Home » Di Bawah Bendera Revolusi - I

Sebagai Aria Bima-putera, yang lahirnya dalam zaman perjoangan, maka INDONESIA-MUDA inilah melihat cahaya hari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya. Tak senang dengan nasib-ekonominya, tak senang dengan nasib-politiknya, tak senang dengan segala nasib yang lain-lainnya.

Zaman “senang dengan apa adanya”, sudahlah lalu.

Zaman baru: zaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.

Zaman teori kaum kuno, yang mengatakan, bahwa “siapa yang ada di bawah, harus terima-senang, yang ia anggap cukup-harga duduk dalam perbendaharaan riwayat, yang barang kemas-kemasnya berguna untuk memelihara siapa yang lagi berdiri dalam hidup”, kini suda ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 608 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-08-01 | Comments (0)

<<<sebelumnya

Untuk Islamis sejati, maka dengan lekas sahaja teranglah baginya, bahwa tak layaklah ia memusuhi faham Marxisme yang melawan peraturan meerwaarde itu, sebab ia tak lupa, bahwa Islam yang sejati juga memerangi peraturan itu; ia tak lupa, bahwa Islam yang sejati melarang keras akan perbuatan memakan riba dan memungut bunga. Ia mengerti, bahwa riba ini pada hakekatnya tiada lain daripada meerwaardenyafaham Marxisme itu!

“Janganlah makan riba berlipat-ganda dan perhatikanlah kewajibanmu terhadap Allah, moga-moga kamu beruntung!”, begitulah tertulis dalam Al Qur’an, surah Al ‘Imran, ayat 129!

Islamis yang luas pemandangan, Islamis yang mengerti akan kebutuh­an-kebutuhan perlawanan kita, pastilah setuju akan persahabatan dengan kaum Marxis, oleh sebab ia insyaf bahwa memakan riba dan pemungutan bunga, menurut agamanya adalah ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 319 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-08-01 | Comments (0)

Di manakah tinjumu? Di manakah kekuatan yang menghancurkan segala hal yang melawan? OK Gelijk de grote ocectan doordron­gen is van het, zout, zo is mijn leer doordrenkt van de geest der bevrijding.

Huila Vagga,

Dalam “Suluh Indonesia Muda” nomor tiga, maka Ir. J. ada membentangkan pendapat-pendapatnya tentang problim agraria, yakni soal bagaimana kita bisa menolong rakyat tanah Jawa dari kemelaratan yang bertambah-tambah haibatnya itu, dan yang terjadi oleh karena makin lama makin banyaklah jumlah rakyat yang memakan hasilnya tanah Jawa itu. Bertambah-tambahnya penduduk itu adalah terjadi oleh karena jumlah orang meninggal dunia saban tahunnya ada lebih kecil daripada jumlah orang yang dilahirkan; dan oleh sebab bertambahnya rakyat ini tidak diikuti oleh tambahnya hasilnya bumi yang sepadan, maka niscayalah makin lama makin kecil sahaja bagian masing-masing orang dalam pembagian rezeki tanah Jawa itu.

Adapun banyaklah obat untuk mencegah kerasnya ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 169 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-31 | Comments (0)

A nation is, in my mind, an histor­ical group of men of a recogniz­able cohesion held together by a common enemy.

Theodor Herzl

Zentgraaff van het “Soerabaiasch Handelsblad” heeft indertijd gepropageerd de vorming van een blank front, ten einde sterker te staan tegen­over de massa van “inlanders”, die in hun diverse organisaties steeds meer voet beginnen te winnen, – ten koste van het prestige van den blanke, dat in het verleden voldoende is geweest, om den overheerscher tegen de “moordzucht en bloeddorst” der Inheemschen te beschermen.

Zijn stem is die eens roependen in de woestijn gebleven.

Ze heeft geen positieve reactie gevonden van de blanke pers in ons land. Ze kreeg van de sana-partij slechts een negatief antwoord: men wees het blanke­front-idee af. Wij kunnen de houdi ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 172 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-30 | Comments (0)

Het is niet:

Het daagt, omdat de haan kraait. Maar ten rechte is het:

De haan kraait, omdat het daagt.

… Muting, Digul, … Banda! Dan kawan kita Tjipto Mangunkusumo berangkat, membawa keluarganya, diiring oleh isterinya yang berani dan berbesar hati, – meninggalkan kita, yang buat beberapa tahun lamanya berdiri didamping-sisinya, dengan persamaan azas, persamaan tujuan, dan persamaan tindak. Buat ketiga kalinya maka Tjipto masuk ke dalam hidup-pembuangan, menjalankan hukuman yang dijatuhkan padanya oleh hak luar biasa daripada kaum yang memerintah; buat ketiga kalinya, ia mempersembahkan pengorbanannya terhadap pada Tanah-air dan Bangsa yang ia abdikan, dengan kepala yang tegak dan hati yang besar.

Dan kita, kawan-kawannya yang ia tinggalkan, kita kaum nasionalis Indonesia, kaum nasionalis Sumatera, kaum nasionalis Sunda, k ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 199 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-29 | Comments (0)

Di bawah kepala “Dubbele Les” maka kita membaca dalam “De Indische Courant” tanggal 12 Januari pemandangan-pemandangan di bawah ini:

“Ter bestrijding van de actie der zogenaamde “Indonesische” nationalisten is den laatsten tijd nog al eens gewezen op het agglomeraat van volksgroepen met verschillend ontwikkelingspeil, dat “uitsluitend en alleen door ons Nederlandsch bestuur wordt tezamen gebonden en gehouden als de bevolking van Nederlandsch-Indie.”

Er kan daarom – zoo wordt gezegd – niet gesproken worden van een Indonesisch yolk in onzen archi­pel en zelfs niet van eenig saamhoorigheidsgevoel onzer Inlandsche bevolking wordt dan als een specifiek Nederlandsch-Indisch verschijnsel opgevat.

Vergeten wordt, dat dezelfde opmerking aangaande verschil van stam, godsdienst, zeden en gewoonten, tongval en ontwikkelingspeil kan gelden voor tientallen andere volken der wereld, welke desniettemin als nationa ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 162 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-29 | Comments (0)

Soal jajahan adalah soal rugi atau untung; soal ini bukanlah soal kesopanan atau soal kewajiban; soal ini ialah soal mencari hidup, soal business.

Semua teori-teori tentang soal-jajahan, baik yang mengatakan bahwa penjajahan itu terjadinya ialah oleh karena rakjat yang menjajah itu ingin melihat negeri asing, maupun yang mengatakan bahwa rakjat per­tuanan itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja, baik yang mengata­kan bahwa rakyat pertuanan itu menjajah negeri lain ialah oleh karena negerinya sendiri lantaran banyaknya penduduk hingga terlalu sesak, maupun yang mengatakan bahwa penjajahan itu diadakannya ialah untuk menyebar kesopanan, – semua teori-teori itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan, bahwa soal jajahan ialah soal rezeki, soal yang berdasar ekonomi, soal mencari kehidupan.

Tak kecil kerugian ekonomi Inggeris, bilamana Mesir atau India dapat memerdekakan diri; tak sedikitlah kerugian rezeki Perancis dan Amerika, bilamana Indo-China dan Philippina bisa menjadi bebas; tak ternilailah kerugian yang diderita oleh negeri Belanda, bilama ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 175 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-28 | Comments (0)

Pembaca sudah mengetahui semuanya:

Ir. A. Baars yang kita semua mengenalnya sebagai salah seorang penyebar benih Marxisme di Indonesia, yang berhubung dengan aksi revolusioner dalam tahun 1917 dikeluarkan dari jabatan Gupermen, yang sudah enam tahun ini tidak boleh menginjak Indonesia yang sesudah jatuhnya ia punya externering lantas masuk dalam dinasnya pemerintah Soviet, … Ir. A. Baars ini belum selang berapa lama telah menulis be­berapa karangan dalam surat-surat-kabar “S.I.D. de Preangerbode” dan “Surabajaasch Handelsblad”, dengan ini menunjukkan, bahwa ia kini, oleh pengalaman-pengalamannya di negeri Rusia, sudah “bertobat” dari faham, yang bertahun-tahun menyerapi budi-akalnya: komunisme.

Berkali-­kali ia dalam tulisan itu memperingatkan kita, janganlah kita mendekati komunisme itu; berkali-kali ia mengatakan, bahwa apa yang ia alami di Rusia itu hanyalah kekalutan dan kesengsaraan sahaja. Dan dengan ucapan, bahwa ia punya “meegevoelen sympathie”, ia punja rasa-cinta terhadap pada penduduk Indonesia masih “belum kurang keku ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 193 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-27 | Comments (0)

Mohammad Hatta, Abdul Madjid Djojo Adhiningrat, Mr. Ali Sastroamidjojo dan Muhammad Nasir Datuk Pamuntjak, – empat nama orang muda, pemimpin “Perhimpunan Indonesia” di negeri Belanda, yang di dalam pengabdiannya terhadap pada Ibu-Indonesia, di dalam usahanya memimpin suatu perhimpunan yang mengejar kemerdekaan tanah-air dan bangsa, di dalam perjoangannya menganjuri segolongan pemuda-pemuda yang membela hak dan keadilan, sama mendapat cobaan dan memikul cobaan itu dengan ketetapan-hati dan kegagahan-sikap.

Digeledah rumahnya berkali-kali, ditahan di dalam penjara berbulan-bulan, dituntut di muka hakim di dalam bulan Puasa, bulan perdamaian; didakwa melanggar artikel 131 hukum siksa negeri Belanda, menghasut berontak pada kekuasaan Belanda dengan memuatkan tulisan-tulisan di dalam majalah “Indonesia Merdeka” nomor Maret-April 1927, – maka tiada satu tanda-kelembekan yang tampak di dalam mereka punya kata dan mereka punya jawab, tiada satu kelembekan yang terdengar atau terbaca di dalam mereka punya pembelaan-diri di muka hakim.

Teguh, yakin dan teranglah sikap dan ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 173 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-26 | Comments (0)

Di dalam surat-kabar “Keng Po” 9 Juli yang lalu, dimuat suatu telegram yang berbunyi: “Kemaren fihak Tionghoa dan Indonesiers, antaranya Ir. Sukarno dan Dr. Samsi, telah merayakan kemerdekaannya kaum nasionalis di Tiongkok …”

Telegram ini adalah benar. Pesta perayaan itu memang sudah terjadi; kaum Indonesia memang sudah ikut merayakan kemenangannya fihak nasionalis di Tiongkok. Di dalam perayaan ini adalah terbukti dengan terang, bagaimana kini sudah mulai sadar rasa persatuan dan rasa per­saudaraan antara bangsa Tionghoa dan bangsa Indonesia, yakni sama­-sama bangsa Timur, sama-sama bangsa sengsara, sama-sama bangsa yang sedang berjoang menuntut kehidupan yang bebas.

Kita, kaum nasionalis Indonesia, kita bersuka-syukur di atas kesadaran ini, kita berbesar-hati, yang propaganda kita ke arah Pan-Asiatisme sudah mulai berkembang. Kita memang sudah dari dulu mengetahui dan per­caya, bahwa faham Pan-Asiatisme ini pasti dapat hidup dan bangkit di dalam pergerakan kita. Sebab persatuan nasib antara bangsa-bangsa Asia pastilah melahirkan persatuan perangai; persatuan ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 210 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-25 | Comments (0)

1 2 3 4 »