Home » 2017 » August » 17 » BERIRAMA DENGAN KODRAT
2:32 PM
BERIRAMA DENGAN KODRAT

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1954 DI JAKARTA.

Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat,
Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya,
Seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke,

Merdeka!

Dengan penuh minat saya telah mendengarkan pidato saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, yang mengandung banyak petunjuk-petunjuk dan anjuran-anjuran yang penting bagi kita, dalam menghadapi saat-saat yang sungguh meminta perhatian kita bersama.

Kita telah tiba pada hari ulang tahun kemerdekaan yang kesembilan! 

Allahu Akbar! Dulu orang berkata bahwa Republik Indonesia tidak akan tahan 8 minggu. Kini ia telah berusia lebih dari 450 minggu!

Kita bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa, bahwa Ia telah melindungi dan menuntun Negara dan Bangsa kita, hingga kita dengan selamat telah sampaikepada hari yang berbahagia sekarang ini. Dan moga-mogalah, lindungan-Nya dan tuntunan-Nya itu tetap dikurniakan kepada Negara dan Bangsa Indonesia dalam memasuki tahun yang kesepuluh dari kehidupannya. Lindungan dan tuntunan Tuhan itu sangat kita perlukan, dan sangat kita mohonkan. Sebab, masa depan yang akan kita masuki, sudahlah menampakkan gejala-gejala yang menunjukkan akan datangnya masa yang lebih berat.

Ya, lebih berat. Bukan saja oleh karena gejala-gejala dari luar memang telah menunjukkan akan menjadi tambah beratnya perjoangan kita sebagai Bangsa dan Negara, tetapi juga oleh karena tambah beratnya barang sesuatu memang sudah kodratnya sekalian Hidup: Makin kita bertambah dewasa, makin besar dan makin beratlah tugas-tugas yang dipikulkan di pundak kita.

Karena itu, maka pagi-pagi kita harus memperbesar dan memperdalam rasa tanggung-jawab kita, baik sebagai manusia, maupun sebagai bangsa.

Tanggungjawab terhadap kepada siapa? Tanggungjawab terhadap kepada kita sendiri. Tanggungjawab terhadap kepada seluruh Kemanusiaan. Tanggungjawab terhadap kepada Tuhan. Maka justru karena tanggungjawab itulah, kita harus berjalan terus dan berjoang terus. Berjoang terus, kalau perlu mati-matian.

Berjoang terus, untuk memenuhi Proklamasi 17 Agustus 1945. Berjoang terus, karena tidak mau mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dalam merayakan sewindu usia Republik Indonesia, tepat setahun yang lalu, saya telah berkata: “Di dalam perikehidupan kita sebagai bangsa, kitapun dalam windu pertamanya kemerdekaan kita itu, mengalami kelananya “baik” dan “buruk”, kelananya “plus” dan “min”, kelananya “tenaga-membangun” dan “tenaga-membinasa”, – kadang-kadang berganti-ganti, kadang-kadang campur-aduk-berbarengan laksana hamuknya elemen-elemen di dalam putaran angin-puyuh. Dan saya kira, kelana ini akan berjalan terus, oleh karena Hidup memang pada hakekatnya adalah kelana-hebat antara baik dan buruk, antara plus dan min, antara tenaga-membangun dan tenaga-membinasa” .

Demikianlah aku berkata setahun yang lalu. Dan nyatalah, dalam setahun yang baru lalu ini, kita tidak terhindar dari kelana-kelananya anasir-anasir-pembinasa di tubuh Negara dan masyarakat kita. Memang masih saja ada orang-orang yang belum menginsyafi arti tanggungjawab nasional. Misalnya masih saja ada gerombolan-gerombolan bersenjata yang mencoba memaksakan keinginannya dengan kekerasan senjata, dengan akibat kekacauan, penderitaan rakyat, pertumpahan darah rakyat, pembinasaan kebahagiaan rakyat.

Tetapi sebaliknyapun, tenaga-tenaga baik, tenaga-tenaga pembangun yang positif, ada pula di masyarakat kita, dengan jumlah yang lebih banyak dan potensi yang lebih kuat. Tubuh Negara – dan masyarakat dapat mengerahkan tenaga-tenaga baik itu laksana antitoxine (yakni zat-penentang), yang membinasakan kuman-kuman yang hendak mengacaukan dan melumpuh-kan badan kita itu, dalam satu proses hidup yang mentakjubkan. Bangsa kita memang bangsa yang ulet! Kalau bukan satu bangsa yang “otot kawat balung wesi”, toh nyata satu bangsa yang vital!

Nyata bahwa tubuh Negara dan masyarakat kita memiliki cukup resistensi, jasmani dan rokhani, – yang menandakan besarnya kevitalan bangsa kita itu. Biar ada penyakit-penyakit dan gangguan-gangguan tubuh, – daya-penangkis dalam tubuh kita selalu ada. Dan yang penting ialah adanya daya-penangkis itu, adanya resistensi itu. Selama di dalam tubuh Negara dan masyarakat kita terdapat cukup antitoxine-antitoxine, selama kita cukup memiliki tenaga-tenaga penangkis, lebih tegas lagi selama kita cukup memiliki tenaga-tenaga positif, maka kita tidak perlu khawatir akan nasib bangsa kita di kemudian hari!

Sembilan tahun kemerdekaan, kiranya telah cukup membuktikan, bahwa tubuh Negara dan masyarakat kita mampu bertahan terhadap cobaan-cobaan zaman, bahkan mampu bertahan terhadap hantaman-hantaman palu-godamnya musuh dan palu-godamnya kontra-revolusi. Tidak perlu saya mengulangi lagi menceritakan peristiwa-peristiwa dahsyat yang menggambarkan kemampuan-kemampuan kita itu. Kita tidak akan melupakannya, dan anak-anak-cucu kita, buyut-buyut-canggah-waremg kita, akan tetap menceritakannya setiap kali mencorong bulan purnama. Yang pokok ialah kenyataan, bahwa kita ini semakin tegak dan semakin kuat, dan – bahwa kita berjalan terus. Berjalan terus dengan penuh keyakinan!

Bukan saja akan adil dan benarnya kita punya perjoangan, tetapi juga keyakinan yang ditumbuhkan oleh Sejarah-Nasional kita.

Bahwa kita cukup memiliki tenaga-tenaga pelaksana, dan dapat mengatasi segala kesulitan-kesulitan. Dapat mematahkan segala rintangan-rintangan dan halangan-halangan, kalau perlu: menghantam hancur-lebur segala penentangan-penentangan dan segala perlawanan-perlawanan. Keyakinan itulah memberi ketetapan hati kepada kita semua, dalam berjalan terus memasuki masa yang di hadapan kita ini. Bagaimanakah masa sekarang ini, yang daripadanya kita akan meneruskan perjalanan kita itu?

Pertama, kita terus berusaha mengembalikan keamanan. Dengan tangan terbuka kita menerima saudara-saudara yang tadinya pengacau, tetapi yang sudah berbalik pikir, ke dalam masyarakat kembali. Tetapi dengan tangan besi kita hantam terus orang-orang yang tetap mengacau Negara dan Masyarakat.

Alhamdulillah, usaha pengembalian keamanan menunjukkan kemajuan juga. Kekuatan Daud Beureueh sudah kecil, di Kalimantan tampak kemajuan, di Sulawesi Selatan idem, di Jawa Barat idem. Kita teruskan usaha mengembalikan keamanan dengan penuh kegiatan.

Kedua, kita sekarang ini berada di tengah jalan ke arah penyempurnaan kehidupan demokrasi: Kita sedang dalam usaha mempersiapkan pemilihan umum. Kehidupan demokrasi kita memang masih perlu disempurnakan. Sembilan tahun kita telah terus-menerus berusaha menyempurnakan demokrasi kita itu, dan selalu kita menggunakan lembaga-lembaga demakrasi, bagaimanapun kurang sempurnanya, sebagai alat untuk memecahkan bermacam-macam persoalan besar-kecil. Tak pernah kita melepaskan azas demokrasi itu, yang memang telah hidup di tengah-tengah masyarakat kita sebagai azas yang diwariskan oleh nenek-moyang kita dari abad keabad turun-temurun.

Undang-undang Dasar kita yang sejak Proklamasi telah mengalami beberapa perobahan itu, selalu menegaskan di dalam mukadimahnya, bahwa kemerdekaan kita harus disusun berdasarkan Pancasila, yang antara lain mengandung sila Kerakyatan dan Keadilan Sosial. Sila Kerakyatan dan Keadilan Sosial ini merupakan elemen-elemen yang penting di dalam cita-cita Revolusi Nasional kita. Kedua-duanya merupakan api-penyemangat Revolusi kita, Api-Pembakar Revolusi kita. Kedua-duanya merupakan tuntutan dari Revolusi kita, dan tuntutan kepada Revolusi kita pula.

Ya, tuntutan kepada Revolusi kita! Kita tidak bisa menuntut pelaksanaan cita-cita itu kepada orang lain, kita harus menuntutnya kepada diri kita sendiri. Cita-cita itu hanya mungkin diwujudkan dengan penggegapgempitaan semangat kita sendiri, pembangkitan kemauan kita sendiri, pembantingan-tulang perbuatan-perbuatan kita sendiri.

Sudahkah kita bersemangat? Dan sudahkah kita berkemauan? Dan sudahkah kita berbuat?

Sudah!

Bersemangat kita sudah, berkemauan kita sudah, berbuat kita sudah. Pendek-kata bertribakti kita sudah. Tetapi nyata belum sebagai diperlukan untuk penglaksanaan daripada tuntutan-tuntutan Revolusi kita itu, in casu Kerakyatan dan Keadilan Sosial.

Tetapi kita memang tidak tinggal diam, kita bekerja terus dan berjalan terus setapak-demi-setapak. Dalam rangka sila Kerakyatan, Dewan Perwakilan Rakyat kita, yang masih bersifat sementara itu, telah berhasil menyusun Undang-undang No. 7 tahun 1953, yakni Undang-undang Pemilihan Umum.

Undang-undang Pemilihan Umum ini telah disusul dengan rangkaian tindakan-tindakan yang nyata pula. Peraturan-peraturan Pemerintah untuk pelaksanaannya telah dibuat, Panitia Pemilihan Indonesia di Pusat telah dilantik dan bekerja, Panitia-Panitia Pemilihan di Daerah telah disusun, Panitia-Panitia Pembantu telah dibangun, Pendaftaran pemilihpun telah berjalan.

Roda penyempurnaan demokrasi mulai berjalan. Saya ingin menyampaikan penghargaan saya kepada semua tenaga yang sudah bekerja dengan sekeras-kerasnya agar supaya pemilihan umum ini dapat terlaksana.

Terutama kepada tenaga-tenaga pendaftar saya sampaikan penghargaan saya itu. Siang dan malam mereka terus-menerus mengunjungi rumah demi rumah untuk menjalankan tugasnya. Zonder mereka, pemilihun umum tak akan dapat terjadi. Kesulitan-kesulitan besar mereka jumpai, bahaya-bahaya ngeri mereka temui. Kekurangan alat-alat perhubungan, terpencilnya tempat-tempat yang harus dikunjungi, seret-sempitnya pembeayaan, ada pula pembunuhan oleh gerombolan-gerombolan bersenjata, – semua itu mereka hadapi dengan hati tabah, karena keyakinan menjalankan tugas nasional yang luhur dan suci. Kepada mereka saya ucapkan saluut kehormatan.

Penyelenggaraan pemilihan umum ini, dalam keseluruhannya, memang bukan satu pekerjaan yang mudah. Memang kita baru pertama kali inilah menyelenggarakan pemilihan umum itu. Kita belum mempunyai pengalaman yang cukup dalam lapangan penglaksanaannya. Kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangan bertimbun-timbun menghadang di tengah jalan. Tetapi, apakah kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangan itu boleh menjadi sebab kita urungkan penglaksanaan pemilihan umum itu? Tidak! Sekali-kali tidak! Tiap-tiap pekerjaan baru memang selalu mengandung beberapa kesulitan dan kekurangan. Soalnya ialah justru

“now to get it done” ondanks kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangan itu!

Pemilihan umum harus, sekali lagi harus kita laksanakan, untuk memenuhi cita-cita Revolusi Nasional kita, – untuk memenuhi tuntutan Revolusi Nasional kita kepada Revolusi Nasional kita itu!

Ya, harus! Ini adalah tugas Nasional! Dan tidak saja rakyat Indonesia-lah yang menunggu-nunggunya, seluruh duniapun melihat dan sangat memperhatikan Pemilihan Umum yang pertama di Indonesia ini. Bahkan ada beberapa fihak luar pagar yang meragu-ragukan kemampuan kita menyelenggarakan pemilihan umum ini, dan ada pula yang mengharap-harapkan gagalnya usaha kita ini, karena mereka tak senang melihat di Indonesia nanti datang stabilisasi politik. Bahkan ada pula yang lebih dari memperhatikan saja, tetapi juga mencantelkan harapan-harapan tertentu kepada hasil pemilihan itu, dan diam-diam memang telah aktif bekerja pula untuk terwujudnya harapan-harapan tertentu yang dicantelkannya itu!

Oleh karena itu, saya peringatkan dengan penuh kesungguhan kepada seluruh bangsa Indonesia, yang nanti akan menggunakan hak pilih itu, dan kepada semua pemimpin-pemimpin kepercayaan rakyat: waspadalah, waspadalah! Jangan lengah terhadap segala sesuatu yang dapat mengeruhkan kepentingan nasional kita! Tujukanlah arah-matamu melulu kepada kepentingan nasional kita itu! Jangan lupa sekejap matapun, bahwa yang dapat menjamin hak menentukan nasib Indonesia, bukan orang lain, melainkan bangsa Indonesia sendiri!

Dan, – sebagai sudah kukatakan berulang-ulang, janganlah pemilihan umum ini nanti menjadi arena pertempuran politik, demikian rupa, hingga membahayakan keutuhan bangsa. Gejala-gejala akan timbulnya pertajaman pertentangan-pertentangan antara kita sama kita telah ada, gejala-gejala akan karamnya semangat toleransi sudah muncul. Ai, tidakkah orang sedar, bahwa zonder toleransi maka demokrasi akan karam, oleh karena demokrasi itu sendiri adalah penjelmnan daripada toleransi? Apakah saudara menghendaki, di dalam kampanye pemiliham umum ini lahir hantu-hantu yang amat berbahaya, yaitu hantu Kebencian dan hantu Panas-panasan Hati? Lahirkanlah hantu-hantu itu, dan saudara nanti akan melihat, bahwa demokrasi akan ditelan bulat-bulat oleh anak-anak-durhakanya sendiri. Maka demokrasi yang saudara cita-citakan itu akan musnalah. Persatuan Bangsa akan musnalah. Kekuatan Bangsa akan musnalah. Kejayaan Revolusi Nasional akan musnalah. Dan yang nanti tinggal ialah teror dan anarchie, kekacauan dan sembelih-sembelihan, dengan gelaknya musuh yang terbahak-bahak karena terjadi apa yang oleh mereka dikehendaki.

Demokrasi, kataku tempo hari, adalah alat. Alat untuk mencapai Masyarakat adil-makmur yang sempurna. Pemilihan umum adalah alat untuk menyempurnakan demokrasi itu. Pemilihan umum adalah dus sekedar alat untuk menyempurnakan alat. Kalau hantu kebencian dan hantu panas-panasan-hati lahir dan merajalela karena pemilihan umum itu, kalau keutuhan bangsa berantakan karena pemilihan umum itu, kalau tenaga bangsa remuk-redam karena pemilihan umum itu, maka benarlah apa yang kukatakan tempo hari, bahwa di sini “alat lebih jahat daripada penyakit yang hendak disembuhkannya”, – bahwa di sini “het middel is erger dan de kwaal”.

Apa sebab orang mudah lupa-daratan dan lantas panas-panasan-hati dalam mempropa-gandakan keyakinan masing-masing dalam kampanye pemilihan umum itu, sehingga membahayakan persatuan bangsa? Oleh karena banyak orang lupa memperhatikan tujuan (doel) pemilihan umum ini yang sewajarnya.

Apakah tujuan pemilihan umum ini yang sewajarnya? Tak lain tak bukan ialah untuk memilih Konstituante (dan D.P.R.), untuk menyusun Undang-undang Dasar tetap bagi Negara yang kita proklamirkan pada 17 Agustus 1945. Saya ulangi: bagi Negara yang kita proklamirkan pada 17 Agustus 1945, – bukan bagi sesuatu negara lain, bukan bagi sesuatu negara baru. Dengan pemilihan umum ini, dengan pembentukan Konstituante ini, kita hendak membentuk Undang-undang Dasar yang tetap, untuk menyempurnakan Undang-undang Dasar kita yang masih bersifai sementara sekarang ini, dengan tetap setia kepada cita-cita Revolusi Nasional kita. Sekali lagi: dengan tetap setia kepada cita-cita Revolusi Nasional kita, yang untuk itu ribuan pemuda kita telah mati, jutaan rakyat-jelata telah berkorban, segenap rakyat Indonesia telah berjoang puluhan tahun. Pemilihan umum yang akan datang tak lain tak bukan hanyalah satu jalan penyempurnaan saja secara demokratis untuk melanjutkan usaha pelaksanaan cita-cita Revolusi Nasional kita itu. Siapn yang dalam pemilihan umum ini menyimpang dari cita-cita-asli Revolusi Nasional kita itu, ia tidak setia kepada Revolusi Nasional, ia menyalahi kepada Revolusi Nasional!

Buat apa kita pada hari ini merayakan hari ulang tahun Proklamasi 17 Agustus? Justru oleh karena kita setia kepada cita-cita Revolusi Nasional. Buat apa kita harus mengadakan pemilihan umum nanti? Oleh karena kita harus setia kepada cita-cita Revolusi Nasional. Buat apa kita dalam Konstituante nanti, dalam usaha menyusun Undang-undang Dasar tetap, tak pantas menyimpang dari dasar-dasar-permulaan daripada Revolusi Nasional? Oleh karena dalam dasar-dasar-permulaan daripada Revolusi Nasional itu telah tercerminkan dengan terang cita-cita Revolusi Nasional, dan kita tidak boleh tidak-setia kepada cita-cita Revolusi Nasional.

Satu setengah tahun yang lalu, dalam pidato memperingati 45 tahun usianya Pergerakan Nasional Indonesia, aku, dalam membandingkan Pergerakan Nasional itu dengan sebuah sungai, telah berkata: “Dalam ia menuju ke laut, sungai setia kepada sumbernya”. “Door naar de zee toe te stromen, is de rivier trouw aan haar bron”. Sungai setia kepada sumbernya, – tidakkah bangsa Indonesia dapat setia pula kepada cita-cita asli daripada Revolusi Nasionalnya?

Ah, saudara-saudara, Revolusi Nasional kita belum selesai. Pelaksanaan cita-cita Revolusi Nasional kita belum selesai. Pelaksanaan cita-cita Revolusi Nasional itu hanya mungkin dilakukan dan diselamatkan, apabila ia didukung oleh kekuatan yang dahulu telah menghidupi dan menyalakan cahaya Proklarnasi 17 Agustus 1945.

Dan apakah kekuatan itu? Kekuatan itu ialah persatuan seluruh bangsa Indonesia dan kesatuan-tekad seluruh bangsa Indonesia.

Lupakah kita kepada hebatnya persatuan bangsa dan hebatnya kesatuan-tekad bangsa pada saat menyambut Proklamasi 17 Agustus 1945?

Lupakah kita kepada kesyaktiannya persatuan bangsa dan kesyaktiannya kesatuan-tekad bangsa pada saat-saat mempertahankan Proklamasi itu?

Sekali lagi aku peringatkan, Revolusi Nasional kita belum selesai, pelaksanaan cita-cita Revolusi Nasional kita belum selesai. Hanya persatuan bangsa dan kesatuan-tekad bangsalah dapat menyelamatkan Revolusi Nasional kita itu, dan dapat melakukan pelaksanaan cita-cita Revolusi Nasional kita itu.

Barangkali tidak ada orang lain di Indonesia ini, yang dapat mengatakan ini dengan sekian banyak keyakinan dan ketandasan. Lihat, aku ini dijadikan Presiden Republik Indonesia telah sembilan tahun. Sebagai Presiden, Alhamdulillah, aku berkesempatan mengunjungi hampir semua daerah Republik, juga yang paling jauh letaknya dari Pusat, sampai dekat kepada Irian. Aku kenal hampir semua bagian-bagian Negara kita, di Utara, di Selatan, di Barat, di Timur. Di mana-mana aku disambut oleh rakyat berbondong-bondong, di mana-mana aku mendekatilah rakyat itu, dan sering bergaul dengan rukyat itu. Aku membaca semboyan-semboyannya, aku mendengarkan jerit isi-hatinya, aku melihat sinar-matanya dan harapan-harapan yang terpancar dari dalamnya. Tidak ada Kepala Negara di seluruh muka-bumi ini, yang begitu sering dan begitu banyak berhadapan dengan rakyatnya dari dekat, seperti aku ini. Aku mengatakan ini tidak dengan maksud menonjolkan diri. Aku tahu benar apa yang terkandung dalam kalbu sebagian yang terbesar daripada rakyat kita yang 80.000.000 ini. Aku boleh menamakan diriku ini barometer yang pertama daripada perasaan-perasaan sebagian terbesar daripada rakyat Indonesia. Maka percayalah perkataanku ini: Jikalau kita meninggalkan dasar-dasar-asli daripada Proklamasi kita ini, jikalau kita menyimpang daripada cita-cita-asli Revolusi Nasional kita ini, maka akan pecahlah persatuan bangsa kita, akan bengkahlah seluruh Negara dan Masyarakat kita. Akan berantakanlah Revolusi kita ini sebagai Revolusi Nasional.

Mungkin datanglah revolusi baru, revolusi apa: wallahualam! Maka ingatlah, ingat, jangan meninggalkan dasar-dasar-asli Proklamasi kita ini, jangan menyimpang dari cita-cita-asli Revolusi Nasional kita ini!

Marilah kita tetap rukun, bersama-sama tetap berdiri di atas dasar-dasar asli dan cita-cita-asli Revolusi kita itu!

Saudara-saudara!

Moga-moga Tuhan menyelamatkan dan memberi hidayat kepada Pemilihan Umum kita itu nanti. Dengan jalan Pemilihan Umum itu, kita hendak menyempurnakan dan membangun kehidupan politik. Ya, sekedar menyempurnakan dan membangun kehidupan politik. Sebab Pemilihan Umum bukanlah satu obat seribu-guna, yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit dalam kehidupan bangsa. Ia hanya satu alat, untuk memenuhi salah satu saja daripada cita-cita Revolusi Nasional kita. Ia hanya satu alat untuk menyernpurnakan kerakyatan atau demokrasi, en nog wel hanya di lapangan politik.

Stabiliteit politik yang hendak kita capai dengan Pemilihan Umum itu, harus disokong oleh adanya stabiliteit kehidupan ekonomi. Malah, kerakyatan politik yang hendak kita sempurnakan dengan jalan Pemilihan Umum itu, barulah bisa menjadi kerakyatan sejati, jikalau ada pula kerakyatan ekonomi.

Sudahkah ada kestabilan ekonomi di masyarakat kita ini? Kehidupan ekonomi kita masih mudah sekali diombangambingkan oleh faktor-faktor dari luar pagar. Pertentangan-pertentangan politik dan ekonomi negara-negara besar di dunia ini, yang masing-masing menjalankan machts-politieknya sendiri-sendiri, mempengaruhi benar harga-harga daripada bahan-bahan mentah kita yang hendak kita jual di pasaran dunin.

Machts-politiek mereka itu kadang-kadang mengakibatkan tindakan-tindakan di lapangan politik ekonomi mereka masing-masing, yang kurang atau samasekali tidak mengindahkan kepentingan  kehidupan ekonomi negara-negara yang masih muda ekonominya.

Oleh karena itu, sifat “tergantung” ini, harus selekas-lekasnya kita ubah, harus sekeras-keras-tenaga kita putar menjadi satu kehidupan ekonomi yang selfsupporting di dalam sektor-sektor yang menyangkut kehidupan rakyat-banyak sehari-hari.

Dalam hubungan ini aku menyatakan kegembiraan atas pesatnya usaha menambah persediaan makanan rakyat. Saluut kuucapkan kepada pekerja-pekerja di atas lapangan persediaan makanan rakyat itu! Dulu kita selalu terpaksa membeli banyak beras dari luar, sering-sering 600.000 ton setiap tahunnya, dalam tahun 1950 malahan 700.000 ton, atau 700.000.000 Kg. Dalam tahun ini kita hanya membeli 100.000 ton, dan hubaya-hubaya di tahun-tahun muka, tak perlu kita membeli beras dari luar-negeri lagi.

Sekali lagi saluut kepada semua pekerja di sektor ini! Terutama sekali kepada semua bapak-bapak tani, ibu-ibu tani, pemuda-pemudi tani, aku tak lupa menyampaikan saluut itu. Bahan makanan adalah kebutuhan elementer dari semua rakyat. Perhatian kita pertama-tama harus ditujukan ke situlah. Alangkah janggalnya jikalau Indonesia, yang terkenal scbagai negeri agraris, yang penduduknya 70% – 80% terdiri dari kaum tani, yang tanahnya amat subur, sehingga disebut orang “loh jinawi subur kang sarwa tinandur”, Indonesia yang luas tetapi yang masih banyak tanahnya yang kosong, – alangkah janggalnya jikalau Indonesia itu dalam alam kemerdekaan masih juga tergantung dari luar-negeri dalam memenuhi kebutuhan makanan rakyat!

Dari peribahasa “cukup sandang, cukup pangan”, maka “cukup pangan” melukiskanlah tuntutan yang paling mutlak. Andaikata kita terpaksa berhadapan dengan pilihan, manakah yang harus kita pentingkan lebih dahulu: hidup berpakaian sederhana tetapi dengan perut penuh kenyang, ataukah hidup berpakaian mewah tetapi dengan perut yang keroncongan sepanjang hari, – maka saya yakin, berjuta-juta rakyat akan memilih yang pertama. Kunci ketenteraman hidup adalah ketenteraman perut. “A hungry man is an angry man”. “Orang lapar adalah orang yang gusar !” Indonesia kataku tadi, adalah subur dan luas. Di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, di Halmahera, di Ceram, di Buru, di Irian Barat, masih menunggu berjuta-juta hektar tanah yang masih perawan, menunggu sentuhan tangan pemuda-pemuda untuk diolahnya dan dirobahnya menjadi daerah-daerah pertanian.

Karena itu, kepada pemuda-pemuda aku bertanya: kenapa kamu, harapan-harapan bangsa dan potensi-potensi bangsa, semua bertumpuk-undung berjejal-jejal menetap di pulau Jawa ini, di pulau Jawa yang sudah padat-penat ini? Mengapa kamu, yang sudah menyelesaikan pelajaran di kota-kota, tidak menyebarkan diri ke daerah-daerah yang masih perawan, yang lebih memerlukan tenagamu, fikiranmu, pimpinanmu? Pada permulaan Revolusi kita, aku melihat semangat-perintis (pioniersgeest) mulai berkembang., maka, – di manakah semangat-perintis itu sekarang, yang dahulu telah mulai menyala-nyala di dalam dadamu, sehingga banyak dari kamu yang tadinya calon pemegang-pena menjadi pemuda pemegang bedil?

Kecuali di lapangan makanan-rakyat, kitapun bercita-cita mendirikan industri nasional yang dapat menghasilkan kebutuhan rakyat sehari-hari, agar supaya kehidupan ekonomi kita tidak selalu terombang-ambingkan oleh gelombang-gelombangnya pertentangan-pertentangan politik internasional. Kita harus lekas, lekas menjadi satu bangsa yang stabil di lapangan ekonomi. Industrialisasi memerlukan empat hal : Ia memerlukan modal; ia memerlukan bahan-bahan mentah; ia memerlukan tenaga-tenaga pekerja; ia memerlukan tenaga-ahli. Dan di atas empat hal ini, laksana “pewahyu” daripada empat hal ini, Semangat-Perintis, Semangat Pionirlah harus bertakhta sebagai Cakrawarti.

Bahkan Semangat Pionir itulah yang dapat menjelmakan beberapa daripada empat hal yang diperlukan itu. Marilah kita tinjau. Bahan mentah tidak kurang, sebab tanah-air kita berlimpah-limpah memiliki bahan-bahan mentah itu, – “kesampar-kesandung” di mana-mana kita pergi. Tenaga-pekerjapun tidak kurang; sebagai semut 80.000.000 manusia mendiami beberapa daerah kepulauan kita ini. Tinggal modal, dan tinggal tenaga-ahli.

Apakah benar bangsa Indonesia ini tidak mempunyai modal? Modal ada, saudara-saudara! 80.000.000 jumlah kita, 16.000.000 somahlah kita ini kalau tiap-tiap keluarga direken terdiri dari lima jiwa, – tidakkah 16.000.000 keluarga ini dapat mengumpulkan Rp. 16.000.000 tiap-tiap bulan, (hanya serupiah sebulan sekeluarga!) atau 12 X Rp. 16.000.000 = Rp. 192.000.000 setahunnya? Dus nyata modal ada, sekali lagi: modal ada!

Akan tetapi soalnya terletak pada kecakapan mengaturnya, mengorganisir uang yang terserak-tersebar di dalam masyarakat itu, hingga menjadi satu modal yang mempunyai gaya hidup.

“Modal hidup” adalah modal yang dapat menciptakan sumber-sumber kehidupan baru. Sekarang ini berjuta-juta rupiah tersebar di dalam masyarakat, berjuta-juta rupiah berada di dalam sakunya jutaan Pak Marhaen dan mBok Sarinah, akan tetapi masih sedikit sekali yang diorganisir menjadi suatu pangkal untuk menghasilkan suatu usaha yang lebih besar dan lebih produktif. Uang-terserak-tersebar yang berjuta-juta itu menunggu tangannya Bambang Sukasrana Ekonomi, yang dengan tuah dan gaya yang syakti menghimpunnya, mengorganisirnya, dan mengomandokan kepadanya komando yang berbunyi: “Berhimpunlah hai uang, bangkitlah dari tidurmu yang improduktif itu, bangkitlah menjadi modal besar yang hidup, – modal-besar yang dapat menciptakan sumber-sumber kehidupan baru!”   .....selanjutnya>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 43 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar