Home » 2016 » August » 4 » Bhineka Tunggal Ika di Zaman Rasulullah
11:53 AM
Bhineka Tunggal Ika di Zaman Rasulullah
 

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.  (QS. Al-Anfaal [8]:61)

Ayat tersebut di atas sangat menguatkan pemahaman kita bahwa Islam itu adalah agama yang sangat menghormati dan menjunjung tinggi perdamaian. Bahkan perdamaian itu sendiri adalah sesuatu yang mutlak menjadi bagian dari cita-cita Islam. Mereka yang memahami Islam tentu sangat tahu bahwa Islam tidaklah membenarkan kekerasan, perpecahan, permusuhan, pembunuhan dan peperangan. Atas dasar ini menjadi pentinglah bagi kita untuk memperhatikan dengan seksama lantaran sebab apakah di dalam sejarah peradaban Islam kita mendapati begitu banyak sekali diwarnai oleh peperangan dan penaklukan? Yang mana jika hal itu kita cermati dengan teliti, kita akan mendapati bahwa sebenarnya perang dan penaklukan yang dijalankan oleh Islam adalah hal yang terjadi lantaran keterpaksaan yang tidak bisa dihidari akibat kondisi dan keadaan zaman.

Seperti yang kita ketahui bahwa Islam hadir di zaman jahilyah; zaman dimana kadar kebinatangan manusia masih begitu tinggi; zaman dimana manusia hidup bergolong-golongan dalam suku-suku dan bangsa-bangsa yang satu sama lain saling takluk menaklukan. Di zaman itu perbedaan cenderung berarti sama dengan permusuhan. Manusia pada masa itu belum mampu untuk menerima dan bertoleransi atas keberagaman dan perbedaan. Dorongan manusia untuk menjadi golongan atau kelompok yang paling unggul, yang paling berkuasa dan yang paling dominan masihlah demikian tingginya sehingga setiap golongan harus berpikir untuk menundukan, mengalahkan dan menaklukan golongan lain di bawah kekuasaan golongannya. Perang di zaman itu adalah budaya hidup yang pandang sebagai sesuatu yang membanggakan dan merupakan jalan kemuliaan. Semakin besar dan luas penaklukan yang berhasil dicapai oleh suatu golongan semakin agunglah golongan itu dipandang. Di zaman itu tidak ada satu golongan pun yang dapat menghindari perang dan penaklukan. Mereka yang tidak memerangi pastilah akan diperangi dan mereka yang tidak menaklukan pastilah akan ditaklukan. Keadaan zaman yang demikian itu membuat tidaklah mungkin bagi Islam untuk menghindari peperangan seberapapun inginnya Islam menghindari itu.

Budaya mempertumpahkan darah, budaya saling bunuh, saling memerangi sesungguhnya bukanlah sebuah budaya atau sebuah cara yang dikehendaki Allah untuk menjadi budayanya umat manusia. Dan tentu pastilah Islampun tidak menghendaki dan tidak membenarkan hal yang demikian itu. Amat nyata bagi kita betapa Allah itu menghendaki sebuah tatanan kehidupan umat manusia yang bersatu, bersaudara, berkasih sayang, bergotong royong serta saling berbagi dan saling menopang. Amat nyata pula bagi kita betapa Islam adalah agama yang hadir untuk membawa manusia kepada keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan bersama. Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi semesta alam. Tentang hal ini harus benar-benar jelas sejelas-jelasnya dan sejernih-jernihnya bagi kita semua, agar tidak ada dari kita yang masih menganggap bahwa perang adalah bagian dari ajaran Islam. Agar tidak ada dari kita yang berpandangan bahwa menegakkan Islam itu haruslah dengan jalan perang dan penaklukan. Tidak. Sejatinya Islam itu hadir membawa panji-panji perdamaian.

Benar memang bahwa terdapat banyak sekali peperangan dalam sejarah peradaban Islam; dan tidak sedikit pula peperangan yang terjadi di sepanjang masa kehidupannya Rasulullah Muhammad saw. Di sinilah kita harus mengkaji lagi dan lagi sampai kita mengerti bahwa tiadalah sedikitpun Islam dan Nabi Muhammad saw. menghendaki peperangan itu terjadi. Kalau saja semua itu pada masa itu bisa dihidari tentu pastilah akan dihindarinya.

Ada sebuah peninggalan Islam yang amat luar biasa yang tentu haruslah kita bersama mencermatinya, agar darinya itu kita menjadi tahu peradaban seperti apa; tatanan kehidupan yang bagaimana sebenarnya yang Islam cita-citakan itu. Peninggalan tersebut adalah Piagam Madinah. Piagam Madinah ini menjadi sebuah bukti nyata betapa Islam benar-benar menghendaki sebuah peradaban yang condong kepada perdamaian. Betapa Islam benar-benar menghendaki sebuah tatanan berkehidupan yang benar-benar berkeadilan sosial.

Dari tatanan Piagam Madinah kita mengerti bahwa Islam bukanlah agama yang berpihak kepada satu golongan saja. Islam bukanlah agama yang otoriter. Islam bukanlah agama yang merendahkan satu golongan di bawah golongan lainnya. Islam bukanlah agama yang tidak memperhitungan warna dan corak masyarakat yang ada di dalamnya. Islam benar-benar sebuah agama yang utuh dan secara menyeluruh menyentuh rasa keadilan setiap orang dan setiap bagian dari masyarakat yang ada di dalamnya.

Dari tatanan masyarakat Piagam Madinah itu kita tahu bahwa Islam benar-benar cinta perdamaian dan benar-benar tidak menghendaki permusuhan dan peperangan. Masyarakat Madinah yang beragam itu; yang berbeda-beda sukunya itu, yang berbeda-beda golongannya itu, yang berbeda-beda agamanya itu dirangkul secara menyeluruh dalam sebuah perjanjian yang disusun dalam permusyawaratan yang melibatkan setiap pemuka dari tiap-tiap golongan yang ada. Masyarakat Madinah yang majemuk itu dipersatukan sebagai satu kesatuan ummat dalam sebuah perjanjian yang disepakati bersama yang kita kenal dengan Piagam Madinah itu. Di dalam Piagam Madinah itu tiap-tiap orang dan golongan dijamin hak-haknya secara berkeadilan. Setiap suku diberi kebebasan untuk tetap menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang mereka punya dalam sukunya itu. Tiap-tiap agama diberi kebebasan untuk beribadah dan menjalankan keyakinan agama yang mereka imani itu. Kita tidak melihat ada sedikitpun paksaan dalam beragama. Kita tidak menyaksikan ada satu pun pihak yang tidak dihormati hak-haknya secara berkeadilan. Setiap orang didudukan dalam kesetaraan di hadapan hukum bersama. Mereka yang berbuat zalim akan menerima hukuman atas kezalimannya itu dan mereka yang berbuat kebaikan pun akan menerima balasan atas kebaikan yang dilakukannya itu. Tidak ada yang lebih direndahkan atau lebih ditinggikan dihadapan hukum.  

Dapat kita katakan bahwa Piagam Madinah ini sebenarnya merupakan sebuah revolusi peradaban umat manusia. Ini adalah sebuah tatanan masyarakat yang berbeda. Inilah model dari sebuah tatanan dunia baru yang dikehendaki Rasulullah Muhammad saw. Sebuah tatanan yang tidak berdiri di atas penaklukan. Sebuah tatanan yang tidak tumbuh di atas eksploitasi satu golongan terhadap golongan lain. Sebuah tatanan yang tidak dibentuk melalui paksaan penyeragaman. Sebuah tantanan yang menghormati segala perbedaan dan merangkul setiap bagian yang berbeda-beda itu dalam satu kesatuan ummat yang bersaudara. Tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang dizalimi. Semua orang dan setiap bagian dinaungi oleh hukum yang berkeadilan sosial. Inilah sebuah model kehidupan yang berbhineka tunggal ika itu. Inilah sebuah bentuk tatanan agama tauhid itu.

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.  (QS. Ash Shaff [61]:9)

Dari semua itu, maka janganlah lagi ada dari kita yang keliru menafsirkan firman Allah tersebut atas. Janganlah lagi kita menyangka bahwa memenangkan agama yang benar itu adalah mesti harus dengan jalan penaklukan dan pendudukan. Janganlah lagi kita mengira bahwa memenangkan agama yang benar itu adalah mesti harus dengan jalan perang dan pemaksaan. Tidak! Memenangkan agama yang benar itu adalah mewujudkan tatanan kehidupan bersama yang berkeadilan. Memenangkan agama yang benar itu adalah mewujudkan sistem berkehidupan yang dapat merangkul segala perbedaan dalam persatuan dan persaudaraan. Ketika kita berhasil mewujudkan sebuah tatanan kehidupan yang demikian itu, ketika itulah kita telah berhasil memenangkan agama yang benar di atas segala agama-agama lainnya. Memenangkannya di atas sistem-sistem yang tidak mempersatukan, tidak mempersaudarakan dan tidak berdiri di atas dasar perikemanusiaan dan perikeadilan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.  (QS. Ar Ruum [30]:31-32)

Hanya orang-orang musyriklah yang membenci tatanan kehidupan yang berbhineka tunggal ika itu. Dan siapakah orang musyrik itu? Mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengimani Allah sebagai satu-satunya Tuhan bagi semesta alam dan seluruh umat manusia. Mereka adalah orang-orang yang tidak meyakini bahwa manusia adalah umat yang satu yang diciptakan oleh Tuhan yang sama dan diciptakan-Nya dalam fitrah yang serupa. Mereka adalah orang-orang yang cenderung pada perpecahan dan permusuhan. Mereka adalah orang-orang yang ingin menjadi golongan yang berdiri di atas golongan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghendaki persatuan dan persaudaraan dalam keberagaman. Mereka adalah orang-orang yang cenderung kepada tatanan yang dibangun diatas budaya penaklukan. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghormati dasar-dasar perikemanuisaan dan perikeadilan. Mereka adalah orang-orang yang mengingkan mengambil keuntungan dari eksploitasi dan penindasan. Mereka itu adalah orang-orang yang mengikari tatanan kehidupan yang mempersatukan dan mempersaudarakan dalam keberagaman sebagai sebaik-baiknya tatanan dan cara bagi manusia untuk membangun peradaban.

Mungkin masihlah tersisa di benak kita semua sebuah pertanyaan, jika kehidupan ala Piagam Madinah inilah yang sebenar-benarnya tatanan berkehidupan dikehendaki Islam, lalu bagaimana bisa kita menyaksikan Islam selama lebih dari seribu tahun berjalan membangun peradabannya di atas jalan perang, penaklukan dan pendudukan? Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa sepeninggalan Rasulullah Muhammad saw., lahir dan berdiri khilafah-khilafah, dinasti-dinasti dan kerajaan-kerajaan Islam yang berjalan di dalam masa yang begitu panjang membawa dan membangun peradaban Islam bersama jalan perang, penaklukan dan pendudukannya itu. Hal inilah sebenarnya yang menjadi salah satu kegelisahan Rasulullah hingga membuatnya menangis dan menyebut ummati, ummati, ummati sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk .  (QS. At-Taubah [9]:29)

Jika ditilik dari rentang sejarah perjalanan peradaban Islam yang berlangsung lebih dari seribu tahun itu, tentulah dapat kita katakan bahwa masa berlakunya Piagam Madinah bersama tatanan masyarakat madaninya yang hanya berjalan kurang dari 9 tahun lamanya itu, tergolong teramat sangat singkat. Di tahun ke-9 Hijriah, Piagam Madinah sebagai sebuah konstitusi yang mengikat seluruh masyarakat Madinah yang beragam suku dan agamanya di dalam keadilan dan kesetaraan itu, terpaksa harus dibatalkan bersamaan dengan turunnya surat At-Taubah. Seperti yang kita tahu bahwa surat At-Taubah ini membawa maklumat yang sangat bertolak belakang dengan apa yang kita temui dalam Piagam Madinah. Jika di dalam Piagam Madinah kita mendapati perikehidupan yang merangkul orang-orang kafir (orang-orang non-Islam) dan juga orang-orang musyrik (orang-orang pagan) menjadi satu kesatuan umat yang bersaudara dalam kemanusiaan dan keadilan, di dalam maklumat surat At-Taubah ini justru datang sebuah perintah untuk memutuskan hubungan dengan mereka itu. Bahkan juga terdapat maklumat yang memerintahkan untuk memerangi mereka sampai mereka tunduk dan patuh serta mengharuskan mereka membayar jizyah sebagai jaminan keamanan mereka. Sungguh kita dapati di situ sebuah pola yang amat bertentangan. Perlu juga kita ketahui bahwa di dalam tatanan Piagam Madinah itu tidak terdapat keharusan membayar jizyah bagi non-Islam. Dan bahkan perlu juga kita tahu bahwa hanya terdapat satu ayat yang berisi perintah mengambil jizyah dari keseluruhan Al-Qur’an. Satu-satunya ayat itu terletak pada ayat 29 dari surat At-taubah.

Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian).  (QS. At-Taubah [9]:8)

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui lantaran sebab apakah menjadi batalnya Piagam Madinah dan lantaran sebab apa datangnya surat At-Taubah yang berisi perintah pemutusan hubungan dan perintah memerangi orang-orang kafir dan musyrik sampai mereka membayar jizyah itu. Jadi semua terjadi lantaran sebab orang-orang kafir dan musyrik itu tidak dapat mematuhi dan memelihara perjanjian yang telah disepakati itu. Pengikaran dan pelanggaran yang mereka lakukan berkali-kali telah membuat satu-satunya pilihan yang tersisa adalah memerangi mereka. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menaklukan dan menundukan mereka secara paksa.

Dengan datangnya maklumat surat At-Taubah itu, maka secara otomatis perjanjian dalam Piagam Madinah-pun menjadi batal dan tidak berlaku lagi. Dan setelah itulah kita tahu bahwa pola tatatan, sikap politik dan haluan peradaban Islampun menjadi ikut berubah. Islam yang sejatinya hendak di tegakkan dan dibangun dalam pola tatanan, sikap politik dan haluan peradaban yang damai dan menghindari peperangan dan penaklukan serta merangkul segala bentuk perbedaan dalam satu tatanan masyarakat yang setara dalam keadilan-pun menjadi harus dan mau tidak mau dijalankan mengikuti budaya lama umat manusia, yaitu penaklukan dan pendudukan. Inilah yang kemudian kita lihat berlangsung di sepanjang sejarah peradaban Islam. Hadirlah khilafah-khilafah, dinasti-dinasti dan kerajaan-kerajaan Islam yang harus membangun beradabannya itu melalui jalan penaklukan dan pendudukan. 

Meski masa berlakunya Piagam Madinah ini tergolonga amat singkat, namun tentu tidaklah kita boleh sedikitpun lupa seperti apa sebenarnya model tatanan berkehidupan yang Islam cita-citakan. Dan meski lantaran kondisi zaman dan keadaan mentalitas manusia di masa yang lalu itu telah membuat mau tidak mau menjadi dibatalkannya Piagam Madinah, dan mau tidak mau membuat Islam harus berjalan dalam budaya penaklukan dan pendudukan, tapi hal itu tidaklah berarti bahwa budaya penaklukan dan pendudukan itu harus terus berjalan selamanya. Dan bukanlah berarti pula bahwa model tatanan berkehidupan ala Piagam Madinah itu pun harus ditinggalkan selamanya. Karena sesungguhnya budaya penaklukan dan pendudukan itu tidaklah dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah kita dapati kenapa surat At-Taubah ini menjadi satu-satunya surat yang tidak ber-basmallah. Maka tetaplah harus kita berpegang kepada apa yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla berikut ini:

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.  (QS. Al-Anfaal [8]:61)

Tetaplah perdamaian harus menjadi pilihan dan jalan utama. Maka ketika telah tiba suatu masa hadirnya suatu zaman dimana mentalitas manusia telah sampai pada tingkat kedewasaannya; ketika mentalitas manusia telah mampu untuk memelihara perjajian dengan sebaik-baiknya, maka sudah semestinyalah tatanan berkehidupan Piagam Madinah ini kembali ditegakkan. Karena sebenarnya ketiadaan basmallah pada surat At-Taubah ini menjadi sebuah tanda bahwa kehadirannya itu hanyalah sebagai masa tunda bagi berlakunya kembali tatatan berkehidupan berbhineka tunggal ika yang dicita-citakan oleh Piagam Madinah itu.

Dan semoga kiranya kita dapat memahami dan melihat sebuah tanda bahwa telah-lah tiba masa bagi berlakunya kembali tatanan kehidupan ala Piagam Madinah itu. Telah datang sebuah maklumat di zaman kita ini yang bernada sama dan berisi spirit yang serupa dengan Piagam Madinah itu. Sebuah maklumat untuk membentuk kembali sebuah tatanan berkehidupan yang mengedepankan perdamaian, yang menjunjung tinggi kesetaraan, yang berdiri di atas perikemanusiaan dan perikeadilan dan yang merangkul umat manusia dengan segala ragam beda yang mereka punya dalam satu kesatuan bangsa. Ya, itulah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia. Sebuah deklarasi yang hadir untuk menegakkan kehidupan yang berbhineka tunggal ika itu. Inilah jalan bagi kita untuk memenangakan agama yang benar di atas segala agama. Agar umat manusia benar-benar bediri di atas kehendak Tuhan yang sama dan bepijak di atas dasar fitrah kemanusiaan yang sama.

Inilah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia itu. Atau yang kita semua mengenalnya dengan nama Pembukaan UUD’1945:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 214 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar