Home » 2016 » August » 5 » Bhineka Tunggal Ika dan Ketauhidan
11:47 AM
Bhineka Tunggal Ika dan Ketauhidan

Ketauhidan tentu saja merupakan hal yang amat penting untuk kita pahami dengan baik. Karena sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa agama Islam itu sendiri sesungguhnya adalah agama tauhid. Islam tidaklah bisa dipisahkan dari ketauhidan. Walau kata tauhid itu sendiri sebenarnya kata yang tidak dapat kita temukan di dalam Al-Qur’an. Namun meski demikian, sangatlah banyak kita dapati ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan dan mengajarkan kepada kita tentang arti dan makna tauhid tersebut. Secara sederhananya kata tauhid itu sendiri berarti “menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya” yang dalam ini sesuatu yang kita maksud adalah Allah. Jadi makna tauhid itu adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Atau kita lebih sering mendengar orang mendefinisikannya dengan “mengesakan Allah”.

Mengenai mengesakan Allah ini, di dalam Al-Qur’an kita menemukan terdapat dua nama Allah yang mempunyai arti yang sama sebagai Yang Maha Esa. Yaitu ’Al-Ahad’ dan ‘Al-Wahid’.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ         = qul huwallahu ahad(un) = Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa.

 وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌۢ = walam yakun lahu kufuwan ahad = dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

إِنَّمَا اللَّهُ إِلٰهٌ وٰحِدٌ     = innama Allahu Ilahun wahidun = Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa.         

يُسْقَىٰ بِمَآءٍ وٰحِدٍ      = sinwanin yusqa bimain wahidin = disirami dengan air yang sama

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وٰحِدَةً = kanannasu ummatan wahidatan = Manusia adalah umat yang satu.

Jika kita perhatikan penggunaan kata ahad dan wahid dari kalimat-kalimat tersebut di atas, atau juga dari ayat-ayat lainnya di dalam Al-Qur’an, kita akan mendapati adanya perbedaan makna antara ahad dan wahid ini. Kata Al-ahad yang berarti Yang Maha Esa hanyalah digunakan satu kali dalam Al-Qur’an yang terdapat di surat al-Ikhlas pada ayat pertama. Yang mana, dari melihat penggunaan kata ahad  ini di dalam Al-Qur’an, dapatlah kita temukan ahad dalam kalimat ’Allahu ahad’ adalah penjelasan akan sifat Allah yang satu. ’Allahu ahad’ mempunyai makna bahwa Allah itu satu. Allah itu satu-satunya yang satu. Tidak ada yang benar-benar satu selain Allah. Ia adalah satu yang mutlak dan tidak ada yang serupa dan setara dengan Dia. Yang darinya itu kita menjadi mempunyai definisi yang dapat membawa kita kepada pengenal akan Allah. Bahwa apapun yang tidak benar-benar satu maka ia bukan Allah. Matahari itu satu. Tapi matahari itu tidaklah benar-benar satu. Ia satu jika kita merujuk kepada tata surya kita. Tapi faktanya ada miliaran matahari yang lain di alam semesta ini. Ada banyak yang serupa dengan matahari dalam tata surya kita itu. Presiden itu satu. Tapi presiden itu tidaklah benar-benar satu. Ia satu jika kita merujuk pada negara kita. Tapi faktanya ada ratusan presiden dan serupa presiden itu di dunia ini. Maka dalam konteks ini makna Allah itu esa adalah berarti bahwa Allah adalah satu dan hanya satu-satunya yang mutlak satu.

Selain kata ahad ini terdapat juga kata wahid yang sama-sama kita gunakan untuk menjelaskan Allah Yang Esa. Namun dari penggunaan kata wahid yang ada di dalam Al-Qur’an kita dapat memahami bahwa makna dari ahad dan wahid ini sebenarnya berbeda. Jika ahad merujuk kepada sifat Allah yang mutlak satu dan satu-satunya yang mutlak satu. Kata wahid ini lebih bermakna bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan bagi semua. Tidak ada Tuhan selain Allah. Baik di laut, di darat, di langit, di timur, di barat, di utara, di selatan dan di manapun hanya Allah saja Tuhannya. Tidak ada Tuhan lain. Dialah Tuhan semesta alam. Dialah Tuhannya Adam, Dialah Tuhanya Nuh, Dialah Tuhanya Ibrahim, Dialah Tuhannya Musa, Dialah Tuhanya Muhammad, dan Dialah Tuhannya seluruh umat manusia. Yang darinya itu kita menjadi mengerti bahwa Allah haruslah Ia menjadi Tuhan yang satu dan sama bagi kita semua. Hanya Dialah Tuhan kita semua. Mari kita perhatikan ayat berikut ini:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"  (QS. Al-A’Raf [7]:172)

Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa seluruh manusia dan tidak ada seorang manusia pun yang terlahir tanpa Allah ambil kesaksian terhadap jiwanya bahwa Allah adalah Tuhannya. Dan tentu tidaklah kita menyangkal bahwa ada nurilahi di dalam jiwa setiap manusia itu. Setiap manusia sesungguhnya merindukan dan mencari Tuhan yang sama dan satu itu. Hanya saja ada yang dapat menemukan dan mengenali-Nya, ada pula yang tidak. Ada yang mengenali-Nya dengan sebaik-baiknya pengenalan, dan ada pula yang tidak. Namun demikian tidaklah boleh kita mendustakan bahwa ada cahaya dan suara kebenaran yang sama di dalam diri setiap manusia itu. Karena pada hakekatnya Allah Dialah satu-satunya Tuhan seluruh umat manusia.

Kita sama-sama tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang sudah dikenal sejak zaman Nabi Adam as. Tapi sebagaimana yang kita tahu pula, ada begitu banyak nabi yang diutus lagi dan lagi di sepanjang peradaban umat manusia ini. Dan para nabi yang diutus itupun, mengajarkan dan mengingatkan kita lagi dan lagi akan hal yang sama. Keesaan Allah itu. Jadi, dimanakah letak pentingnya para nabi itu harus datang lagi dan lagi untuk mengingatkan manusia akan keesaan Allah itu? Coba kita perhatikan diantara kita umat Islam sendiri. Seluruh umat Islam yang ada di dunia ini tentulah sama-sama tahu bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa. Tapi tahukan kita bahwa meskipun kita sama-sama mengakui Allah sebagai Tuhan, tapi toh begitu amat banyak perselisihan dan permusuhan di antara kita umat Islam itu sendiri. Kenapa hal itu dapat terjadi? Hal ini sebenarnya terjadi lantaran sebab kita belum benar-benar memahami hakekat dari keesaan Allah itu. Dengan tegas harus kita katakan bahwa perpecahan yang terjadi di antara kita benar-benar sebuah bukti nyata bahwa kita belum memahami keesaan Allah. Karena suatu yang pasti terjadi ketika kita telah sama-sama memahami keesaan Allah ini adalah pastilah kita akan menjadi ummat yang satu dan bersaudara. Coba kita perhatikan juga ayat di bawah ini:

  إِنَّ هٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Inna hadzihi ummatukum ummatan wahidatan wa ana rabbukum. fa’budun

Tafsir Depag:

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.  (QS. Al-Anbiya [21]:92)

Terjemahan berdasarkan kata per kata:

Sesunggunya umatmu ini adalah umat yang satu dan Akulah Tuhanmu maka sembahlah Aku.  (QS. Al-Anbiya [21]:92)

Perhatikanlah sekali lagi ayat tersebut dengan sebaik-baiknya. Agar denganya menjadi paham kita bahwa ketauhidan itu; mengesakan Allah itu, sangatlah berkaitan erat dengan menjadi umat yang satu. Karena alasan inilah para nabi diutus lagi dan lagi di sepanjang zaman. Sekali lagi harus saya katakan bahwa hanya dengan menjadi ’umaatan wahidah’ sajalah kita mengesakan Allah dengan sebenar-benarnya. Selama kita masih berpecah belah; bercerai berai; saling membanggakan golongan; saling kafir mengkafirkan, selama itu pula kita masih menyekutukan Allah. Kita masihlah berada dalam kemusyirikan. Maka…

dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.  (QS. Ar Ruum [30]:31-32)

…janganlah kita terus membiarkan perpecah-belahan ummat ini. Janganlah kita terus terkungkung oleh kesombongan kita dan menjadi enggan untuk menjadi umat yang satu. Kita harus kembali bertaubat kepada-Nya. Kita harus mendirikan shalat; kita harus membuat suatu gerakan yang dapat mempersatukan dan mempersaudarakan umat. Sebab jika tidak, akan menjadilah kita termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Musyrik.

Bagimanalah bisa kita mengatakan Allah adalah Tuhan yang esa sementara kita hidup berpecah-belah dan bermusuh-musuhan. Bukankah dengan bergolong-golongan itu, sama saja kita mengatakan ada banyak Tuhan? Bukankah dengan bergolong-golongan itu sama saja kita mengatakan ada banyak kebenaran?  Ya, itulah pada hakekatnya yang kita katakan. Sebab dengan begolong-golongan itu sama saja kita mengatakan ada banyak Tuhan sebanyak golongan-golongan yang terpecah-belah itu. Dengan bergolong-golongan itu sama saja kita mengatakan ada banyak kebenaran sebanyak golongan yang terpecah-belah itu. Padahal Dialah Allah satu-satu Tuhan semesta alam. Padahal Dialah Allah satu-satunya pemilik kebenaran. Tidak ada Tuhan lain dan tidak ada kebenaran lain.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  (QS. Al-Hujuraat [49]:13)

Sebagaimana kata tauhid yang kita tidak temukan dalam Al-Qur’an tetapi kita amat dengan nyata dapat melihat ajaran itu di dalamnya, demikian juga dengan bhineka tunggal ika. Istilah bhineka tunggal ika ini memang tidak kita temukan dalam Al-Qur’an, dan bahkan bhineka tunggal ika ini sebenarnya adalah ajaran yang bersumber di dalam kitab Sutasoma yang notabene adalah kitabnya orang Hindu, tapi meskipun demikian kita dapat melihat dengan jelas keberadaan ajaran serupa itu di dalam Al-Qur’an itu. Jika kita memperhatikan penjelasan-penjelasan sebelumnya, tentu kita tidak akan sangsi untuk mengatakan bahwa bhineka tunggal ika sesungguhnya adalah ajaran yang sangat islami dan Qur'ani.

Bhineka tunggal ika mempunyai makna ”bahwa yang beragam itu sesungguhnya tunggal adanya”. Ajaran ini memberi pengertian kepada kita bahwa pada hakekatnya semua berasal dari yang tunggal. Semua berasal dari Tuhan Yang Esa. Dan karena semua berasal dari Yang Tunggal itu, maka pada hakekatnya segala sesuatu adalah tunggal adanya. Alam semesta dengan berjuta-juta keberagamannya ini pun sesungguhnya satu kesatuan yang tak terpisahkan adanya. Demikian pula halnya dengan manusia. Umat manusia yang beragam perbedaan yang ada padanya ini pun sesungguhnya pada hakekatnya adalah umat yang satu. Dan konsekuensi dari ini adalah umat manusia harus menjadi umat yang satu. Segala perbedaan yang ada pada kita itu tidaklah berarti bahwa kita diciptakan oleh Tuhan yang berbeda. Tidaklah pula itu berarti bahwa kita adalah manusia yang tak sama. Tidak! Kita semua diciptakan oleh Tuhan yang sama dan dalam dalam fitrah penciptaan yang sama. Perbedaan yang kita punya adalah potongan-potongan yang harus disatukan agar terwujudlah bentuk yang sempurnanya. Di dalam perpecahan, perpisahan dan permusuhan, umat manusia tidaklah akan pernah mecapai kesempurnaannya sebagai umat. Kesempurnaan hanya akan terwujud ketika kita menjadi satu kesatuan umat yang bersaudara. Perbedaan-perbedaan tidaklah dimaksukan agar kita saling berselisih paham dan bermusuhan. Perbedaan-perbedaan itu ada agar kita saling mengenal, saling mengagumi dan terhubung dan berinteraksi satu sama lain sebagai satu kesatuan umat yang saling melengkapi dan menopang.

Cita-cita dan tujuan dari hadirnya Al-Islam itu sendiri adalah untuk mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia. Karena hanya di dalam persatuan dan persaudaraan sajalah akan kita temukan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan. Tidak akan pernah ada keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan di dalam perpecahan dan permusuhan. Karena itulah sebagaimana yang pernah diterangkan dalam penjelasan-penjelasan sebelumnya, syariat yang paling utama dalam agama adalah mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia. Namun memang, meski persatuan dan persaudaraan ini adalah keharusan yang mutlak bagi manusia, menegakkannya bukanlah sebuah perkara yang mudah. Dan tantangan terbesar umat manusia dalam hal ini adalah menemukan persamaan di dalam segala perbedaan.

Harus ada sesuatu yang benar-benar sama bagi kita semua agar kita dapat hidup bersama. Harus ada sesuatu yang benar-benar satu bagi kita semua akan kita dapat bersatu. Dan apakah yang benar-benar sama dan benar-benar satu bagi kita semua manusia itu? Satu-satunya yang benar-benar sama dan satu-satunya yang benar-benar satu adalah kemanusiaan dan ketuhanan. Di dalam diri setiap manusia tidaklah dapat dipungki dan diingkari terdapat rasa atau peri-kemanusiaan dan rasa atau peri-ketuhanan yang sama dan satu. Ego, kesombongan, kebodohan dan keserakahan kitalah yang telah membuat kita merasa tak sama dan merasa tak satu.

Jadi hendaklah sekarang kita memperhatikan. Apakah yang diajarkan di dalam ketauhidan itu? Apakah yang dibawa oleh ajaran bhineka tunggal ika itu? Dan darinya akan tahulah kita bahwa semua itu hadir dan ada untuk mengingatkan kita bahwa kita dalah umat yang satu yang diciptakan oleh tuhan yang sama. Hanya saja kita lupa dan melupakannya. Namun, jika kita telah menyadarinya, maka hendaklah kita bertaubat kepada-Nya. Hendaklah kita menjadi orang-orang yang berupaya dan termasuk orang-orang yang berjuang untuk mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia. Jika tidak, tidaklah kita termasuk orang-orang yang mengesakan-Nya. Jika tidak, akanlah kita termasuk orang-orang yang mempersekutukannya.

Kini adalah masa bagi umat manusia untuk konsern pada membangun sebauh sistem berkehidupan yang sepenuhnya menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan persaudaraan. Kita harus fokus kepada membangun sebuah syariat berkehidupan yang menanggalkan segala rupa perbedaan yang kita punya agar tidak lagi menjadi halangan bagi umat manusia untuk bersatu dan bersaudara. Dalam hal ini tentulah tidak berarti kita tidak boleh berbeda. Tidaklah juga berarti bahwa kita harus seragam dan serupa. Tidak. Kita boleh berbeda, kita boleh beragam dan kita boleh tidak serupa. Satu-satunya yang tidak boleh buat kita adalah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berselisih paham. Satu-satunya yang tidak boleh bagi kita adalah menjadikan keragaman sebagai alasaan untuk bermusuhan. Di dalam perbedaan dan keberagaman itu kita sama-sama berdiri di atas sebuah dasar yang sama dan satu yang dapat kita sepakati. Berdiri bersama di atas dasar perikemanusiaan dan periketuhanan yang memang sama dan satu untuk seluruh umat manusia. Di dalam perikemanusiaan dan periketuhanan yang sama dan satu itulah kita harus membangun peradaban kita. Kita harus membangun sebuah peradaban yang sepenuh memperhatikan perikeadilan. Sebuah peradaban yang tidak membenarkan ada seorang manusiapun yang diperlakukan tidak adil oleh manusia lainya. Sebuah peradaban yang tidak membenarkan ada satu golonganpun yang dizalimi oleh manusia lainnya. Sebuah peradaban yang tidak membenarkan ada satu bangsapun yang diekploitasi oleh bangsa lainnya.

Itulah bhineka tunggal ika yang membawa ajaran kemerdekaan semua buat semua itu. Sebuah ajaran yang telah melahirkan Pancasila bagi bangsa dan negara kita, Indonesia. Agar dengannya kita yang berbeda-beda suku, golongan dan agamanya ini dapat berdiri bersama sebagai satu kesatuan bangsa yang bersaudara. Inilah arah dari pada revolusi bangsa Indonesia itu. Sebuah revolusi yang hadir untuk menwujudkan kemerdekaan setiap orang dan golongan di dalam bangsa Indonesia yang berbeda dan beragam ini. Sebuah revolusi yang hadir untuk mewujudkan kemerdekaan setiap bangsa-bangsa yang berbeda dan beragam di atas dunia ini. Inilah sebuah revolusi yang hadir untuk memastikan setiap orang diperlakukan dengan adil dan memastikan tidak ada seorangpun manusia yang dibiarkan terzalimi. Maka marilah kita lihat kembali ajaran Bung Karno Pemimpin Besar Revolusi Indonesia yang berkata: “Revolusi Indonesia menuju kepada dunia baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ (eksploitasi manusia atas manusia) dan ‘exploitation de nation par nation’ (eksploitasi bangsa atas bangsa)”Dan marilah kita perhatikan pula deklarasi kemerdekaan yang kita punya: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Sudah semestilah kita bertauhid dan sudah semestinyalah juga kita hidup berbhineka tunggal ika.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 261 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar