Home » 2017 » August » 17 » BERIRAMA DENGAN KODRAT
2:29 PM
BERIRAMA DENGAN KODRAT

<<sebelumnya....
Saudara-saudara
!
Saya menganjurkan pembentukan modal nasional. Moga-moga modal nasional itu setapak-demi-setapak, tapi dengan pesat, dapat tersusun, agar supaya cita-cita ekonomi lekas terlaksana. Tanah-air kita memang sangat luas, ia mengandung seribu-satu kemungkinan-kemungkinan untuk membuka macam-macam industri yang besar-besar. Jutaan, ratusan juta rupiah, harus kita himpun. Kalau modal nasional masih belum mencukupi, bolehlah kita memakai modal luar-negeri sebagai supplemen daripada modal nasional kita. Tetapi tekanan-kata kita harus kita letakkan kepada modal nasional! Untuk kepentingan pembangunan tanah-air kita yang luas-maha-luas, kaya-maha-kaya ini, kita bersedia mempergunakan modal-modal dan tenaga-tenaga luar-negeri, yang sungguh-sungguh mempunyai goodwill (kemauan baik) untuk bersama-sama dengan kita berusaha membangun suatu kehidupan ekonomi yang dapat meninggikan taraf kehidupan rakyat kita. Tak perlu saya tambahkan di sini, bahwa kita mengerti, bahwa kerjasama yang demikian itu sudah tentu harus mempunyai sifat saling menguntungkan, dengan ukuran yang layak dan yang pantas. Dan tak perlu pula saya katakan, bahwa kita menolak tiap-tiap ikatan politik yang disertakan pada kerjasama di lapangan penanaman modal asing itu! Tentulah sudah sepantasnya pula bahwa modal dan tenaga luar-negeri itu bekerjanya ialah atas dasar-dasar yang diletakkan dalam satu Undang-undang Nasional, yang sudah selayaknya mem-perhatikan dan menjamin kepentingan-kepentingan rakyat kita sendiri, agar supaya tidak berulang lagi sifat-sifat penghisapan kekayaan dari buruh dan rakyat Indonesia seperti di zaman Kolonial.

Saudara-saudara!

Apabila modal sudah ada, masih kita perlukan lagi tersedianya tenaga-tenaga-ahli untuk mengusahakan cita-cita industrialisasi itu. Kita adalah bangsa 80.000.000, dan mengingat jumlah 80.000.000 itu, kita masih memerlukan tambahnya beribu-ribu tenaga-ahli lagi. Lagi-lagi aku mengarahkan kataku kepada pemuda-pemuda, terutama sekali kepada pemuda-pemuda yang sekarang berada di medan penuntutan ilmu. Engkau harus lebih banyak menjelmakan tenaga-tenaga-ahli dari kalanganmu sendiri.

Engkau harus lebih banyak memasuki lapangan kejuruan. Dari engkau aku harapkan, supaya di dalam memilih jurusan pelajaran, engkau hendaknya selalu berpedoman kepada kebutuhan masyarakat kita dalam masa pembangumm ini. Ketahuilah, bahwa kebutuhan masyarakat di masa pembangunan ini, terutama ialah terletak di lapangan keahlian tehnis.

Ya, pemuda-pemudaku, kita selalu mengatakan, bahwa Indonesia ini adalah kaya-raya. Tetapi kekayarayaan kita itu baru bersifat kekayarayaan potensiil. Kekayarayaan yang masih terpendam. Ia masih harus digali. Digali dengan kegiatan, digali dengan membanting-tulang, digali dengan memeras keringat dari saat terbitnya matahari sampai saat ia terbenam. Digali dengan kerja-keras, yang terpimpin oleh keahlian. Kekayarayaan yang tidak diusahakan, akan tidak berarti bagi siapapun juga.

Ia akan bersifat kekayaan yang mati. Ia akan menjadi alasan yang malaikat-malaikat di langit mentertawakan kita. Kalau terus-menerus kekayaan-kekayaan itu terpendam mati, karena kita sendiri tak mampu menggalinya, maka nanti dapat terjadi yang kita ini tetap miskin di tengah-tengah kekayaan itu, ibarat ayam mati kelaparan di lumbung padi, itik mati dahaga pada waktu berenang di air sungai.

Tuhan telah menyediakan kekayaan-kekayaan itu! Tetapi penggaliannya tergantunglah kepada kita sendiri. Nasib kita, kaya-miskin kita, sengsara-bahagia kita, tidak tergantung dari usaha orang lain, tidak dari dewa-dewa, melainkan dari ikhtiar kita sendiri. “Self-activity, self-help”, – itulah kunci kemakmuran dan kebahagiaan sesuatu bangsa, itulah nasionalisme-sejati bagi sesuatu bangsa, apakah ia bangsa kulit putih, apakah ia bangsa Asia, apakah ia bangsa Eskimo, apakah ia bangsa Hottentot. “Self-reliance, not mendicancy”, – “usaha sendiri, jangan mengemis”, – itulah semboyan tepat bagi bangsa yang telah merdeka. Berjuta-juta modal-asing mungkin mau bekerjasama atau berusaha di Indonesia. Beratus-ratus tenaga-ahli luar-negeri mungkin mau mencurahkan tenaganya di sini bersama kita. Tetapi tidak mungkin unsur-unsur luar-negeri itu membuat tanah-air kita ini makmur dan sejahtera, gemah-ripah-kerta-raharja -, jikalau Bangsa Indonesia sendiri hanya menjadi penonton dan penikmat saja dari hasil-hasil yang digali oleh modal dan orang lain itu. Kemerdekaan barulah kemerdekaan sejati, jikalau dengan kemerdekaan itu kita dapat menemukan kepribadian kita sendiri. Unsur-unsur dari luar. harus kita anggap hanya sebagai pemegang funksi pembantu belaka, pendorong, stimulans, bagi kegiatan kita sendiri. Akhirnya yang menentukan ialah manusia Indonesia sendiri, keringat Indonesia sendiri.

Saudara-saudara!

Di dalam pembangunan ekonomi nasional, faktor lain yang amat penting ialah pembangunan alat-alat perhubungan dan pengangkutan. Negara kita adalah negara kepulauan, yang memerlukan amat kepada perhubungan dan pengangkutan.

Marilah memperhatikan pengajaran sejarah. Tiga setengah abad lamanya kita membayar denda yang mahal atas kelalaian kita memelihara kesatuan bangsa. Tiga setengah abad lamanya kita menjalani hukuman. Sekarang kita telah merdeka karena dapat menggembleng-kembali kesatuan bangsa itu, – peliharalah terus baik-baik kesatuan bangsa itu, dan sempurnakanlah baik-baik kesatuan bangsa itu, politis dan ekonomis, dengan semua alat-alat penggembleng kesatuan yang diperlukan.

Perikehidupan sesuatu bangsa, sebagai juga perikehidupan manusia, selalu mengenal dua alam. Alam batin dan alam lahir; alam spirituil dan alam materiil.

Soal memelihara dan menyempurnakan kesatuan bangsapun, politis dan ekonomis, mengenal dua alam ini. Kita harus memberi alat-alat-perekat batin dan alat-alat-perekat lahir kepada bangsa Indonesia supaya kesatuannya makin sempurna. Alat-perekat batin amat perlu. Kesatuan sesuatu bangsa hanyalah dapat hidup benar-benar, jika didasarkan atas suatu dasar yang lebih luas daripada bangsa itu sendiri. Dasar yang lebih luas itu ialah dasarnya batin, dasarnya jiwa.

Alat-perekat batin yang utama bagi bangsa Indonesia ialah Pancasila. Ingat, kita ini bukan dari satu suku-bangsa. Ingat, kita ini bukan dari satu adat-istiadat. Ingat, kita ini bukan dari satu agama! Bhinneka Tunggal Ika, – Bhinna Ika Tunggal Ika -, “berbeda-beda tetapi satu”, demikianlah tertulis di lambang Negara kita, dan tekanan kataku sekarang ini kuletakkan kepada kata “bhinna”, yaitu “berbeda-beda”. Ingat, kita ini “bhinna”, kita ini “berbeda-beda”, dan untuk mempersatukan bangsa 80.000.000 jiwa yang berbeda itu, diperlukanlah satu semen-batin yang dapat menyemen mereka semua. Dan semen-batin itu ialah Pancasila. Satu-satunya semen-batin yang dapat menyemen seluruh bangsa Indonesia yang beraneka-warna itu, dari Sabang sampai ke Merauke, dari Miangas sampai ke Numodale, adalah Pancasila.

Inipun kukatakan dengan penuh keyakinan dan penuh ketandasan.

Di muka aku telah katakan, bahwa aku telah mengunjungi hampir seluruh pelosok tanah-air Indonesia. Aku telah datang di daerah-daerah Islam, tetapi aku telah mengunjungi pula daerah-daerah yang bukan Islam. Aku telah mengunjungi daerah-daerah luas yang rakyatnya Protestan. Aku telah mengunjungi daerah-daerah luas yang rakyatnya Katolik. Aku sering berada di tengah-tengah rakyat kita yang beragama Syiwa-Budha. Aku sering didatangi oleh utusan-utusan dari daerah Dayak, aku sering menerima utusan-utusan dari Irian Barat. Dan dari apa yang kudengar dan kulihat dan kuperhatikan itu semua, aku dengan penuh keyakinan dan ketandasan di sini berkata: satu-satunya dasar Negara yang dapat mempersatukan bangsa kita yang beraneka-warna dan beraneka-agama itu ialah dasar Pancasila. Bahkan saudara-saudara dari Irian Barat berkata dengan tegas: Kami ingin lekas masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia, tetapi kami hanya mau masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia, kalau Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila

Sampai-sampai saudara-saudara suku Irian yang dengan menaiki perahu-perahu sederhana menjumpai aku di dusun kecil Weda di pantai Halmahera beberapa minggu yang lalu, membawa semboyan yang berbunyi: lrian wilayah Republik, tetapi Republik Pancasila!

Aduh, saudara-saudara, hatiku gemetar karena cemas, kalau aku melihat ada saudara-saudara yang hendak mengganti Dasar Negara Pancasila dengan dasar negara yang lain. Bagaimana nanti kalau kesatuan bangsa pecah? Bagaimana nanti kalau Negara bengkah? Sungguh, kalau kesatuan bangsa pecah dan Negara bengkah, maka tidak ada malapetaka yang lebih ngeri di dunia ini. Hancurlah sendi-sendi-pokok daripada Kehidupan kita sebagai Bangsa, hancur-leburlah segenap esensialia daripada kita punya Nationaal Levensbestaan. Gulung tikar-lah nanti Revolusi kita sebagai suatu Revolusi Nasional!

Dan, – benar-benarkah engkau menghendaki Irian Barat kembali ke atas pangkuan kekuasaan Ibu Pertiwi? Perhatikanlah suara yang tegas dari saudara-saudara kita suku Irian itu, bahwa mereka memang benar-benar ingin kembali ke pangkuan kekuasaan Republik, tetapi hanya kalau Republik tetap berdiri di atas dasarnya asli, yaitu Pancasila. Lagi pula ingatlah, bahwa soal Irian Barat itu bukan hanya soal dasar saja, sebagai yang dikemukakan oleh saudara-saudara suku Irian itu. Soal Irian adalah pula soal tenaga, soal kekuasaan, soal macht. Irian Barat hanya dapat kita peroleh kembali, jika bangsa Indonesia kuat, berkekuasaan, mempunyai Macht. Bangsa Indonesia yang bersatu, mempunyai Macht; bangsa Indonesia yang tidak bersatu, tidak mempunyai Macht. Indonesia yang tidak bersatu, jangan memimpikan memperoleh Irian Barat kembali.

Sebaliknja Indonesia yang bersatu, tidak boleh tidak pasti memperoleh Irian Barat kembali. Telah berpuluh-puluh, mungkin beratus-ratus kali kukatakan: Jikalau bangsa Indonesia yang 80.000.000 ini bersatu-padu, benar-benar bersatu-padu, – sebelum matahari terbit di hari besok, Irian Barat pasti kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi!

Karena itu, persatuan adalah syarat-mutlak, conditio sine qua non, untuk kemenangan kita dalam memperjoangkan Irian Barat. Dan dasar untuk persatuan itu, alat-perekat untuk persatuan itu, satu-satunya yang dapat diterima oleh sebagian terbesar daripada rakyat Indonesia, ialah Dasar Negara Pancasila. Peganglah teguh kepada Pancasila itu, janganlah melepaskan kepada Pancasila itu!

Demikianlah alat-perekat spirituil untuk kesatuan bangsa itu. Apakah alat-perekat materiil? Alat-perekat materiil ini berwujud kesatuan organisasi kenegaraan.

Kesatuan organisasi kenegaraan ini harus didukung oleh perlengkapan-perlengkapan yang sempurna dalam lapangan perhubungan pusat dengan daerah-daerah. Di darat, di laut, di udara, kita harus membangun alat-alat perhubungan, yang dapat menempatkan tiga ribu pulau-pulau Indonesia ini dalam satu jaringan yang erat, membuat tiga ribu pulau-pulau itu menjadi satu tubuh yang kompak.

Dan, hanya Indonesia yang tersemen-rekatlah dapat berdiri kokoh-kompak di tengah-tengah hempasannya gelombang-gelombang pergolakan ekonomi dan politik internasional. Gelombang-gelombang ekonomi dan politik internasional ini selalu memukul dan menghantam tubuh Indonesia, dahulu, sekarang, di masa depan! Kokoh-kompakkanlah tubuh Indonesia ini dengan segala alat-alat spirituil dan materiil! Strategis kita memang di tengah-tengah gelombang. Bukan saja strategis ekonomis, tetapi juga strategis politis, dan strategis militer!

Tetapi di samping perhubungan Interinsuler itu, kita – sebagai kesatuan yang kompak – harus pula memikirkan hubungan dengan dunia luaran.

Dunia sekarang ini seolah-olah menjadi kecil. Tambahnya penduduk, tambahnya kebutuhan-kebutuhan hidup, tambah-majunya tehnik lalu-lintas internasional, membuat dunia itu laksana menjadi selebar payung. Tiap kejadian, di manapun terjadi di muka bumi ini, gema atau pukulannya dirasakan pengaruhnya di seluruh muka bumi. Juga di Indonesia. “Isolasi yang nikmat” di dunia yang sudah demikian itu, tak mungkin lagi. Kitapun tidak bisa hidup zonder hubungan dengan bangsa-bangsa lain.

Bagaimana hubungan kita dengan bangsa-bangsa lain itu?

Negara Republik Indonesia dilahirkan di tengah-tengah pergaulan antar-bangsa yang sudah merupakan gembong-gembong-raksasa. Dan gembong-gembong-raksasa ini bukan gembong-gembong yang sedang hidup di dalam kerukunan, bukan, tetapi gembong-gembong yang sedang awas-mengawasi satu sama lain dalam suasana permusuhan dan curiga, curiga kalau-kalau yang satu nanti diterkam dihantam oleh yang lain.

Perang-dingin mengelilingi kita. Perang-panas di sana-sinipun sudah menyala.

Dan di dalam iklim perang-dingin dan perang-panas itulah Republik Indonesia yang masih muda-kemala-kala ini harus menempuh jalan-hidupnya buat sekarang dan buat hari-hari yang akan datang.

Negara muda-kemala-kala ini masih bersih dari purbasangka, tetapi, – ya Tuhan, Engkau Maha Besar! -, ia telah berisi bekal keyakinan-hidup sendiri, yaitu Pancasila, yang dengan Pancasila itulah ia ingin dan dapat bergaul, bebas ramah-tamah dengan setiap bangsa di seluruh muka bumi. Kadang-kadang kebebasan gerak dan keramah-tamahan simuda-kemala-kala ini dilihat oleh gembong-gembong tadi dengan hati yang berdebar-debar dan bertanya-tanya: – “ke manakah Indonesia hendak pergi?”

Ya, mereka bertanya-tanya: ke mana Indonesia hendak pergi? Anehnya, kadang-kadang mereka lantas menentukan jawabannya sendiri, sesuai dengan keinginannya atau kekhawatir-annya sendiri-sendiri. Padahal, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat memberi jawaban atas pertanyaan itu, melainkan kita bangsa Indonesia sendiri, kita Republik Indonesia sendiri. Dan jawaban kita itu adalah jelas dan sederhana: Kita, sesuai dengan semangat Pancasila, ingin bergaul bebas dan ramah-tamah dengan setiap bangsa di muka bumi ini, dan ingin memberikan sumbangan kita, supaya semua bangsa di dunia ini hidup rukun dan hidup beramah-tamah.

Tiap bangsa harus hidup. Dan berhaklah ia hidup di dunia ini menurut keyakinannya sendiri-sendiri. Berhaklah ia hidup menurut “geweten”-nya sendiri-sendiri. Ia boleh bertindak, boleh berbuat, boleh berusaha, boleh berniaga, sebagaimana diperintahkan oleh gewetennya itu, asal ia tidak merugikan kepada orang lain atau kepada bangsa lain. Untuk hidupnya, tiap bangsa harus berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Manusia memerlukan pergaulan, bangsapun memerlukan pergaulan. Ini sudahlah kodrat. Orang tidak dapat mencegah berlakunya kodrat itu.

Bangsa Indonesia hanya menjadi pelaku dari kodrat itu, jikalau ia berhubungan dengan bangsa-bangsa lain yang manapun juga. Setiap usaha yang mencegah hubungan itu, baik secara paksa maupun secara kemauan sendiri, berarti melawan berlakunya kodrat. Dan setiap perlawanan kepada kodrat, akan menimbulkanlah ketegangan antara manusia atau bangsa dengan kodratnya sendiri. Maka ketegangan inilah yang menyebabkan tidak-aman dan tidak-tenteramnya kehidupan umat-manusia di dunia ini.

Ya, manusia ingin hidup, bangsapun ingin hidup. Ini adalah satu kenyataan sebesar gajah yang tak dapat disangkal. Biarlah manusia menyari hidup, dan biarlah bangsa menyari hidup. Tadi aku berkata: “A hungry man is an angry man”. Kalimat itu” adalah benar. Tetapi tidak kurang benar pula bahwa “a hungry nation is an angry nation”. Akhirnya, hukum mempertahan-kan kelangsungan hidup diri, hukum “self-preservation”, hukum itulah yang menentukan jalan-hidupnya sesuatu manusia atau sesuatu bangsa.

Oleh karena itu, jalan satu-satunya untuk menyehatkan kehidupan masyarakat-manusia ini ialah kemerdekaan dan kedaulatan bagi tiap-tiap bangsa, dan pertukaran bebas daripada bekal-bekal-hidup antara bangsa-bangsa. Jikalau jalan kodrat ini dituruti, maka semua bangsa akan dapat bekerjasama secara normal, akan dapat saling memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, akan dapat isi-mengisi, akan dapat untung-menguntungkan, akan dapat saling menghormati dan saling membantu, bahkan akan dapat saling menjaga. Tidak ada lagi satu daerah yang kekurangan jenis bekal-hidup yang satu, dan kelebihan jenis bekal hidup yang lain. Tidak ada lagi iri-mengiri. Tidak ada lagi curiga-mencurigai. Tidak ada lagi sengketa, cedera, pengkhianat-an. Yang ada hanya hubungan antar-bangsa secara persaudaraan.

Sebab, hubungan antar-bangsa yang demikian itu adalah pada hakekatnya hubungan kodrat. Ada orang mengatakan, bahwa sebaiknya dalam hubungan kerjasama internasional ini dianut adagium “more trade, less aid”, oleh karena “aid” telah membawa baunya sendiri. Nama tidak pentlng. Yang penting ialah hakekat seperti yang saya gambarkan itu tadi.

Yang penting ialah: mengikuti irama kodrat, di dalam merumuskan hubungan-baik antara bangsa-bangsa di bawah kolong langit ini. Umat-manusia harus berani mengambil Konsekwensi daripada keharusan mengikuti irama kodrat itu. Apakah Konsekwensi itu? Konsekwensi itu ialah: menghapuskan semua penjajahan oleh sesuatu bangsa atas bangsa yang lain.

Dalam bentuk apapun juga, dalam warna apapun juga, dalam lapangan apapun juga, penjajahan harus lenyap dari muka bumi.

Sepenuh-penuhnya harus berlaku hak menentukan nasib diri sendiri bagi semua bangsa, harus dihormati hak self-determination dan hak self-preservation bagi semua bangsa. Tidak ferduli warna-kulitnya, tidak ferduli keturunannya, tidak ferduli agamanya, tidak ferduli ideologi-politiknya, tldak ferduli ideologi-sosialnya, – ya tidak ferduli tinggi-rendah peradabannya -, semua bangsa harus sepenuh-penuhnya boleh menjalankan hak menentukan nasib diri sendiri.

Kita sekarang telah mencatat tahun 1954. Anno 1954 tidak pantas masih ada kolonialisme di muka bumi ini. Anno 1954 tidak pantas masih ada bangsa-bangsa yang meringkuk di bawah telapak kaki penjajahan.

Setelah adanya Atlantic Charter, dan setelah adanya Declaration of Human Rights P.B.B., maka kolonialisme adalah satu kejanggalan yang menyolok mata, satu anachronisme yang menyebabkan penderitaan berjuta-juta manusia. Kolonialisme adalah benar-benar pest-nya masyarakat manusia di muka bumi ini.

Tetapi kolonialismepun, meski disokong oleh redenering apapun, dan meski disokong oleh senjata apapun, tak mampu terus-menerus menghalangi berjalannya hukum kodrat self-preservation. Bergeraklah akhirnya berjuta-juta rakyat yang menderita itu sebagai satu prahara nasionlisme yang makin lama makin menderu-deru. Bergeraklah rakyat-rakyat yang terjajah itu dalam satu “Sturm uber Asien”, satu mahabadai gerakan-kemerdekaan, yang menghamuk, menghantam, memuting-beliungkan, menggempur, menggoncangkan bcnteng-benteng-penjajahan di mana-mana.

Sebagai hasil daripada gerakan-gerakan kemerdekaan ini, beberapa bangsa Asia dan Afrika telah menjadi merdeka dan berdaulat kembali, antara lain bangsa Indonesia, kecuali suku-bangsanya di Irian Barat. Sebagian lain bangsa-bangsa Asia dan Afrika itu masih tetap hidup dalam alam penjajahan. Tetapi, sejarah akan berjalan terus. Rakyat-rakyat yang terjajah akan bergerak terus. Sejarah tak akan dapat dibekuk oleh penjajah manapun juga. “We cannot escape history” adalah satu ucapan yang sering kuperingatkan kepada penjajah manapun juga.

Kodrat alam tak akan dapat Tuan tahan dengan alat senjata apapun juga. Hanya siapa yang dapat menghentikan berputarnya matahari, dialah yang dapat menghentikan berjalannya kodrat alam itu. Sekarangpun kita menjadi saksi daripada hebatnya prahara cita-cita kemerdekaan-nasional di Maroko, di Algeria, di Tunisia, di Afrika Tengah, di Mesir, di Pondicheri, di Goa, di Indocina, di Malaya, di Irian Barat, di daerah terjajah lain-lain.

Apakah deram-genderangnya cita-cita kemerdekaan ini belum cukup keras sebagai tanda-peringatan bagi kaum penjajah itu? Kecuali jika kaum penjajah memang ingin tergilas remuk-redam samasekali oleh rodanya kodrat sejarah, maka hendaknya mereka itu mendengarkan tanda-peringatan yang cukup tegas itu, dan memahami irama-masa itu selekas-lekasnya. Asia telah bangkit, Afrika telah bangkit. Kekuatan-kekuatan kebangkitan itu tidak dapat lebih lama lagi diabaikan.

Masing-masing kekuatan-kekuatan itu menuntut untuk diperhitungkan, bersama-samapun mereka malah lebih lagi menuntut untuk diperhitungkan. Kolombo, Jenewa, dan nanti Insya Allah Jakarta dengan konperensi-besarnya Afro-Asia, adalah bukti-bukti daripada perlucutan itu. Masihkah dunia ragu-ragu juga, dan bertanya-tanya, di mana tempat Indonesia dalam perbenturan antara kemerdekaan dan penjajahan, antara kebebasan-pribadi dan perbudakan?

Maka pada hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan yang bagi kita keramat ini, aku berseru kepada Budi pekerti Semua Insan, berseru kepada “swerelds geweten”, untuk memancarkan cahaya tuntunannya kepada semua pemimpin-pemimpin-dunia, supaya tidak terlambat mengikuti iramanya sejarah. Irama ini mengajak melepaskan semua macam pembelengguan. Lepaskanlah belenggu-belenggu penjajahan dan perbudakan, yang telah berabad-abad menekan perkembangan pribadi berbagai bangsa Asia dan Afrika menurut kodratnya sendiri-sendiri!

Saudara-saudara ingin mengetahui hal Irian Barat.

Soal Irian Barat kini sudah kita mintakan dibicarakan dalam Sidang Umum. P.B.B. Kita kini minta persaksiannya bangsa-bangsa yang tergubung dalam P.B.B., bahwa Belanda secara unilateral telah menyalahi persetujuan yang dulu mereka telah tandatangani. Status-politik Irian Barat menurut persetujuan itu harus diselesaikan dengan jalan perundingan. Tetapi mereka sekarang sudah tidak mau berunding lagi dengan kita tentang soal Irian Barat itu.

Jadi: kita telah meminta kepada Belanda supaya soal Irian Barat itu dipecahkanlah hendaknya dengan cara perundingan. Dengan itu kita menunjukkan kepada dunia, bahwa kita berkehendak berdiri tetap di atas prinsip-prinsip yang juga menjadi prinsipnya P.B.B., yaitu prinsip pcrundingan. Dan kitapun selalu berdiri di atas prinsip yang baik itu.

Tetapi sayanglah, fihak Belanda tidak mau kita ajak berunding. Kini kita ajukan soal Irian Barat itu di atas forum internasional. Saya percaya bahwa bangsa-bangsa yang menjunjung tinggi keadilan dan budi-luhur, di dalam appeal Indonesia yang penting ini, akan berada di fihak kita.

Ya, appeal kita kepada P.B.B. itu adalah satu hal yang penting. Tetapi lebih penting lagi ialah berjalannya kodrat. Dan berjalannya kodrat inilah hendaknya lebih dimengerti oleh fihak Belanda. Memang, dengan macam-macam tafsiran yang njlimet, soal Irian Barat dapat saja mereka seluman-selumunkan, dapat saja mereka belat-belitkan, supaya dunia atau sidang-umum P.B.B. mau percaya, bahwa penjajahan di Irian Barat itu bukanlah satu penjajahan. Tetapi kodrat tidak dapat dibalut oleh belat-belitnya tafsiran. Kodrat tidak dapat diseluman-selumunkan. Kodrat akan tetap berlaku, di atas segala belat-belitnya tafsiran, ondanks segala belat-belitnya tafsiran. Satu hari akan datang, yang kodrat itu akan mendadal. Satu hari akan datang, entah besok entah lusa, yang rakyat kita di Irian Barat pun akan bangkit karena diayunkan oleh iramanya kodrat itu. Satu hari akan datang, pasti akan datang, Insya Allah subhanahu wa ta’ala, seperti terbitnya matahari di hari besok, yang Irian Burat kembali kepada kita, kembali ke Pangkuan-Besarnya Ibu Pertiwi!

Dan saudara-saudara ingin mengetahui hal Unie lndonesia-Belanda?

Ternyata bahwa di dalam hal Unie itu kodrat pula telah berjalan! Telah lama kita menyatakan ketidaksenangan kita kepada Unie itu, karena tidak sesuai dengan anggapan kita tentang kemerdekaan dan kedaulatan. Lama pula fihak Belanda mengemukakan alasan-sambung-alasan, terutama mengenai jaminan-jaminan di atas lapangan keuangan dan ekonomi.

Tetapi apa ternyata akhirnya? Ternyata bahwa kodrat tidak dapat ditahan-tahan. Ternyata bahwa kodrat berjalan terus. Seluruh rakyat lndonesia, seluruh partai, ternyata menghendaki bubarnya Unie itu. Dan Syukur Alhllmdulillah: Pada hari-keramat 17 Agustus 1954 sekarang ini, aku sebagai Presiden Republik Indonesia dapat menyatakan kepada seluruh bangsa Indonesia dari  Sabang sampai ke Merauke, dari Miangas sampai ke Numodale, dan kepada seluruh Umat manusia di muka bumi ini, bahwa menurut protokol yang telah ditandatangani pada hari Selasa malam Rebo seminggu yang lalu, sebagai hasil perundingan di Den Haag baru-baru ini, Unie Indonesia-Belanda telah bubar!

Ya, Kodrat kini telah berjalan. Unie telah masuk di dalam kubur.

Kita tidak terikat lagi oleh sesuatu Unie dengan Belanda. Atas hal itu kita berkata: “Allahu Akbar!, Engkau jualah yang memberikan kepada kita hasil-perjoangan yang baik ini!” Dan kepada rakyat Indonesia aku berkata: Insyafilah bahwa bubarnya Unie itu adalah satu tugu-pertandaan di tepi jalan kita ke Indonesia Sempurna, satu mijlpaal di tepi jalan itu.

Tetapi insyafilah juga bahwa ia hanya satu tugu-pertandaan saja, hanya satu mijlpaal. Jalan kita masih bersambung, perjalanan kita masih terus. “For a fighting nation there is no journey’s end”, – perjalanan satu rakyat yang berjoang, tak pernah berhenti. Berjalanlah kita terus!

Masih banyak hal-hal antara Indonesia dan Belanda harns kita ikhtiarkan robahnya, terutama sekali hal-hal di lapangan keuangan dan perekonomian. Dan – sudah barang tentu soal Irian. Tidak jemu-jemu kukemukakan, bahwa soal Irian Barat adalah satu perintang-besar hubungan baik antara Indonesia dan Belanda. Berulang-ulang aku katakan, bahwa kita mengingini adanya hubungan-baik itu, tetapi bahwa soal Irian Barat adalah satu perintang yang amat besar.

Saudara-saudara!

Di dalam abad ke-20 ini memang kita menyaksikan satu keanehan, menyaksikan satu paradox. Di mana-mana orang menggembar-gemborkan kemerdekaan, “freedom”, “human dignity”, tetapi bersamaan dengan itu orang tidak mau memberikan kemerdekaan kepada bangsa-bangsa yang menuntut kemerdekaan. Di mana-mana orang bergembar-gembor berkata “ingin perdamaian”, “ingin kerja-sama internasional”, “ingin persaudaraan dunia”. Tetapi bersamaan dengan itu, kita tetap menyaksikan masih adanya penjajahan di beberapa daerah dunia ini. Padahal, dua hal ini tidak mungkin dipertahankan bersamaan. . “You cannot believe in freedom, and deny freedom”, – demikianlah pernah diperingatkan oleh seorang pujangga. Pengertian perdamaian dan pengertian penjajahan tidak mungkin berjabatan tangan satu sama lain. Satu di antara dua: atau perdamaian zonder penjajahan, atau penjajahan zonder perdamaian. Siapa yang hendak mengawinkan perdamaian dan penjajahan ia bertindak bertentangan dengan begrip-begrip yang paling elementer daripada logika manusia, – ia bertentangan dengan kodratnya alam.

Namun aneh bin aneh, kenyataan ialah, bahwa orang tetap menjalankan paradox yang bertentangan dengan kodratnya alam itu.

Orang bertanya: Apakah jalan yang harus ditempuh, sesudah menghadapi kenyataan yang demikian itu?

Berbagai teori dikemukakan dan diperdebatkan secara akademis, tetapi orang kurang memperhatikan alam di sekitarnya, dan menarik tamsil daripadanya.

Pada suatu malam yang dingin menggigil, di satu kebun binatang aku pernah melihat sekelompokan landak yang kedinginan. Karena kedinginannya itu, mereka desak-mendesak mencari hangat. Tetapi karena terlulu desak-mendesaknya, maka bulu-durinya saling menusuk ke dalam dagingnya, hingga mereka merasakan sakit, dan mereka lantas merenggangkan badan-badannya lagi satu dari yang lain. Dengan kerenggangan itu, kedinginanlah mereka lagi, dan berdesak-desakanlah mereka lagi.

Lagi bulu-durinya menusuk-nusuk, lagi mereka merenggang, lagi mereka kedinginan, lagi berdesak-desakan, lagi bulu-durinya menusuk-nusuk, lagi mereka merenggang, lagi kedinginan, lagi berdesak-desakan, – demikianlah seterusnya proses perdekatan dan perenggangan itu silih-berganti, sampai pada akhirnya tercapailah jarak yang paling tepat antara mereka itu: mereka saling mendapat kehangatan badan yang diperlukan, zonder saling menusuk dengan bulu-durinya.

Sungguh sederhanalah cerita ini, tetapi dalamlah tamsil yang dapat ditarik daripadanya!

Jikalau hubungan antar-bangsa terlalu dekat-melekat hingga menjadi percampuran-tangan dalam urusan dalam-negeri bangsa yang lain, maka menjadilah hubungan itu satu penjajahan, Dan tiap-tiap penjajahan bersifat tusukan yang membahayakan kehidupannya yang terjajah, Dan di mana sesuatu kehidupan dibahayakan, timbullah perlawanan secara kodrat. Hilang-terbanglah perdamaian.

Sebaliknya, hubungan antar-bangsa yang terlalu renggang “aing-aingun”, akan menimbul-kanlah proses-berantai: alam-fikiran yang terlalu jauh berbedaan, salah faham, salah sangka, purbasangka, persaingan, curiga-mencurigai, ketegangan, perlombaan persenjataan, perang-dingin, mungkin perang-panas. Hilang-terbanglah pula perdamaian!

Itulah, saudara-saudara, tamsll, berhikmat daripada cerita sederhana tentnng sekelompok landak di malam yang dingin itu!

Sungguh-sungguhkah semua bangsa di dunia ini menghendaki perdamaian? Kalau memang sungguh-sungguh menghendaki perdamaian, lenyapkanlah selekas-lekasnya segala macam penjajahan! Lenyapkanlah sekarang, lebih baik daripada besok, segala macam perbudakan! Berikanlah selekas-lekasnya kepada tiap bangsa di muka-bumi ini kemerdekaan dan kedaulatan yang penuh, dan janganlah kemerdekaan dan kedaulatan itu ditahan-tahan dengan macam-macam advocaterij atau dengan bom dan dinamit sekalipun. Sebab Kemerdekaan dan Kedaulatan akhirnya toh akan dadal-keluar, Akan menggempur hancur semua rintangan, akan memecahkan semua bungkus, oleh karena ia adalah Puteranya Kodrat.

Berikanlah selekas-lekasnya kemerdekaan itu, dan kemudian adakanlah satu kerjasama internasional atas dasar “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”. Yakni adakanlah satu kerja-sama antara bangsa-bangsa, zonder diskriminasi apapun, – seharkat, sederajat, semartabat, dengan tidak membeda-bedakan warna kulit, tidak membeda-bedakan asal keturunan, tidak membeda-bedakan keyakinan agama, ideologi politik, corak peradaban, atau sistim sosial.

Cita-cita yang demikian itulah cita-cita-hidupnya bangsa Indonesia dalam hubungannya antar-bangsa. Cita-cita yang demikian itu, tidak lain tidak bukan adalah satu pemancaran atau refleksi daripada falsafah-kenegaraan Pancasila, – yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial. Dengan falsafah-kenegaraan ini kita merasa berbahagia. Dengan falsafah-kenegaraan ini kita merasa kuat. Dengan falsafah-kenegaraan ini kita menjelmakan dan menjalankan politik Negara kita di lapangan internasional.

“Bhinneka Tunggal Ika” pun bukan hanya melukiskan kesatuan bangsa kita ke dalam saja, “Bhinneka Tunggal Ika” melukiskan juga anggapan bangsa Indonesia tentang bagaimana harusnya hubungan bangsa-bangsa di bawah kolong langit ini: “berbeda-beda, tetapi satu”. Dengan “Bhinneka Tunggal Ika” dan Pancasila, kita yakin dapat menjadi anggauta yang baik dalam keluarga bangsa-bangsa. Dengan “Bhinneka Tunggal Ika” dan Pancasila kita berjalan terus. Dengan “Bhinneka Tunggal Ika” dan Pancasila, kita, prinsipiil dan dengan perbuatan, berjoang terus melawan kolonialisme dan imperialisme di mana saja, dan menyumbangkan diri kita kepada usaha menjelmakan kerjasama merdeka antar-bangsa dan perdamaian internasional.

Dengan “Bhinneka Tunggal Ika” dan Pancasila, kita menyesuaikan hidup kita ini dengan Iramanya Kodrat …

Saudara-saudara bangsa Indonesia, anak-anakku sekalian!

Demikianlah cita-cita kita, bangsa Indonesia! Peliharalah cita-cita ini tetap menyala-nyala di dalam dadamu! Mempunyai cita-cita berarti mempunyai pegangan-batin dan arah-hidup yang tentu. Sungguh miskinlah seseorang manusia yang tidak mempunyai cita-cita, atau sesuatu bangsa yang tidak mempunyai cita-cita. Dan engkau bangsa Indonesia, tetap berusahalah mati-matian untuk mewujudkan cita-citamu itu.

Bintang-bintang di langit memang menujumkan kebesaran Indonesia di masa yang akan datang, tetapi ngelamun memandang bintang-bintang di langit tak ada gunanya sepeserpun juga. Jangan ngelamun, berusahalah mewujudkan segenap cita-citamu mati-matian!

Tetapi kehendak mencapai satu cita-cita harus disertai dengan pembangunan kekuatan di dalam diri kitn sendiri duhulu. Bangunlah kekuatan itu, susunlah ia tingkat demi tingkat, galilah ia batu-demi-batu, gemblenglah ia gumpal-demi-gumpal! Kita sekarang, meski sudah sembilan tahun merdeka, baru ampat tahun dalam alam pembangunan, – kita sekarang masih dalam tingkat penyusunan batu-batu permulaan, dalam tingkat penegakan saka-guru-saka-guru yang pokok lebih dahulu.

Empat jumlahnya saka-guru itu, dan camkanlah jenis-jenisnya:

pertama, peliharalah dan pertahankanlah kesatuan tanah-air Indonesia dalam satu ikatan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, dari Sabang sampai ke Merauke;

kedua, bangunlah organisasi ekonomi nasional kita;

ketiga, peliharalah keutuhan Angkatan Perang kita atas dasar Proklamasi 17 Agustus 1945;

keempat, siapkanlah pemuda kita, latihlah pemuda kita, gemblenglah pemuda kita, sebagai generasi yang bertanggungjawab atas hari-depannya Negara dan hari-depannya Bangsa!

Empat jumlahnya saka-guru itu. Keempat-empatnya masing-masing pada hakekatnya merupakan medan-bakti, lautan-bakti pembangunan, pembangunan Kekuatan Nasional. Terjunlah kamu sekalian ke dalam lautan-bakti itu! Terjunlah ke dalamnya, masing-masing menurut kecakapan sendiri-sendiri, masing-masing menurut panggilan-jiwa sendiri-sendiri, dengan Semangat-Perintis yang berkobar-kobar-menyala-nyala di dalam dada, dengan Api-Idealisme yang menyundul angkasa.

Berikanlah jiwa-ragamu dengan mutlak! Jangan setengah-setenguh! Yang setengah-setengah tidak akan mendapat padi segegam, yang mutlak akan mendapat Dunia.

Vivekananda pernah berkata, bahwa sesuatu bangsa yang tenggelam hanyalah dapat diangkat oleh orang-orang yang jiwanya terbuat dari zatnya petir dan zatnya guntur.

Terjunlah ke dalam lautan-bakti itu dengan jiwa yang terbuat dari Zatnya Petir dan Zatnya Guntur!

Moga-moga Tuhan selalu beserta kita!

Sekianlah!

Terima kasih!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 58 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar