwi tunggal Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan Indonesia.

“Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah sebenarnya satu proclamation of independence dan satu declaration of independence. Bagi kita, maka naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah satu. Bagi kita, maka naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Bagi kita, maka naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah loro loroning atunggal. Bagi kita, maka proclamation of independence berisikan pula declaration of independence.”  (Bung Karno)

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk memahami isi dari pada Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan kita, penting bagi kita untuk memahami terlebih dulu bahwa Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan Indonesia ini adalah dua hal yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Dia adalah dwi tunggal. Loro loroning atunggal. Satu kesatuan penjelasan yang utuh tentang keindonesian kita. Tentang jati diri bangsa Indonesia. Tentang nasionalisme kita. Keduannya itu seperti sepasang sayap yang saling menopang dan menjadi alat bangsa Indonesia untuk mencapai kemuliaan bangsanya dan mewujudkan cita-cita kebangsaannya.

Eratnya kaitan dan hubungan keduanya ini digambarkan oleh Bung Karno dengan menyebut Deklarasi Kemerdekaan sebagai anak kandung dari pada Proklamasi. Jadi, sebagaimana anak kandung yang mengemban titah untuk meneruskan segala cita-cita dan perjuangan dari orang tuanya, seperti demikian itulah Deklarasi bagi Proklamasi. Tanpa Deklarasi Kemerdekaan, seolah-olah revolusi kita terhenti hanya sampai pada mengusir penjajah dari bumi Indonesia ini saja. Tidak ada lagi sambungannya, arah dan tujuannya dan titah yang harus kita perjuangkan setelah itu. Keberadaan dari pada Deklarasi Kemerdekaan kita inilah yang membuat revolusi bangsa Indonesia yang telah dimulai sejak dulu itu dapat terus belanjut dan berlanjut sampai dengan tergenapi segala apa yang dicita-citakannya.

“Proklamasi tanpa declaration berarti bahwa kemer-dekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tidak mem-punyai dasar penghidupan nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai raison d’etre, tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi Ibu Pertiwi. Sebaliknya, declaration tanpa proklamasi, tidak mempunyai arti. Sebab, tanpa kemerdekaan, maka segala falsafah, segala dasar dan tujuan, segala prinsip, segala isme, akan merupakan khayalan belaka, - angan-angan kosong-melompong yang terapung-apung di angkasa raya.”  (Bung Karno)

Dengan semua itu, tentulah telah jelas buat kita pengertian dan peran dari pada dwi tunggal Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan Indonesia itu. Kini marilah kita melihat dan memahami isi dari pada Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan kita.


P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

 

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 1945

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.


Apa arti dari pada Proklamasi 17 Agustus 1945 itu bagi bangsa Indonesia? Setidaknya ada tiga hal penting yang mesti kita pahami berkenaan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 ini, menurut keterangan-keterangan yang kita terima dari Bung Karno. Diantaranya:

Pertama: Memberi Tahu Bahwa Rakyat Indonesia Telah Menjadi Satu Bangsa Yang Merdeka

“Proklamasi kita memberikan tahu kepada kita sendiri dan kepada seluruh dunia, bahwa rakyat Indonesia telah menjadi satu bangsa yang merdeka.”  (Bung Karno)

Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945, itu adalah sebuah pengumuman akbar dari kita kepada seluruh rakyat Indonesia dan kepada seluruh dunia, bahwa kita telah menjadi satu bangsa yang merdeka. Seluruh rakyat Indonesia harus tahu itu dan seluruh duniapun demikian. Bahwa kita telah berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka; yang akan mengatur segala urusan kebangsaannya sendiri; dan yang bukan lagi koloni dari bangsa manapun. Sehingga dengan itu tidaklah lagi ada satu bangsa pun yang boleh mengeksploitasi kita, yang mendikte kita ataupun mengintervesi urusan kebangsaan kita. Dan kemerdekaan kita itu adalah kemerdekaannya satu bangsa. Satu bangsa Indonesia yang mencakup seluruh bagian yang ada di dalamnya dari Sabang sampai Merauke. Maka jika ada yang menjajah dan merendahkan satu bagian saja dari bangsa Indonesia, itu artinya ia menjajah dan merendahkan Indonesia. Siapapun yang mengusik orang-orang Papua yang diujung timur sana, atau siapapun yang mengganggu orang-orang Aceh yang ada di ujung barat sana, berarti ia mengusik dan mengganggu Indonesia.

Kedua: Sumber Kekuatan dan Sumber Tekad Perjuangan Kita

Proklamasi kita adalah sumber kekuatan dan sumber tekad perjuangan kita, oleh karena seperti tadi saya katakan, Proklamasi kita itu adalah ledakan pada saat memuncaknya kracht total semua tenaga-tenaga nasional, badaniah dan batiniah - fisik dan moril, materiil dan spirituil.  (Bung Karno)

Setiap kali kita mendengar atau membaca kembali Proklamasi 17 Agustus 1945 itu haruslah kita sadari bahwa Proklamasi itu terlahir dari sebuah penjuang yang ditenagai oleh kekuatan dan tekad yang amat besar dari para pahlawan bangsa. Kehendak untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka, yang bebas dari penjajahan, yang mengurus kehidupan kebangsaannya sendiri, yang hidup menurut kepribadiannya sendiri dan yang mandiri secara politik, ekonomi dan budaya, itu adalah kehendak yang terbelenggu sangat lama di dalam diri bangsa Indonesia, yang nyalanya telah menjadi tenaga yang membuat bangsa Indonesia terus melawan dan melawan, berjuang dan berjuang sampai dengan dapat terwujudnya apa yang dikehendaki itu. Inilah yang telah menjadi energi yang tiada habisnya menghidupkan keberanian para pahlawan bangsa untuk mengorbankan segalanya. Harta, jiwa, raga bahkan nyawa telah dikorbankan demi untuk tercapainya segala kehendak yang memanglah sudah menjadi fitrahnya itu.

Semangat itulah yang kini pun harus terus menyala-nyala di dalam dada segenap putera-puteri bangsa Indonesia untuk menjadi tenaga yang terus membuat kita bekerja dan berupaya mewujudkan segala cita-cita bangsa yang belum tergenapi. Seperti itulah Proklamasi itu harus kita ingat dan kita jadikan sumber kekuatan dan tekad perjuangan kita.

Ketiga: Menghantar Bangsa Indonesia Ke Alam Kemerdekaan Kebangsaannya

Kemerdekaan dan kepribadian nasional adalah laksana dua anak kembar yang melengket satu sama lain, yang tak dapat dipisahkan tanpa membawa bencana kepada masing-masing.  (Bung Karno)

Proklamasi ini membawa perubahan yang amat besar bagi bangsa Indonesia. Proklamasi telah memindahkan kita dari alam penjajahan dan menghantarkan kita ke alam kemerdekaan kebangsaan Indonesia. Bung Karno pernah menyebut Proklamasi ini sebagai ‘jembatan emas’ yang telah membawa bangsa Indonesia ke alam baru. Alam dimana kita dapat hidup secara total menurut kepribadian bangsa kita sendiri. Inilah arti dari kemerdekaan yang haruslah kita pahami betul. Agar janganlah kita lalai untuk menjadi diri kita sendiri. Karena menjadi percumalah kita merdeka jika kita masih harus hidup menurut cara yang didiktekan kepada kita oleh bangsa lain. Menjadi percumalah kita merdeka jika kita masih terus diintervensi dan dieksploitasi oleh bangsa lain.

Maka keberadaan Proklmasi 17 Agustus 1945 ini haruslah senantiasa menjadi pengingat kita bahwa kita harus merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka. Kita harus memastikan bahwa keseluruhan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia sepenuhnya adalah pengejawantahan dari kepribadian Indonesia. Sebab jika tidak, pastilah hal itu akan mendatangkan bencana bagi bangsa.

Itulah hal-hal pokok yang harus kita tahu berkenaan dengan Proklamasi itu. Agar bersama Proklamasi itu kita tetap terus berjalan di atas sejarah bangsa. Agar kita tetap berjalan di atas track dari pada revolusi Indonesia. Agar kita terus bergerak menuju sasaran dari pada cita-cita kemerdekaan kita. Dan, setelah itu benar-benar kita mengerti marilah sekarang kita memahami bagian demi bagian dari isi Deklarasi Kemerdekaan Indonesia.


DEKLARASI KEMERDEKAAN/PEMBUKAAN UUD 1945

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.


Proklamasi tanpa declaration berarti bahwa kemerdekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tidak mem-punyai dasar penghidupan nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai raison d’etre, tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi Ibu Pertiwi.  (Bung Karno)

Bersama dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 itu, lahirlah bangsa Indonesia dan berdirilah Negara Indonesia. Masalahnya adalah, tahukah kita raison d’etre dari pada lahirnya bangsa Indonesia itu dan berdirinya Negara Indonesia itu? Di dalam Deklarasi kemerdekaan Indonesia inilah dijelaskan raison d’etre (alasan untuk menjadi) satu kesatuan bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan sekali lagi kita harus menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para pendiri bangsa yang telah menyerahkan kepada kita sebuah pedoman, yang dirumuskan dengan sangat apik, untuk membangun bangsa dan negara Indonesia ini.

Setidaknya juga ada tiga hal penting yang perlu kita pahami berkenaan dengan Deklarasi Kemerdekan Indonesia ini, yang kita tangkap dari pesan-pesan yang disampaikan oleh Bung Karno. Diantaranya:

Satu, Mengikat Kuat ke Dalam dan Membentuk Sikap Yang Kuat ke Luar

Declaration of independence kita, yaitu terlukis dalam Undang-Undang Dasar 1945 serta Pembukaannya, mengikat bangsa Indonesia kepada beberapa prinsip sendiri, dan memberi tahu kepada seluruh dunia apa prinsip-prinsip kita itu.  (Bung Karno)

Ya, kita harus tahu bahwa kita telah menjadi senyawa (unsur-unsur yang terikat sebagai satu kesatuan) Indonesia. Kita telah disatukan oleh takdir dan tiada yang boleh dan sanggup mencerai-beraikan bangsa kita selain dari pada takdir itu sendiri. Sangat penting untuk kita pahami bahwa kita bukanlah hanya sekumpulan manusia yang kebetulan hidup di tempat yang sama. Tapi kita adalah manusia-manusia yang bukan hanya raga tapi terlebih-lebih lagi juga jiwa kita telah disatukan oleh sejarah panjang yang sedemikian rupa. Seperti yang kita tahu pada senyawa air misalnya, bahwa sekalipun atom Hidrogen dan atom Oksigen kita kumpulkan di dalam satu ruangan yang sama, tidak serta merta akan berubah menjadi air. Dibutuhkan sebuah proses benturan dan situasi yang sedemikian rupa yang membuat atom-atom itu bersatu dan membentuk sebuah senyawa air. Ada sejarah panjang yang dilalui bersama oleh atom-atom Hidrogen dan Oksigen itu untuk menjadi satu-nyawa. Demikianlah pula yang terjadi terhadap bangsa Indonesia ini. Kita telah melewati sejarah panjang yang membenturkan kita satu sama lain dan membawa kita kepada berbagai situasi yang membuat kita menjadi satu nyawa. Bangsa Indonesia.

Sejarah panjang interaksi dan pergaulan antara suku-suku, agama-agama dan golongan-golongan yang berbeda-beda dalam bangsa Indonesia ini, dengan segala dinamika panas dan dinginnya itulah telah melahirkan prinsip-prinsip yang membuat kita bersatu menjadi satu kesatuan bangsa yang membawa segala sifat keindonesiaannya. Dan melalui Deklarasi Kemerdekaan Indonesia inilah kita akan dapat mengenali keindonesiaan kita itu.


Dua, Memberikan Pedoman-Pedoman Untuk Mengisi Kemerdekaan Kebangsaan Kita

Declaration of independence kita, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk mengisi kemerdekaan nasional kita, untuk melaksanakan kenegaraan kita, untuk mengetahui tujuan dalam memperkembangkan kebangsaan kita, untuk setia kepada suara batin yang hidup dalam kalbu rakyat kita.  (Bung Karno)

Tentulah setelah kita merdeka, setelah lahirnya bangsa Indonesia dan berdirinya negara Indonesia itu, harus jelas sejelas-jelasnya bagi kita apa yang mesti kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan kita  dan apa yang mesti kita lakukan dengan bangsa dan negara kita ini. Kita harus tahu siapa kita dan mau kemana kita sebagai sebuah bangsa. Tanpa memahami itu dengan baik, pastilah kita hanya akan berputar-putar tanpa tujuan yang jelas dan terang, dan tidaklah akan kita dapat mencapai tujuan kita. Hal ini tentu sangat dipahami oleh Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya. Karenanya itulah dengan bersusah payah mereka bersegera menyusun sebuah formula; sebuah pedoman bagi segenap bangsa Indonesia untuk dapat melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegaranya dan mengisi kemerdekaannya. Inilah salah satu peran penting Deklarasi Kemerdekaan kita itu. Agar tidaklah ia hanya kita anggap sebagai secarik kertas yang berisi kata-kata tanpa makna. Kita harus benar-benar mengacu padanya dan menjadikannya sebagai pedoman untuk menata perikehidupan kita agar kemerdekaan kita itu dapat menjadi seutuh-utuhnya kemerdekaan.
 

Tiga, Melukiskan Dengan Sempurna Keindonesiaan Kita

Alangkah sempurnanya ia melukis-kan kita punya pandangan hidup sebagai bangsa, kita punya tujuan hidup, kita punya falsafah hidup, kita punya rahasia hidup, kita punya pegangan hidup!  (Bung Karno)

Inilah bagian yang amat penting untuk kita mengerti dengan sebaik-baiknya dari Deklarasi Kemerdekaan Indonesia itu. Empat alinea dalam Deklarasi kita tersusun dengan sangat apik melukiskan keindonesiaan kita. Melukiskan padangan hidup kita, tujuan hidup kita dan falsafah hidup kita sebagai sebuah bangsa, serta melukiskan rahasia dan pegangan hidup kita untuk mewujudkan revolusi kita. Deklarasi Kemerdekaan kita ini bagai sebuah lukisan yang dengan sempurna melukiskan keindonesiaan kita itu.

 

Aline 1 - Pandangan Hidup Sebagai Sebuah Bangsa.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan. 

Ya, itulah kita punya pandangan hidup sebagai sebuah bangsa. Itulah pandangan, prinsip, ajaran dan keyakinannya bangsa Indonesia tentang kemerdekaan. Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, bahwa penjajahan harus dihapuskan dari atas dunia dan bahwa penjajahan itu tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan. Inilah akar dari keindonesiaan kita. Akar dari segala hal yang berkenaan dengan perikehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Pandangan hidup tentang kemerdekaan ini jugalah yang melahirkan ajaran Bhineka Tunggal Ika yang telah memberi bentuk kepada kepribadian bangsa Indonesia. Di atas prinsip ini pula Pancasila lahir sebagai dasar yang mempersatukan keragaman dan perbedaan kita. Yang dengan inilah kita akan menjadi sebuah bangsa yang berakhlak luhur. Bangsa yang tidak akan mengambil atau merugikan hak siapapun. Bangsa yang berlaku adil terhadap siapapun. Dan menjadi bangsa yang akan terus berjuang untuk terwujudnya keadilan di atas dunia. Maka benarlah Bung Karno ketika berkata: “Alangkah sempurnanya ia melukiskan kita punya pandangan hidup”.

 

Aline 2 - Tujuan Hidup Kita Sebagai Sebuah Bangsa.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Ya, itulah kita punya tujuan hidup sebagai sebuah bangsa. Inilah cita-cita perjuangan pergerakan kemerdekaan kita. Inilah visi kemerdekaan kita. Bahwa kita hendak mendirikan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu berdaulat, adil dam makmur. Keberadaan tujuan hidup atau visi kemerdekaan yang jelas ini akan dapat membuat kita terus melihat dan mengukur seberapa jauh sudah perkembangaan bangsa dan negara kita. Mengukur seberapa bagus sudah persatuan kita, seberapa bagus sudah kita kedaualatan kita, dan sebarapa bagus sudah kita dalam hal keadilan dan kemakmuran. Dan tentu ini ditetapkan bukanlah sekedar agar kita punya tujuan hidup atau sekedar punya visi kemerdekaan, melainkan ini adalah pengejawantahan dari pandangan hidup kita tentang kemerdekaan itu sendiri. Dimana bagi kita, menjadi benar-benar merdekanya bangsa Indonesia itu adalah ketika kita sepenuhnya hidup dalam kondisi yang adil dan makmur. Bagi kita, Proklamasi barulah menghantar kita kepada alam kemerdekaan saja dan belumlah benar-benar membuat kita merdeka secara utuh dan lengkap.

Dengan adanya tujuan hidup yang jelas dan terang ini, kita menjadi punya tahapan-tahapan yang jelas untuk membangun bangsa dan menata negara. Kepadanya itulah kita arahkan fokus dari pada kerja dan perjuangan kita dalam menata bangsa dan negara. Ia seperti anak tangga yang harus kita tapaki satu demi satu. Dengannya kita tahu bahwa fokus utama kita setelah merdeka adalah membangun Negara Indonesia yang bersatu. Karenanya berbagai program dan kebijakan negara harus haruslah mengarah ke sana. Kita tidak bisa berjalan menyimpang dari ini dan mengabaikan tahapan-tahapan tersebut. Kita harus konsern kepadanya. Maka ketika kita mendapati negara tidak memiliki program dan kebijakan yang jelas untuk membangun Negara Indonesia yang bersatu ini, dapatlah kita sebut bahwa kita telah lalai dan menyimpang dari jalan yang digariskan.

Pesatuan yang hendak kita bangunpun bukanlah sembarang persatuan. Persatuan yang hendak kita bangun adalah persatuan yang berdiri di atas ajaran kemerdekaan. Berdiri di atas kesadaran bhineka tunggal ika. Persatuan yang mempersaudarakan bangsa Indonesia yang berbeda-beda suku, ras, agama dan golongan ini dalam satu kesatuan bangsa. Persatuan yang membuang jauh perselisihan antar suku, pertengkaran antar agama dan pertikaian antar golongan. Dari itulah kita harus terus melihat sudah seberapa rukunkah suku-suku yang berbeda itu, sudah seberapa damaikah agama yang berbeda-beda itu, dan sudah seberapa harmoniskah golongan-golongan yang berbeda-beda itu. Jika bangsa ini masih diwarani denga konflik, pertikaian dan pertengkaran, haruslah kita mengevaluasi kembali letak persoalannya dan merumuskan program-program untuk memperbaikinya berdasarkan kepada nilai-nilai yang kita punya. Demikianlah terus kita tanpa henti mewujudkan Negara Indonesia yang bersatu itu.

Seberapa bagusnya persatuan yang telah kita capai itulah yang kemudian sangat menentukan dapat seberapa bagusnya kita membangun Negara Indonesia yang berdaulat. Tanpa persatuan yang baik, kita tidak akan pernah dapat mencapai kedaulatan yang baik pula. Persatuan adalah syarat dan adalah kunci terwujudnya kedaulatan itu. Berdaulat ke dalam dan berdaulat ke luar. Berdaulat ke dalam berarti seluruh penyelenggaraan bangsa dan negara ini benar-benar berorientasi kepada kepentingan dan kesejahteran rakyat. Para pemimpin bangsa benar-benar harus menempatkan diri sebagai pelayan bangsa yang bertugas untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Dan hal itu hanya dapat terwujud jika rakyat telah bersatu dengan baik. Sebab dari rakyatlah sebenarnya semua bermula. Rakyatlah yang memilih siapa para wakil yang akan berdiri mewakili suara dan kepentingannya dan rakyat pulalah yang menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Dimana semua proses tersebut berjalan melalui sebuah sistem sebagaimana dijelaskan dalam sila ke 4 Pancasila. Sistem tersebut hanya dapat berjalan ketika rakyat bersatu dengan baik, tapi jika rakyat Indonesia tercerai berai, tentu akan sangat mudah sistem tersebut dipermaikan dan dimanipulasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Adapun tentang kedaulatan ke luar, akan sangat mudahlah kita diwujudkan jika kedaulatan ke dalam sudah terwujud.

Dari Deklarasi Kemerdekan kita ini kita menjadi tahu bahwa semestinya nation building dari pada bangsa Indonesia ini harus kuat berfokus kepada membangaun kesatuan dan kedaulatan itu. Itulah kunci dari pada terwujudnya Negara Indonesia yang adil dan makmur. Dan dari ini benarlah ketika Bung Karno berkata: “Alangkah sempurnanya ia melukiskan –kita punya tujuan hidup”.

 

Aline 3 - Falsafah Hidup Kita Sebagai Sebuah Bangsa.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Ya, itulah kita punya falsafah hidup sebagai sebuah bangsa. Dimana bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang menyadari betul bahwa kepada Allah Yang Maha Kuasa-lah kita harus menggantungkan kehidupan kita. Kita mengerti betul bahwa tiadalah kita akan berhasil mencapai apapun jua tanpa rahmat-Nya. Karennya itulah kita harus selalu dan senantiasa mengambil jalan yang direstui dan diridhoi oleh-Nya. Kita tidak boleh menyimpang dari jalan dan ketentuan yang telah digariskan oleh-Nya itu. Kepada-Nya kita menggantungkan segala cita-cita dan harapan kita sebagai sebuah bangsa.

Di sini yang lain, kita juga adalah sebuah bangsa yang sadar betul bahwa di tangan kita pula nasib kita itu berada. Kita meyakini betul bahwa tiadalah Allah akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mau menggalang usaha untuk merubahnya. Kita tidak bisa hanya menunggu belas kasih Tuhan tanpa mau dan berani untuk mengambil tantangan yang dihadirkan kehidupan kepada kita. Diisi oleh falsafah hidup yang demikian itulah kita harus berjalan membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia. Dengan mengandal kekuatan dan tenaga kita sendiri dan dengan memastikan bahwa kita berjalan di dalam keridhoan-Nya.

Proklamasi kemedekaan adalah sebuah bukti bagaimana falsafah itu telah bekerja. Pernyataan kemerdekaan kita pada 17 Agustus 1945 merekam dengan nyata bagaimana sebuah usaha haruslah didasari kepada dorongan yang luhur; dorongan yang dirihoi oleh Allah Yang Maha Kuasa agar dirahmati oleh-Nya. Ketika kita berjuang mengusir penjajah tidaklah kita melalukan itu dalam niat yang lain selain dari dilandasi oleh sebuah dorongan yang luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, dimana memanglah itu fitrah yang dihendaki oleh-Nya. 

Dengan falsafah hidup itulah bangsa ini harus berjalan sekarang dan selamanya. Kita tidak boleh keluar dari falsafah hidup kita ini karena hanya di dalamnyalah ada jaminan rahmat-Nya itu. Maka benarlah ketika Bung Karno berkata: “Alangkah sempurnanya ia melukiskan –kita punya falsafah hidup”.
 

Aline 4 - Rahasia Hidup dan Pegangan Hidup Kita Sebagai Sebuah Bangsa

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Ya, itulah kita punya rahasia dan pegangan hidup sebagai sebuah bangsa. Di dalam aline 4 Deklarasi Kemerdekaan inilah tersimpan sebuah rahasia dan pegangan hidup untuk meyelenggarakan kemerdekaan kebangsaan kita. Tentu ketika kita mendirikan Negara Indonesia tidaklah sekedar yang penting punya negara. Tapi negara itu harus menjadi sebuah alat yang benar-benar mampu mewujudkan kemerdekaan kebangsaan kita itu. Dan untuk itulah pemerintah yang harus dibentuk adalah suatu pemerintah yang benar-benar dapat melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, benar-benar dapat memajukan kesejahteran umum, benar-benar dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan benar-benar dapat ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Pemerintah Negara Indonesia itulah yang kepadanya diserahkan titah untuk menyelenggarakan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia dengan sebenar-benarnya. Karenanya itu harus ia dibekali dengan sebuah Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang disusun untuk mewujudkan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu. Di dalam UUDNI inilah diformulasikan suatu susunan Negara Republik Indonesia. Dimana Negara Republik Indonesia itu harus menjadi sebuah negara yang berkeadulatan rakyat dan berdasarkan kepada Pancasila. Jadi, Negara Republik Indonesia yang berkeadaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Pancasila inilah pengejawantahan dari pada Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu. NRI yang berkeadulan rakyat dengan berdasarkan kepada Pancasila inilah yang akan menjadi alat bagi bangsa Indonesia untuk menggenapi revolusi bangsanya dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dan mewujudkan ketertiban dunia atau persaudaraan bangsa-bangsa yang berdasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dan dengan tergenapinya cita-cita revolusi Indonesia itu maka menjadi sempurnalah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu.

Dan dengan mengacu kepada keterangan ”maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”, maka berdasarkan UUD’45 yang adalah UUDNI mula-mula itu kita akan mendapati sebuah rumusan penyelenggaraan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam susunan seperti yang dilukiskan oleh lambang resmi Negara Indonesia Garuda Pancasila seperti di bawah ini:

 

 

 

Bagian demi bagian atau lapisan demi lapisan dari yang paling luar sampai yang terdalam dari pada susunan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia adalah:

  • NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). NKRI adalah Negara Republik Indonesia yang berkeadulan rakyat yang dimaksud pada alinea 4 Deklarasi Kemerdekaan Indonesia itu (lihat ayat 1, pasal satu dari bab 1 UUD’45). Ini adalah bagian atau lapisan terluar dari pada susunan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia. NKRI ini adalah pengejawantahan paling nyata dari pada Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu. Padanyalah kita akan dapat melihat, merasakan dan bersentuhan dengan karakteristik Indonesia. Dengan kepribadiannya Indonesia. Dalam istilah Catur Murti ia adalah perbuatannya bangsa Indonesia. Dimana penyelenggaran NKRI inilah bentuk dari amal shaleh-nya bangsa Indonesia yang akan sangat menentukan nasib dan keadaan bangsa kita. Baik-buruknya penyelenggaraan NKRI ini akan tercermin langsung pada baik-buruknya kondisi bangsa. Atau kalau kita meminjam istilah dalam psikologi, ia adalah ‘behavior’ atau akhlaknya bangsa Indonesia. Dimana melalui penyelenggaran NKRI itu pulalah kita dapat melihat seberapa baiknya akhlak bangsa Indonesia. Jika masih banyak korupsi, jika masih banyak orang miskin yang terlantar, jika masih banyak kejahatan dan jika masih banyak ketidak-adilan, maka berarti kita masih bermasalah dengan keshalehan kita. Bermasalah dengan akhlak kita sebagai sebuah bangsa.

    Dan baik-buruknya penyelenggaran NKRI ini sangatlah bergantung dengan seberapa baiknya UUDNI yang kita punya dan seberapa baiknya UUDNI itu kita selenggarakan dalam NKRI. Karena UUDNI ini adalah bagian atau lapisan yang mendasari langsung dari pada penyelenggaraan NKRI itu.
  • UUD’45. Undang-Undang Dasar 1945 adalah UUDNI yang dimaksud pada alinea 4 Deklarasi Kemerdekaan Indonesia itu. Karena ia adalah UUD mula-mula yang menjadi UUD-nya-NI. Dan apapun nama UUDNI yang kita gunakan hari ini, seperti UUD2002 misalnya, tetaplah ia akan dan harus kita sebut sebagai UUD’45 itu. Karena sebenarnya ia adalah jiwa yang sama yang terus berkembang menurut keadaan zamannya. UUD’45 inilah lapisan yang mendasari secara langsung penyelenggaraan NKRI itu. Ia adalah pengejawantahan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia dalam bentuk UUD. Dalam istilah Catur Murti ia adalah perkataannya bangsa Indonesia. Dia adalah komitmen, tekad dan rencana berkehidupannya bangsa Indonesia. Dia adalah blue print dari pada pembangunan NKRI. Dari situlah tercermin kerakteristik atau kepribadiannya bangsa Indonesia itu. Atau jika kita menggunakan istilah dalam psikologi, ia adalah ‘Self Rule’-nya bangsa Indonesia. Ia adalah hukum atau peraturan yang terbentuk langsung dari isi jiwanya bangsa Indonesia. Dia bukan sebuah peraturan yang kita pinjam dari pihak luar. Dia bukan peraturan yang didiktekan bangsa lain kepada kita. Dia bukan pula peratuaran yang kita susun tanpa melihat isi jiwa dari bangsa Indonesia itu sendiri. Maka jika UUDNI tidaklah sejalan dengan kepribadian bangsa, menjadi salahlah itu.

    Maka kita harus senantiasa memeriksa dan memeriksa apakah memang kita telah benar-benar jujur dalam membuat peraturan. Apakah UUDNI yang kita punya hari ini telah benar-benar disusun mengikuti suara jiwa dari Indonesia itu sendiri. Karena jika ia tidak selaras dengan suara jiwa Indonesia, tidaklah akan dapat ia membawa kita kepada Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia. Karena itulah kita punya Pancasila. Dasar-dasar yang menjadi suara jiwa dari pada keindonesiaan kita. Pancasila inilah bagian atau lapisan yang mendasari secara langsung UUD’45 dan menjadi jiwa dari UUDNI itu.

  • PANCASILA. Pancasila adalah lima sila yang dimasud dalam alinea 4 Deklarasi Kemerdekaan kita itu. Dia adalah pengejawantahan Kemerdekan Kebangsaan Indonesia dalam bentuk dasar negara. Dalam istilah Catur Murti dia adalah perasaannya bangsa Indonesia. Lima perasaan yang digali langsung dari dalam kalbunya bangsa Indonesia. Rasa Ketuhanan, Rasa Kemanusiaan, Rasa Kebangsaan, Rasa Kemufakatan dan Rasa Kesejahteraan yang kemudian diterjemahkan melalui ajaran Bhineka Tunggal Ika menjadi: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Pancasila inilah perasaan-perasaan yang mengerakan penyelenggaraan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia. Atau jika kita menggunkan istilah dalam psilologi, ia adalah ‘Belief’ atau aqidahnya bangsa Indonesia. Dia adalah azas-azas yang bangsa Indonesia percayai untuk menjadi dasar penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Pancasila inilah yang menjadi dasar penyusunan UUD’45 yang sekaligus berarti menjadi dasar bagi NKRI. Kepada Pancasila melalui UUD’45-nya ini penyelenggaraan NKRI harus menselaraskan diri.

    Seperti yang kita tahu, bahwa Pancasila memanglah sebuah dasar yang sudah final buat bangsa Indonesia. Pancasila telah disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai pengejawantahan akurat akan jiwa bangsa Indonesia. Dia adalah cerminan sempurna dari pada isi kalbunya bangsa Indonesia. Hanya saja, bagaimana Pancasila dimaknai dan diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini mempunyai potensi untuk bergeser. Karena memang Pancasila ini mempunyai multi tafsir yang dapat diterjemahkan dari berbagai sudut pandang. Baik dalam konteks ia sebagai dasar statis ataupun sebagai lietstar dinamis.

    Sebenarnya bagi mereka yang memahami betul hal-hal yang mendasari lahirnya Pancasila, memang tidak akan keliru mentafsirkan Pancasila ini dalam kehidupan berbangsa. Mereka tahu persis bahwa alasan utama lahirnya Pancasila adalah karena keadaan bangsa kita yang BHINEKA dan kita ingin menjadi sebuah bangsa yang TUNGGAL. Karena itulah Pancasila lahir menghadirkan nilai-nilai yang mempertemukan kita dalam yang TUNGGAL meskipun kita BHINEKA adanya. Untuk memastikan Pancasila tetap dipandang dalam konteks yang demikian itulah maka muncul Bhineka Tunggal Ika di dalam lambang negara Garuda Pancasila. Dilukiskan dalam Garuda Pancasila tersebut Bhineka Tunggal Ika sebagai sebuah tali pita atau ajaran yang dicengkaram erat-erat oleh burung Garuda. Ini untuk menggambarkan betapa tidak mungkin kita bicara Pancasila tanpa mindset Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika inilah sebuah paham inti yang mendasari Pancasila.

  • BHINEKA TUNGGAL IKA. Bhineka Tunggal Ika adalah ajaran yang lahir dari paham Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia yang dimaksud dalam alinea 4 Deklarasi Kemerdekaan kita. Dimana paham Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu digambarkan dengan jelas pada alinea 1 Deklarasi Kemerdekaan kita. Karena itulah kita mengenal kemerdekaan kebangsaan sebagai kemerdekaan semua buat semua. Ia bukan kemerdekaan untuk satu golongan atau kelompok saja. Ia adalah kemerdekaannya seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada satu sukupun, satu agamapun dan satu golonganpun yang dihilangkan atau ditinggalkan. Itulah Bhineka Tunggal Ika itu. Sebuah ajaran yang menjadi paham inti dari pada Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia. Sebuah ajaran yang menjadi landasan lahirnya Pancasila.

    Dari sudut pandang Bhineka Tunggal Ika inilah Pancasila harus dilihat dan diterjemahakan. Karena jika kita tidak melihatnya dari sudut pandang ini, sangat mungkin Pancasila diterjemahkan secara salah dan menyimpang. Bhineka Tunggal Ika harus ada agar Pancasila dapat menjalankan perannya sebagai dasar statis yang mempersatukan keragaman bangsa Indonesia sekaligus menjadi leitstar dinamis yang memberi arah perjalan bangsa dalam bingkai persatuan itu. Lihatlah kembali penjelasan sila-sila Pancasila yang telah dijelaskan sebelumnya dalam buku ini agar kita mengerti dengan semengerti-mengertinya bahwa tidaklah mungkin kita tidak menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai inti yang melandasi Pancasila. Dalam istilah Catur Murti, Bhineka Tunggal Ika dapat kita sebut sebagai pikiran terdalam yang memberi bentuk kepada rasa jiwa bangsa. Atau kalau dalam istilah psikologi dia adalah ‘value’ (nilai) atau fitrah diri yang tertanam dalam kalbu bangsa Indonesia.
Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 256 | Added by: nasionalisme[dot]id | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar