Home » Di Bawah Bendera Revolusi - I

Sebagai Aria Bima-putera, yang lahirnya dalam zaman perjoangan, maka INDONESIA-MUDA inilah melihat cahaya hari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya. Tak senang dengan nasib-ekonominya, tak senang dengan nasib-politiknya, tak senang dengan segala nasib yang lain-lainnya.

Zaman “senang dengan apa adanya”, sudahlah lalu.

Zaman baru: zaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.

Zaman teori kaum kuno, yang mengatakan, bahwa “siapa yang ada di bawah, harus terima-senang, yang ia anggap cukup-harga duduk dalam perbendaharaan riwayat, yang barang kemas-kemasnya berguna untuk memelihara siapa yang lagi berdiri dalam hidup”, kini suda ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 1115 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-08-01 | Comments (0)

<<<sebelumnya

Untuk Islamis sejati, maka dengan lekas sahaja teranglah baginya, bahwa tak layaklah ia memusuhi faham Marxisme yang melawan peraturan meerwaarde itu, sebab ia tak lupa, bahwa Islam yang sejati juga memerangi peraturan itu; ia tak lupa, bahwa Islam yang sejati melarang keras akan perbuatan memakan riba dan memungut bunga. Ia mengerti, bahwa riba ini pada hakekatnya tiada lain daripada meerwaardenyafaham Marxisme itu!

“Janganlah makan riba berlipat-ganda dan perhatikanlah kewajibanmu terhadap Allah, moga-moga kamu beruntung!”, begitulah tertulis dalam Al Qur’an, surah Al ‘Imran, ayat 129!

Islamis yang luas pemandangan, Islamis yang mengerti akan kebutuh­an-kebutuhan perlawanan kita, pastilah setuju akan persahabatan dengan kaum Marxis, oleh sebab ia insyaf bahwa memakan riba dan pemungutan bunga, menurut agamanya adalah ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 526 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-08-01 | Comments (0)

Di manakah tinjumu? Di manakah kekuatan yang menghancurkan segala hal yang melawan? OK Gelijk de grote ocectan doordron­gen is van het, zout, zo is mijn leer doordrenkt van de geest der bevrijding.

Huila Vagga,

Dalam “Suluh Indonesia Muda” nomor tiga, maka Ir. J. ada membentangkan pendapat-pendapatnya tentang problim agraria, yakni soal bagaimana kita bisa menolong rakyat tanah Jawa dari kemelaratan yang bertambah-tambah haibatnya itu, dan yang terjadi oleh karena makin lama makin banyaklah jumlah rakyat yang memakan hasilnya tanah Jawa itu. Bertambah-tambahnya penduduk itu adalah terjadi oleh karena jumlah orang meninggal dunia saban tahunnya ada lebih kecil daripada jumlah orang yang dilahirkan; dan oleh sebab bertambahnya rakyat ini tidak diikuti oleh tambahnya hasilnya bumi yang sepadan, maka niscayalah makin lama makin kecil sahaja bagian masing-masing orang dalam pembagian rezeki tanah Jawa itu.

Adapun banyaklah obat untuk mencegah kerasnya ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 263 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-31 | Comments (0)

A nation is, in my mind, an histor­ical group of men of a recogniz­able cohesion held together by a common enemy.

Theodor Herzl

Zentgraaff van het “Soerabaiasch Handelsblad” heeft indertijd gepropageerd de vorming van een blank front, ten einde sterker te staan tegen­over de massa van “inlanders”, die in hun diverse organisaties steeds meer voet beginnen te winnen, – ten koste van het prestige van den blanke, dat in het verleden voldoende is geweest, om den overheerscher tegen de “moordzucht en bloeddorst” der Inheemschen te beschermen.

Zijn stem is die eens roependen in de woestijn gebleven.

Ze heeft geen positieve reactie gevonden van de blanke pers in ons land. Ze kreeg van de sana-partij slechts een negatief antwoord: men wees het blanke­front-idee af. Wij kunnen de houdi ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 253 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-30 | Comments (0)

Het is niet:

Het daagt, omdat de haan kraait. Maar ten rechte is het:

De haan kraait, omdat het daagt.

… Muting, Digul, … Banda! Dan kawan kita Tjipto Mangunkusumo berangkat, membawa keluarganya, diiring oleh isterinya yang berani dan berbesar hati, – meninggalkan kita, yang buat beberapa tahun lamanya berdiri didamping-sisinya, dengan persamaan azas, persamaan tujuan, dan persamaan tindak. Buat ketiga kalinya maka Tjipto masuk ke dalam hidup-pembuangan, menjalankan hukuman yang dijatuhkan padanya oleh hak luar biasa daripada kaum yang memerintah; buat ketiga kalinya, ia mempersembahkan pengorbanannya terhadap pada Tanah-air dan Bangsa yang ia abdikan, dengan kepala yang tegak dan hati yang besar.

Dan kita, kawan-kawannya yang ia tinggalkan, kita kaum nasionalis Indonesia, kaum nasionalis Sumatera, kaum nasionalis Sunda, k ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 292 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-29 | Comments (0)

1 2 3 ... 6 7 »