Home » 2017 » July » 12 » BERILAH ISI KEPADA HIDUPMU!
1:27 PM
BERILAH ISI KEPADA HIDUPMU!

<<<sebelumnya.....   Saudara-saudara! Kita berjalan terus. Siapa mandek akan mati! Roda sejarah berputar dengan tak mengenal berhenti. Kita bangsa Indonesia bersama-sama dengan bangsa-bangsa Asia-Afrika lainnya masih di dalam kancahnya perjoangan-umum untuk membersihkan dunia ini dari kutu-kutunya kolonialisme. Kita bersama-sama dengan mereka harus mengerahkan seluruh tenaga kita untuk mcnggugur-kan singgasana penjajahan. Oleh karena itu, dari tempat ini dan pada hari yang keramat bagi kita ini, saya menyatakan salut-kehormatan kepada semua pahlawan-pahlawan penggempur kolonialisme, semua pahlawan-pahlawan dari segala bangsa, yang telah gugur atau sedang menderita karena perjoangan kemerdekaan. Saya serukan kepada mereka, bahwa segenap rakyat Indonesia berdiri di belakangnya, sebab rakyat Indonesia tidak dapat netral, sekali lagi tidak dapat netral, dalam menghadapi pertarungan antara penjajahan dan kemerdekaan. Saya ulangi sekarang juga ucapan saya di Cairo tahun yang lalu, bahwa kita sahabat Mesir dan tak kenal kompromi dalam perjoangan melawan kolonialisme. Kita cinta damai, sungguh kita cinta damai, tetapi hanya damai tanpa kolonialisme. Untuk menghancur-leburkan koloniaIisme itu diperlukan konsentrasi, pemusatan segenap tenaga-tenaga anti-kolonialisme. Jangan kita memboroskan tenaga dan waktu dengan bercekcok-bercecengilan antara kita sama kita, dan antara sesama bangsa-bangsa Asia-Afrika. Berjoanglah kita terus melawan penjajahan, dengan segala cara yang dapat dipakai, lewat segala jalan yang dapat ditempuh, di atas segala forum dunia yang kini ada, dalam segala rasa tanggungjawab internasional yang harus dipikul sebagai Negara yang tahu harga-diri.

Dunia sekarang gempar karena nasionalisasi Terusan Suez. Pendirian Indonesia jelas dan tegas: Indonesia mengakui hak Mesir sebagai negara merdeka dan berdaulat untuk menasionalisasi Terusan Suez. Indonesia mengharap, supaya persiapan-persiapan damai, sesuai dengan jiwa Konperensi Asia-Afrika dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Indonesia menaroh kepercayaan penuh kepada jaminan Mesir, bahwa Terusan Suez akan tetap terbuka untuk perlalu-lintasan internasional.

Indonesia ikut menghadiri Konperensi London yang dibuka kemarin itu. Indonesia ke sana itu dengan ketegasan, bahwa ia tidak merasa terikat kepada premisse-premisse yang ditentukan oleh penyelenggara-penyelenggara Konperensi itu. Indonesia pergi kesana itu dengan berdiri teguh atas segala pernyataan yang telah ia nyatakan dalam Statement Pemerintah mengenai persoalan Terusan Suez sepuluh hari yang lalu. Indonesia pergi ke sana untuk membela hak-daulat Mesir dan untuk membela perdamaian.

Ya, tegas dan jelas pendirian Pemerintah Indonesia itu! Nasionalisasi Terusan Suez adalah hak Mesir yang berdaulat, yang tak boleh diganggu-gugat! Malahan saya tambah di sini: Terusan Suez bukan saja soal Mesir, tetapi soal semua negeri-negeri jajahan, soal semua negara-negara yang baru merdeka. Terutama semua bangsa-bangsa Asia-Afrika sekarang ini harus mengadakan ”call”: Hands off Egypt! – Jangan sentuh Mesir, jangan ganggu-gugat Mesir! Kalau tergantung dari saya, maka dengan segera saya niscaya panggil Konperensi Asia-Afrika yang kedua untuk membicarakan call ini!

Di luar-negeri tempo hari saya katakan, bahwa bantuan ataupun simpati yang kita berikan kepada perjoangan-kemerdekaan bangsa-bangsa lain dan self-realisasinya bangsa-bangsa lain, bukanlah karena perhitungan untung-atau-rugi, melainkan karena “it is a matter of principle”, yakni karena soalnya adalah soal pendirian, soal azas, soal prinsip: Prinsip antikoloniolisme, prinsip hak merdeka, prinsip hak self-realisasi. Prinsip satu dunia-baru yang terdiri dari bangsa-bangsa yang merdeka, prinsip perhubungan-baik antara semua bangsa-bangsa dalam suasana kemerdekaan, perdamaian dan persaudaraan, prinsip “world-brotherhood of man”. Sungguh, kita cinta damai, kita mencari damai, kita membanting tulang untuk menyumbang ke arah damai, tetapi damai tanpa penjajahan, sebab damai-sejati tak mungkin dengan penjajahan.

Kenapa masih ada saja bangsa-bangsa yang tak mengerti akan hal ini? Kenapa masih ada saja bangsa-bangsa yang menjalankan kolonialisme dan imperialisme, terang-terangan atau tertutup?

Lihat kepada hubungan Indonesia-Belanda! Selama hubungan Indonesia-Belanda ini masih dinodai oleh soal kolonialisme, sampai lebur-kiamat jangan mengharapkan hubungan itu meluncur lancar, melaju licin, apalagi menguntungkan. Malahan sebaliknya! Salah-salah hubungan itu dapat menjadi kocar-kacir-kececeran samasekali, yang pada akhirnya, merugikan bukan kita, tetapi rakyat Belanda sendiri. Energi rakyat Belanda, yang dulu dalam abad keenambelas meruntuhkan tyranny Spanjol, – tyranny “die mij mijn hert doorwondt” kata Prins Willem van Oranje -, energi rakyat Belanda yang dalam abad kesembilanbelas mengusir penjajahan Perancis, dalam abad keduapuluh turut menggemblèng palu-godam penghantam penjajahan Nazi, – jikalau energi rakyat Belanda itu sekarang dikerahkan untuk mencuci-bersih tubuh negara Belanda daripada kolonialisme yang dibangunkan olehnya sendiri, maka yang demikian itu terutama sekali akan membawa kebaikan kepada bangsa Belanda sendiri.

Bukankah satu ironi dalam sejarah, bahwa satu bangsa, yang telah tiga kali dalam perjalanan hidupnya mati-matian berjoang melawan penjajahan, sekarang, justru dalam abad progresif ini, mati-matian pula mempertahankan kolonialisme yang ia jalankan di Irian Barat?

Dan bukan saja satu ironi sejarah, “There must be something wrong in the Dutch mental structure”, – “tentu ada sesuatu hal yang bejat dalam susunan mental bangsa Belanda itu” – , demikianlah pernah saya dengar di luar-negeri. Mereka ingin bersahabat dengan Indonesia tetapi mereka melukai hati Indonesia. Mereka ingin “goede betrekkingen” dengan Indonesia, tetapi mereka menjajah sebagian dari wilayah Indonesia. Mereka ingin bahu-membahu dengan Indonesia, tetapi sebagian dari mereka, dalam bicara dan dalam tulisan, dalam ucapan dan dalam perbuatan, in woord en in geschrift, in woord en in daad, seringkali mengata-ngatai kita, memburuk-burukkan kita, mengobral-obral omongan yang menodai kehormatan kita dan melukai rasa-halus kita. Inilah yang dinamakan “something wrong” yaitu “barang bejat” dalam susunan mental sebagian orang Belanda itu. Tidak difikirkan bahwa kalau ingin hubungan baik, janganlah ngobral-omongan cara begitu. Tidak difikirkan, bahwa kalau ingin goede betrekkingen, janganlah mengkoloni kita lagi. Tidak difikirkan, bahwa masih beribu-ribu warga-negara Belanda dapat menemukan nafkah-hidup yang amat baik di Indonesia, meskipun Indonesia telah merdeka. Tidak difikirkan, bahwa bumi Indonesia masih dapat memberikan dividend yang amat baik bagi modal Belanda, meskipun Indonesia sudah bukan Hindia-Belanda lagi. Tidak difikirkan, bahwa – ya, katakan keuangan Indonesia kocar-kacir, produksi mundur, keamanan belum beres, pendidikan belum sempurna, administrasi belum running well, – katakan segala keburukan itu, tetapi toh rakyat Indonesia yang 80.000.000 itu pada hari ini ternyata mampu merayakan Kemerdekaannya yang sudah sebelas tahun!

Katakan apa yang engkau mau kata, – kami berjalan terus! Dan sungguh, posisi kita tidak menjadi lemah oleh karenanya. Siapa yang berjoang dengan sungguh-sungguh di atas jalan yang benar, ia tidak akan dihina orang, melainkan malahan ia akan naik dipandang orang. Siapa yang menjunjung tinggi self-respect, – meski ia miskin-papa-sengsara, jembel telanjang bulat, makan kulit ubi setiap hari, – orang akan mempunyai respect kepadanya.

Lihat, saudara-saudara! Tadi saya sebutkan dua macam ironi, yaitu ironi dalam sejarah Belanda, dan ironi dalam tata-fikirnya. Ada satu ironi lagi yang mengenai mereka itu! Saudara-saudara ingat, bahwa tatkala ada suara-suara bahwa kita hendak membatalkan perjanjian K.M.B. secara sefihak, fihak imperialis dan kolonialis geger mengatakan bahwa perbuatan semacam itu akan merusakkan nama Indonesia di dunia internasional. “Indonesia akan kehilangan kepercayaan dunia samasekali dan akan kehilangan respect dunia samasekali!”, demikianlah nujuman mereka itu. Tetapi apa terjadi? Begitu perjanjian K.M.B. itu kita sobek-sobek setcara unilateral, begitu sobekan-sobekan itu kita masukkan ke dalam keranjang-kotoran, – membanjirlah undangan-undangan dari mana-mana kepada Presiden Republik Indonesia untuk mengadakan perkunjungan-perkunjungan kenegaraan! Dengan undangan-undangan itu ternyata, bahwa kedudukun Indonesia dalam susunan dunia dimengerti dan diakui orang. Dengan undangan-undangan itu ternyata bahwa respect dunia yang dikatakan akan amblas itu malahan menaik. Dengan undangan-undangan itu ternyata bahwa common sense sebagian besar dari dunia adalah di fihak Indonesia.

Indonesia, sebagai sumber bahan-bahan mentah dan sebagai pasaran, diakui pentingnya bagi kesejahteraan dunia, dan kebudayaannya pun diakui dapat memberi sumbangan kepada kesejahteraan rokhani peri-kemanusiaan.

Perkunjungan Kepala Negara Republik Indonesia telah membuat dunia lebih rnengenal lagi akan hal itu. Lebih mengenal ia pula segala cita-cita bangsa Indonesia, lebih mengerti politik-luar-negeri kita yang bebas dan aktif, sehingga cita-cita dan sikap Indonesia terhadap pelbagai masalah dunia makin menjadi faktor yang tidak dapat disingkirkan dari perhitungan politik internasional. Jikalau dahulu politik-luar-negeri kita yang bebas dan aktif itu diragu-ragukan, disangsikan, dicurigai, bahkan dicemoohkan kadang-kadang, maka sekarang orang mengakui bahwa politik bebas itu mempunyai kedudukan tersendiri di samping politik-luar-negerinya negara-negara yang lain. Jikalau dahulu politik bebas itu dipandang sebagai politik yang antagonistis, maka sekarang orang sudah dapat  melihat, bahwa ia sebenarnya berjalan paralel dengan usaha dunia internasional untuk mengurangi ketegangan dan untuk memupuk perdamaian.

Asia-Afrika yang berpolitik bebas kini makin masuk dalam perhitungan! Nasib dunia kini tak dapat ditentukan lagi hanya dari dua pool-kekuasaan dan oleh dua pool-kekuasaan, yakni dari Washington dan dari Moscow.

Tidak! Nasib dunia sekarang ditentukan pula oleh adanya pool-pool yang lain. Mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, di samping Washington dan Moscow orang sekarang harus memperhitungkan adanya pool-pool baru seperti Cairo, New Delhi, dan … Jakarta! Jelas dan nyatalah bahwa sekarang ini mulai nampak adanya depolarisasi dalam susunan-politik di muka-bumi.

Jelas dan nyata adanya depolarisasi itu, – tetapi sebagian rakyat Belanda rupanya tidak melihat depolarisasi itu. Tidak mereka melihat, bahwa di Asia-Afrika sekarang ini sedang tumbuh sesuatu yang baru, sesuatu yang rupanya tak pernah diperhitungkan oleh pemimpin-pemimpin negara Belanda itu. Padahal “one cannot escape history”, – sejarah tak dapat orang hindari. Senang atau tidak senang, mereka nanti akan mengalami, bahwa di Asia-Afrika sekarang ini sedang bangkit dengan cara yang dahsyat satu tenaga-ghaib yang tidak dapat ditahan oleh siapapun juga, tidak dapat dibinasakan oleh siapapun juga, tidak dapat diperdayakan oleh lambaian lemah-lunglai siapapun juga!

Kita berpolitik bebas. Tetapi berulang-ulang telah kita katakan bahwa kebebasan tidak berarti kenetralan. Kita tidak netral dalam menghadapi baik dan buruk. Kita tidak netral dalam menghadapi masalah penjajahan. Kita tidak netral dalam menentukan sikap terhadap rakyat-rakyat yang berjoang untuk kemerdekaan. Kita pasti memihak kepada rakyat atau bangsa apapun yang berjoang untuk kemerdekaan. Kita tidak netral dalam menghadapi pilihan ideologi. Kita pasti memihak kepada ajaran Pancasila. Kita bukan tidak-berwarna, kita tidak kleurloos, kita mempunyai warna sendiri, warnanya Pancasila. Kita berpolitik bebas, tetapi politik kita bukan politik yang tidak mempunyai moral. Adakah satu politik yang dipimpin oleh kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menjunjung-tinggi rasa peri-kemanusiaan, yang menghormati rasa kebangsaan, yang mempraktekkan kedaulatan rakyat, yang melaksanakan cita-cita keadilan sosial, – adakah politik yang demikian itu suatu politik yang tak mempunyai moral? Jikalau orang belum dapat menilai moral yang setinggi ini, maka sungguh kita tidak mengerti apa yang dinamakan moral!

Dan bukan saja kita bukan tidak bermoral, kitapun bukan tidak berikhtiar. Kita tidak “menonton dunia sambil diam ungkang-ungkang di atas pagar”, kita tidak afzijdig dari segala kejadian dunia: sambil “duduk tenguk-tenguk”. “We are not sitting on the fence”, – demikianlah kataku di luar-negeri tempo hari. Kita berikhtiar, kita berusaha ke kanan dan ke kiri, kita ke luar juga “rame hing gawe”, kita aktif. Politik kita bukan politik yang bebas saja, politik kita adalah politik yang bebas dan aktif.

Lihat sikap aktif kita dalam soal Indocina. Lihat sikap aktif kita dalam soal persengketaan Terusan Suez sekarang ini. Daerah persengketaan harus diperkecil, daerah perdamaian harus diperluas. Memang di dunia ini ada daerah-daerah persengketaan, daerah-daerah angin puyuh, daerah-daerah taufan, – storm centres of the world. Korea dulu satu daerah persengketaan, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Indocina dulu satu daerah persengketaan, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Suez sekarang satu daerah persengketaan, marilah kita semua berikhtiar supaya kesalahan-kesalahan yang dulu jangan berulang lagi.

Dari pengalaman di Korea dan di Indocina, marilah semua bangsa-bangsa di dunia ini belajar. Belajar, untuk tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang telah dibuat. Kesalahan-kesalahan, yang telah menjadi ajangnya peperangan, yang hampir-hampir saja mengkocar-kacirkan perdamaian dunia samasekali.

Kapankah manusia ini belajar! Korea masih dalam ingatan kita, Indocina masih belum habis bau mesiunya, – kini hantu-bencana telah menghintai-hintai lagi di Cakrawala Lautan Tengah! Di sana orang sibuk membuat persiapan-persiapan militer, di sana kapal-kapal perang dimondar-mandirkan, di sana tentara-tentara-payung dikerah-siapkan, di sana tentara cadangan dimobilisir. Untuk apa? Ya, saya bertanya lagi: untuk apa? Mengapa orang terburu-buru mengepal tinjunya, mengapa orang terburu-buru mengoroki bedilnya, mengasah pedangnya, mengisi kampil pelurunya, menyabukkan sabuk-pistolnya?

Mesir adalah satu negara yang merdeka dan berdaulat. Ia mempunyai hak-hak kedaulatan, tak kurang dan tak lebih daripada negara-negara lain yang merdeka dan berdaulat. Adalah hak-daulat Mesir untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggapnya perlu untuk menyeleng-garakan ekonomi nasionalnya dan mempertinggi taraf hidup rakyatnya. Adalah hak-daulat Mesir untuk menasionalisasi Terusan Suez yang merupakan perusahaan Mesir. Apakah ini satu kejahatan yang harus ditumpes? Tidakkah lain-lain negara pernah pula menjalankan nasionalisasi sesuatu perusahaan yang bekerja di dalam wilayahnya? Memang harus diakui bahwa Terusan Suez merupakan satu urat-nadi yang penting sekali bagi kehidupnn dunia. Penting sekali tidak kurang pentingnya daripada Terusan Panama, Selat Jibraltar, Selat Bosporus. Kebebasan pelayaran di Panama dan Jibraltar dan Bosporus itu dijamin oleh negara-negara yang bersangkutan. Amerika menjamin kebebasan pelayaran di Panama, Inggeris menjamin kebebasan pelayaran di Jibraltar, Turki menjamin idem-dito di Bosporus. Mesir telah menyatakan menjamin kebebasan pelayaran di Terusan Suez, – kenapa orang harus ragu-ragu atau marah atas hak Mesir untuk itu?

Atau barangkali orang ragu-ragu atas kemampuan Mesir untuk menjamin kebebasan pelayaran itu? Kalau ini yang menjadi sebabnya kemarahan atau keragu-raguan itu, maka dengan menyesal saya harus berkata bahwa orang yang marah itu masihlah dihinggapi oleh alam fikiran kolonial. Kalau ini yang menjadi sebabnya kemarahan atau keragu-raguan itu, maka dengan menyesal saya berkata, bahwa di samping adanya zogenaamde “underdeveloped countries”, masih ada apa yang harus disebut “underdeveloped minds”.

“Fahamilah aspirasi-aspirasi nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika sekarang ini!”, demikian-lah tempo hari di luar-negeri saya telah tandaskan berpuluh-puluh kali. Fahamilah nasionalisme Asia-Afrika sekarang ini, jikalau ingin mengerti jalannya sejarah, dan jikalau ingin keselamatannya dunia. Jangan bermain-main dengan pedang, jangan bermain-main dengan “nasib”. Jangan main-main dengan “fate”! Sebab apa yang diperbuat oleh Mesir itu tak lain tak bukan adalah jalannya sejarah, tak lain tak bukan adalah “the course of history”. Sekali lagi, buat kedua kalinya dalam pidato ini, saya akan menirukan perkataan Abraham Lincoln: “One cannot escape history”. Carilah penyelesaian persengketaan ini dengan jalan damai, dan hanya dengan jalan damai! Hentikan semua persiapan militer! Hentikan semua ancaman senjata! Meski diadakan satu Konperensi Internasional sekalipun untuk memecahkan masalah persengketaan ini – tak akan sehat hasil Konperensi itu, bila ia diadakan di bawah bayangan-nya Dewa Mars, yaitu bayangannya kapal-kapal perang, derunya bomber-bomber, gemerincingnya pedang-pedang, dentamnya tank-tank, sorak-gertaknya serdadu-serdadu yang mengancam!

Demikianlah politik kita yang bebas dan aktif. Aktif menuju kepada perdamaian.

Kita menyetujui azas hidup berdampingan secara damai, hidup tidak serang-menyerang, tidak mencampuri urusan-urusan dalam-negeri masing-masing, hormat-menghormati integriteit daerah masing-masing, mengakui persamaan derajat antara negara-negara besar dan kecil, menjalankan kerjasama yang saling menguntungkan. Dan perhatikanlah siapa yang pantas memperhatikan! Azas hidup berdampingan secara damai itu janganlah hendaknya memberi kenikmatan dan keuntungan kepada negara-negara raksasa saja, tetapi harus memberi nikmat dan keuntungan kepada negara-negara kecil juga, – kepada semua negara-negara, kepada semua bangsa-bangsa, kepada seluruh umat manusia di seluruh muka-bumi.

Alangkah hebatnya sebenarnya, kemungkinan-kemungkinan dalam abad ke-XX sekarang ini! Kita sekarang telah menginjak abad yang manusia hampir-hampir menyakar langit! Kita sekarang telah menginjak abadnya atom! Seribu kali lebih besar kemungkinan-kemungkinan-nya abad atom itu, daripada abadnya mesin-uap dan abadnya listrik. Seribu kali lebih besar kemungkinan terbukanja jalan-jalan baru untuk mempercepat pembangunan bagi kesejahteraan dunia-kemanusiaan. Akan tetapi satu syarat pokok harus dipenuhi, satu syarat pokok menjadi tuntutan mutlak: Revolusi Atom harus disertai Revolusi Mental. Revolusi Atom harus dikawani Revolusi Moral. Kita harus berani berfikir dalam alam damai, bukan dalam alam perang. Kita harus berani berfikir dalam alam percaya-mempercayai, bukan dalam alam curiga. Kita harus berani berfikir dalam alam kerjasama, bukan dalam alam jegal-menjegal. Jikalau Revolusi Atom ini tidak disertai dengan Revolusi Mental dan Revolusi Moral, maka kemajuan yang dibawanya itu akan membawa manusia masuk terjungkel dalam jurangnya kebencanaan. Jauhkanlah manusia ini, ya Tuhan, dari jurang kebencanaan itu! Abad atom sampai sekarang ini adalah laksana hari terang, yang terangnya diancam oleh gumpalan-gumpalan awan yang mengerikan dan mendirikan bulu. Hantu, hantu kehancuran, hantu kebinasaan, menghintai-hintai dari dalam gumpalan-gumpalan awan itu. Hantu yang mengerikan itu menghintai pula dari dalam alam fikiran manusia dan dari dalam impian-takutnya manusia. Hantu itu telah membuat manusia hidup dalam nachtmerrie. Dunia sekarang adalah dunia ketakutan. Ya, Alhamdulillah sampai saat sekarang ini hantu itu belum menjelma meledak ke bumi menghamuk-hancurkan segala apa yang ada, mematikan segala hal yang hidup. Tetapi entah apa yang terjadi di hari besok.

Dunia sekarang masih dunia dipinggirnya mala-petaka neraka jahanam. Karena itu, hai semua umat manusia, hai semua makhluk di muka-bumi, marilah kita bersama membangkit-kan “moreel geweld” kita, agar supaya hantu atom itu enyah dari muka bumi! Demikianlah Indonesia ikut turut serta dalam mobilisasi moril menentang hantu atom itu. Demikianlah Indonesia dari sudut moraliteit berjoang aktif untuk terselenggaranya keselamatan manusia dan perdamaian dunia. Maka oleh karena itu pulalah Indonesia dari sudut realiteit kenegaraan tidak mau menggabung-kan diri dalam sesuatu persekutuan militer.

Persekutuan militer tidak mendekatkan kita kepada perdamaian, persekutuan militer mendekatkan kita kepada peperangan. Persekutuan militer setidak-tidaknya membangunkan iklim pertentangan, iklim “siap-siapan”, iklim permusuhan.

Padahal pelaksanaan cita-cita untuk mempergunakan tenaga atom untuk tujuan-tujuan pembangunan memerlukan iklim damai. Dikatakan bahwa persekutuan-persekutuan militer tidak dimaksud untuk keperluan agresi, tetapi untuk keperluan mempertahan-kan diri secara kolektif. Tetapi tidak semua usaha yang dianggap baik dalam niatnya, juga baik dalam akibatnya. Yang kita hadapi adalah masalah manusia, masalah hubungan manusia dengan manusia, bukan masalah hubungan mesin dengan mesin, atau masalah hubungan materi-mati dengan materi-mati. “International relations are human relations”, – hubungan internasional adalah hubungan manusia dengan manusia, demikianlah kukatakan tempo hari. Manusia bukan barang mati, manusia mempunyai perasaan-perasaan dan fikiran-fikiran. Dan yang harus lebih diperhitung-kan lagi: manusia mempunyai instinct-instinct, mempunyai garizah-garizah, yang pada sesuatu saat turut menentukan segala tindak-tanduknya.

Jikalau sekelompok manusia mengadakan persekutuan bersenjata, maka yang merasa terancam dirinyapun mengadakan persekutuan bersenjata. Maka lambat-laun akan timbullah pengaruh timbal-balik yang menyeret dua persekutuan itu dalam perlombaan persenjataan, yang inipun makin lama makin memuncak, sejalan dengan tumbuhnya ketegangan antara kedua belah fihak itu. Akhirnya berdirilah berhadapan-muka-satu-sama-lain bukan sekadar dua kelompok manusia yang bersenjata sampai kepada ujung-ujung giginya, – tot aan de tanden toe gewapend -, tetapi dua pool yang bermuat-padat dengan tenaga listrik yang bertrilliun-trilliun volt dahsyatnya. Segenap angkasa hampir pecah dengan tenaga listrik tiu, de gehele atmosfer is tot berstens toe electrisch geladen! Satu pletikan api-kecil, satu pletikan instinct manusia, pletikan instinct manusia yang tak dapat dikendalikan, dan angkasa itu akan meledak menggledek-memelir-menghalilintar ke kanan dan ke kiri laksana Krisna Triwikrama. Dunia akan menjadi lautan api, angkasa akan terbakar dari Barat sampai ke Timur, semua peradaban manusia akan hancur-lebur menjadi abu! Maka niat baik apapun yang terkandung dalam persekutuan-persekutuan-militer tadi itu, obyektif toh mendatangkan peperangan karena tidak diperhitungkan faktor-faktor subyektif dalam kalbu manusia, yang dinamakan instinct kebinatangan.

Mengapa toh orang harus ragu-ragu dan sayang-sayang untuk menghentikan perlombaan persenjataan yang makin hari makin menyebarkan rasa-takut di mana-mana itu? Rasa-takut, bukan saja dalam hatinya mereka yang tidak bersenjata, tetapi pasti juga dalam lubuk-hati mereka yang bersenjata! Mengapa toh dunia manusia ini, yang telah beribu-ribu tahun naik tangganya peradaban, yang telah berabad-abad bersemboyan kemerdekaan, freedom, liberte, belum juga mampu memerdekakan dirinya dari belenggu nafsu-kekuasaan, yang nota-bene dibuat oleh tangan manusia sendiri, sehingga ia terkungkung dalam kungkungannya ketakutan, – ketakutan yang dus juga buah tangannya sendiri?

Alangkah baiknya jika manusia sekarang ini lebih banyak melihat ke dalam hati nurani masing-masing, menjalankan introspeksi masing-masing. Marilah kita semua manusia, dan terlebih-lebih lagi semua pemimpin-pemimpin negara dari segala bangsa, lebih banyak menjalankan introspeksi itu, dan bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa sebenarnja kita ini dilahirkan di dunia ini? Toh tidak untuk mengabdi kepada batu? Tidak pula untuk mengabdi kepada emas? Tidak untuk mengabdi kepada senjata? Tidak pula untuk mengabdi kepada kekuasaan? Ya, tidak pula untuk mengabdi kepada manusia? Tidak! Kita dilahirkan di dunia dan dihidupkan di dunia ini untuk mengabdi kepada Pembuat kita, mengabdi kepada Pembuat sesama Hidup. Kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia untuk mengabdi kepada Tuhan Rabbulalamin! Dapatkah kita hidup mengabdi kepada Tuhan Rabbulalamin kalau kita tidak mempunyai moral hidup terhadap sesama hidup, sesama makhluk, sesama yang “kumelip” di alam ini?

Pengabdian kepada Tuhan Rabbulalamin mengandung makna hidup rukun-damai antara sesama manusia dan sesama bangsa. Karena itu kita cantumkan dalam Pancasila, sila Peri-Kemanusiaan. Karena itu politik kita ialah politik bebas dan aktif menuju kepada perdamaian. Karena itu kita tak mau masuk sesuatu persekutuan militer. Karena itu kita menentang penggunaan atom untuk tujuan-tujuan kebinasaan. Karena itu, ya, karena itu, – karena pengabdian kepada Tuhan Rabbulalamin – ,

kita mengajak semua manusia hidup rukun-damai, mengajak semua manusia bekerjasama, mengajak semua manusia bantu-membantu satu-sama-lain, mengangkat derajat-hidupnya bersama-sama kepada tingkat hidup yang lebih tinggi, tingkat-hidup yang setinggi-tingginya, baik di lapangan wadag maupun di lapangan batin, baik di lapangan jasmani maupun di lapangan rokhani.

Inilah yang dinamakan isi-hidup dan arah-hidup, inilah yang dinamakan “levensinhoud” dan “levensrichting”. Bangsa Indonesia harus mempunyai isi-hidup dan arah-hidup. Kita harus mempunyai Levensinhoud dan Levensrichting. Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cètèk, bangsa yang tidak mempunyai Levensdiepte samasekali. Ia adalah bangsa penggemar emas-sepuhan, dan bukan emasnya batin. Ia mengagumkan kekuasaan pentung, bukan kekuasaan moril.

Ia menyembah berhala kemasyhuran, bukan menyembah Tuhan. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Ia kadang-kadang kuat, – tetapi kuatnya adalah kuatnya kulit, padahal ia kosong-melompong di bagian dalamnya!

Bangsa Indonesia tidak hendaknya menjadi bangsa yang demikian itu. Bangsa Indonesia hendaknya setia kepada sifat asalnya. Sebelas tahun kita telah merdeka, dan kemerdekaan kita ini politis-ekonomis harus selalu kita sempurnakan, – kita sempurnakan, dan sekali lagi kita sempurnakan, tetapi kesempurnaan politis-ekonomis tidak akan cukup jika tidak disertai dengan isi-hidup dan arah-hidup, tidak akan membawa kebahagiaan-sejati jika tidak diarahkan kepada arah-hidup dan diisi dengan isi-hidup.

Satu tahun yang lalu saya berkata: “Ketahuilah bahwa Panca Dharma adalah sekadar Dharma, kewajiban yang harus dipenuhi, dan belum syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup sesuatu bangsa. Syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup ialah Kemauan Hidup, – Levenswil, Levensdrang -, dan sjarat-mutlak untuk kelandjutan hidup sesuatu bangsa ialah Kemauan Hidup Sebagai Bangsa, – Nationaal Levenswil, Nationaal Levensdrang. Bangsa yang tidak mempunyai Api-Hidup-Nasional ini, Api-Keramat yang menghikmati semua warga-bangsa-nya, dari agama apapun, dari lapisan sosial apapun, dari ethnologi apapun, dari ideologi-politik apapun, bangsa yang kalbunya tidak berkobar-kobar dengan Api-Keramat ”Feu Sacré” ini, – bangsa yang demikian itu lambat-laun akan gogrok dan akan buyar menjadi “bangsa-bangsa” yang kecil, atau akan gogrok dan buyar menjadi kelompokan-kelompokan manusia belaka, atau akan tenggelam-lenyap-musna samasekali”.

Ya, memang demikianlah! Tetapi kelanjutan hidup sajapun belum cukup, hidup-sekadar-hidup pun belum cukup. Hidup barulah hidup-sejati, -Life worth while living! -, jika hidup itu mempunyai arah dan mempunyai isi. Hidup barulah hidup-sejati jika hidup itu bukan hidup kosong-melompong. Berilah arah dan isi itu, berilah richting dan inhoud itu. Di samping Levenswil harus ada Levensrichting, harus ada Levensdiepte, harus ada Levensinhoud, harus ada Levenszin. Di samping Nationaal Levenswil, karenanya, hidup-hidupkanlah di dalam dadamu laksana Api yang membakar engkau punya jiwa: Nationaal Levensrichting, Nationaal Levensdiepte, Nationaal Levensinhoud, Nationaal Levenszin. Hidup-hidupkanlah di dalam dadamu: Pancasila, oleh karena Pancasila memenuhi semua tuntutan-tuntutan itu, dan oleh karena Pancasila memang inti-sari daripada Jiwa Indonesia!

Sebelas tahun kini usianya Proklamasi, dan dengan itu sebelas tahun kini usianya Republik.

17 Agustus 1945 memang bukan saja hari-lahirnya Proklamasi, 17 Agustus 1945 adalah pula hari-lahirnya Republik. Kini kita memasuki usia Republik tahun yang keduabelas. Tugas yang masih harus kita penuhi tampak jelas. Empat Dharma dari Panca Dharma masih menunggu penyelesaian. Selesaikanlah empat tugas yang belum selesai itu!

Dalam pada itu adalah satu pesan lagi dari saya kepada saudara-saudara semua. Apakah pesan saya itu?

Kita telah memilih Konstituante, Dewan Penyusun Undang-undang Dasar. Insya Allah akhir bulan Oktober saya akan lantik Konstituante itu, sepulang saya dari perlawatan ke Rusia, Austria, Yugoslavia, Cekoslovakia dan R.R.T. Insya Allah saya akan gembira dapat berkata kepada sidang Konstituante: “Bentuklah satu Undang-undang Dasar bagi Republik Indonesia, Republik Kesatuan, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, berdaulat penuh, lepas-bebas dari tiap ikatan yang mengurangi kedaulatannya. Bentuklah satu Undang-undang Dasar bagi Republik Indonesia, – bukan Republik K.M.B., tetapi Republik Proklamasi!” Nah, saudara-saudara, Republik kita harus satu Republik yang mempunyai isi-hidup dan arah-hidup, satu Republik yang mempunyai Levensinhoud dan Levensrichting! Maka isi-hidup dan arah-hidup itu haruslah tercerminkan dalam Undang-Undang Dasar yang harus kita susun dalam Konstituante itu, sedapat mungkin telah dalam tahun yang akan datang.

Tahun yang akan datang dus adalah tahun yang amat penting. Dalam tahun yang akan datang itu Republik Indonesia harus menentukan Undang-Undang Dasarnya, paling sedikit inti Undang-Undang Dasarnya dan jiwa Undang-Undang Dasarnya. Dalam tahun yang akan datang itu Republik Indonesia harus menentukan secara definitif isi-hidupnya dan arah-hidupnya, secara definitif Levensinhoudnya dan secara definitif Levensrichtingnya.

Karena itu, pada saat kita berdiri di muka pintu-gerbang tahun yang akan datang itu, saya memesan kepada saudara-saudara: Renungkanlah hal ini dari sekarang dalam-dalam dan sungguh-sungguh, renungkanlah isi-hidup, arah-hidup, dasar-hidup, bagi Republik kita yang dapat menjamin keutuhan dan Kesatuan Republik, hidup-kekal Republik, hidup-berisi bagi Republik, dan kemudian tuanglah hasil-renungan itu dalam Konstitusi yang dibuat oleh Konstituante.

Dengan demikian, maka Dharma yang saya pesankan kepada saudara-saudara untuk di-selenggarakan dalam tahun yang akan datang, menjadilah lima buah lagi: empat Dharma sisa tahun yang lalu, satu Dharma babaran tahun sekarang. Dengan demikian, maka suatu “Panca Dharma Baru” saya minta saudara-saudara persembahkan tahun ini di atas persadanya Ibu Pratiwi:

Pertama      :         Gemblènglah terus Persatuan.

Kedua         :         Gemblènglah terus Keamanan.

Ketiga         :         Perhebatlah terus Pembangunan, terutama sekali dalam

                             tarafnya yang pertama yaitu “Rencana Lima Tahun”.

Keempat      :         Perhebatlah Perjoangan Irian Barat diatas segala lapangan

                             Agar Irian Barat lekas masuk kedalam kekuasaan de facto

                             Republik.

Kelima        :         Tentukanlah isi-hidup, arah-hidup, dasar-hidup Republik

                             dalam Konstitusi, yang menjamin Hidup Gemilang bagi

                             Republik.

Terimalah lima pesan ini menjadi “Panca Dharma Baru” yang menghikmati seluruh lapisan Rakyat. Kerjakanlah Panca Dharma Baru itu dengan gegap-gempitanya élan, yaitu dengan gegap-gempitanya dinamik jiwa yang berkobar-kobar, dinamiknya jiwa yang tak mau patah. Terutama sekali dari kaum intelektuil dan kaum pemuda saya mengharap jiwa yang demikian itu. Mereka sebenarnya motornya Rakyat, mereka sebenarnya pengarah geraknya Rakyat. Tetapi ada di antara mereka yang berjiwa mlempem, dan ada pula yang karena putus-asa lantas nyelèwèng dari pendirian-pendirian demokratis dan progresif daripada Revolusi, dan lantas mengikuti pendirian-pendirian yang kwasi-revolusioner tetapi sebenernya nyelèwèng dari tujuan-asli Revolusi.

Setialah kepada pendirian demokratis dan progresif daripada Revolusi kita itu, dan janganlah tergendam oleh gebyarnya kwasi-revolusionerisme! Janganlah nyelèwèng! Apa, – ada yang putus-asa? Lantas nyelèwèng? Karena “sudah sebelas tahun kok masih begini saja?” Tahun yang lalu saya berkata : “Adakah yang berputus-asa di antara kita? Adakah yang berpatah-semangat, karena melihat jalan masih jauh? Menolehlah ke belakang sebentar! Sepuluh tahun kita berjalan, sepuluh tahun kita berjoang, sepuluh tahun kita sering-sering menderita, sepuluh tahun kita sering-sering berkorban, malahan kadang-kadang rasa remuk segala-galanya, – tetapi tidak sepuluh detik kita remuk dalam semangat, tidak sepuluh detik kita berpatah tekad”.

Ya, memang, kini sebelas tahun memang bukan waktu sebentar. Kini sesudah sebelas tahun memang banyak di antara kita yang tidak puas, dan sayapun tidak. Tetapi itu bukan alasan untuk dus lantas putus-asa terhadap rail yang sudah, bukan alasan untuk dus meninggalkan pendirian asli daripada Revolusi yaitu pendirian demokratis dan progresif, bukan alasan untuk dus nyelèwèng, bukan alasan untuk dus membiarkan diri hanyut dalam aliran kwasi-revolusionerisme. Semestinya kita ini setia kepada pendirian-pendirian asli itu, lebih membanting tulang di atas rail asli itu, lebih memeras habis-habisan kita punya keringat di atas rail asli itu, lebih demokratis-dinamis dan lebih progresif-dinamis, lebih mengembang-kan tenaga Rakyat, lebih berkontak dan mengaktivir potensi Rakyat, lebih sehidup-semati-setindak-setanduk dengan Rakyat, lebih menggembleng dan digembleng Rakyat, lebih menjadi kancahnya Rakyat dan dalam kancahnya Rakyat, lebih menggodok dan digodok Rakyat, lebih ber-Kerakyatan, lebih “massisch”, – dan bukan golongan intelektuil atau pemuda yang tak banyak hubungan dengan Rakyat, tetapi kwasi-revolusioner. Benar kita adalah satu bangsa dalam perjoangan, benar kita satu bangsa yang berjoang, satu “fighting nation” yang tak mengenal berhenti, – satu “fighting nation” yang tak mengenal “journey’s end”. Tetapi kita ini adalah juga satu demokrasi yang berjoang, – satu “fighting democracy”, yang harus setia kepada semua isme-ismenya dan cara-caranya kerakyatan. Setialah kita kepada isme-isme dan cara-cara kerakyatan itu, sebab suatu isme dan suatu cara-hidup barulah menjadi satu Kenyataan yang Hidup, jikalau kita beri kesetiaan kepadanya.

Di hadapanku sekarang ini berdirilah satu lautan manusia dengan hati yang berkobar-kobar dan jiwa yang berdentam-dentam. Semua mereka itu adalah sebenarnya wakil dari seluruh Rakyat Indonesia, dan semua mereka itu adalah wakil dari satu kenang-kenangan, satu cita-cita, satu tekad, satu Ide: Ide Kemerdekaan untuk Rakyat, Ide Kemerdekaan oleh Rakyat. Semua mereka itu berkehendak memegang-tetap nasib sendiri dalam tangan sendiri, dan tidak mau mereka nasibnya ditentukan oleh orang intelektuil atau pemimpin atau pemuda siapapun juga. Ide Kemerdekaan untuk Rakyat dan oleh Rakyat itulah membuat mereka di masa lampau berjiwa laksana ndaru, ide itulah membuat mereka berjiwa laksana jiwa malaekat, jiwa dinamit, – jiwa petir dan halilintar! Mereka, mereka, Rakyat jelata yang berpuluh-puluh juta, mereka Rakyat jelata di kota-kota dan di desa-desa, mereka Rakyat jelata di gubuk-gubuk dan di pinggir sungai, mereka Rakyat jelata dari Sabang sampai Merauke, merekalah pembuat Revolusi, merekalah motor Revolusi, merekalah Revolusi!

Marilah kaum intelektuil dan pemuda berjalan terus dengan mereka itu, yang itu berarti berjalan terus untuk mereka itu!

Untuk mereka Revolusi tak akan gagal, dengan mereka Revolusi pasti menang!

Sekian!

Terima kasih!

Merdeka, sekali merdeka tetap merdeka!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 46 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pidato Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Paham Kebangsaan Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar