Home » 2017 » July » 12 » BERILAH ISI KEPADA HIDUPMU!
1:34 PM
BERILAH ISI KEPADA HIDUPMU!

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1956 DI JAKARTA

Saudara-saudara!

Di bawah kepulan hitam api-peperangan yang masih kemelun di udara Indonesia sebelas tahun yang lalu menyatakan kemerdekaannya. Bukan sinarnya Purnama-Sasi yang mengiringi Proklamasi itu, bukan nyanyian-nyanyian yang merdu-merayu. Sebaliknya, gempa peperangan masih terasa; api-revolusi-rakyat meledak sekaligus oleh karenanya; gemerincingnya pedang dan pekiknya barisan-barisan bambu-runcing memenuhi angkasa; ledakan bom dan granat menjadi pengalaman sehari-hari.

Tidak ada seorangpun di waktu itu yang menghitung-hitung atau menimbang-nimbang: “bagaimana dunia nanti akan menerima Proklamasi ini?” Tidak ada seorangpun yang menghitung-hitung: “berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjoang dan berkorban untuk mempertahankannya?”

Pada waktu itu, yang ada hanyalah satu tekad-bulat daripada segenap rakyat Indonesia, tekad-bulat “sekali merdeka tetap merdeka”. Pada waktu itu segenap rakyat Indonesia laksana hidup dalam hikmahnya sesuatu wahyu.

Di tembok-tembok rumah, di tembok-tembok jembatan, orang tuliskan isi-hatinya dengan singkat tetapi tegas: “Indonesia never again the lifeblood of any nation”, – “Indonesia tidak lagi akan jadi darah-hidupnya sesuatu bangsa asing”; “we fight for freedom, we have only to win”,”kita berjoang untuk kemerdekaan, kita pasti menang”.

Seluruh angkasa gemetar dengan getaran-tekad: “merdeka, atau mati!”

Benar, selama 350 tahun Indonesia memang telah memberikan darahnya bagi hidupnya bangsa lain. Penjajah menjadi gemuk, kita menjadi kurus-kering. Di luar dugaan mereka, rakyat yang kurus-kering ini, – rakyat yang mereka sebutkan “het zachtste volk der aarde ” , “rakyat yang paling lemah-lembut di dunia”, rakyat yang begitu lama mereka tunggangi namun toh menurut saja, rakyat yang begitu sering mereka labrak dengan pecut namun toh tidak melawan -, di luar dugaan mereka, rakyat kurus kering ini bangkit berdiri serentak sambil berkata: ”Stop! Sampai di sini, – kita merdeka, kita tidak mau dijajah lagi!”

Dan di luar dugaan mereka juga, rakyat kurus-kering itu dapat mempertahankan Republik-nya terhadap hantaman-hantaman contra-ofensiefnya, dapat membangun dan membina Republiknya kendati segala rintangan, dapat mcmbuktikan sumpahnya “sekali merdeka tetap merdeka” dengan cara yang mengagumkan dunia.

Setahun menjadi dua tahun, dua tahun menjadi tiga tahun, tiga tahun menjadi empat tahun, empat tahun menjadi lima tahun, – enam tahun, tujuh tahun, delapan tahun, sembilan tahun, sepuluh tahun, sebelas tahun, . . . dan Insya Allah sebelas tahun ini akan menjadi sebelas puluh tahun, sebelas ratus tahun, mungkin sebelas ribu tahun!

Ya, Agustus 1945; Republik Indonesia pada waktu itu dalam pandangan dunia satu pertanyaan, satu question-mark; dalam pandangan Belanda satu umpan-ganyangan yang akan dapat digaglak lagi dalam beberapa hari atau beberapa pekan. Sekarang Agustus 1956: Republik Indonesia dalam pandangan dunia satu potensi berharga dalam susunan inter-nasional, dalam pandangan Belanda satu “taaie kost”, satu “makanan alot”, yang tak dapat digaglak begitu saja! Ya, katakanlah keuangan Indonesia belum beres, katakanlah produksi belum maju, katakanlah administrasi belum sempurna, katakanlah pendidikan belum teratur, katakan, katakan apa saja yang orang mau katakan, tetapi toh, 80.000.000 rakyat Indonesia pada saat ini merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya yang kesebelas, Hari Ulang Tahun Republik dalam Dasa-Warsa yang kedua!

Buat kesebelas kalinya saya diberi kehormatan memidatoi rapat semacam ini, tetapi ah, apa aku ini dalam alam usaha dan perjoangan bangsa? Engkau, engkau, rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, engkau rakyat Indonesia yang 80.000.000, engkaulah yang berusaha, engkaulah yang berjoang, engkaulah yang dengan berkat Tuhan menegakkan Republik ini, engkaulah yang menjadi hidupnya dan menjadi tenaganya. Engkaulah yang dibuat Tuhan satu rakyat yang merdeka, engkaulah yang menjadi Alat-Kehendak-Nya. Ya, Tuhanlah Pemberi merdeka kepada bangsa-bangsa, Tuhanlah Pemerdeka rakyat-rakyat, – tengadahkanlah mukamu keatas, tengadahkanlah tanganmu kepada zat yang Satu itu, agar supaya engkau bersyukur dan berterimakasih kepada-Nya, dan agar supaya engkau tetap diberkahi oleh-Nya menjadi bangsa yang merdeka, kekal dan abadi!

Saudara-saudara! Dalam pidato saya 17 Agustus tahun yang lalu, saya dengungkan Panca Dharma:

Kesatu                  :  Kembali kepada Persatuan.

Kedua                   :  Membanteras pengacauan.

Ketiga                   :  Memperhebat Pembangunan.

Keempat               :  Memperhebat perjoangan Irian Barat dan anti-kolonialis-imperialis.

Kelima                  :  Menyelenggarakan pemilihan-umum.

Mari kita tinjau, mana dari Panca Dharma itu sudah kita selesaikan, mana yang belum:

Membanteras pengacauan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.

Kembali kepada Persatuan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.

Memperhebat Pembangunan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan; kita baru saja mulai dengan Plan Lima Tahun.

Memperhebat perjoangan Irian Barat dan anti-kolonialis-imperialis, itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.

Menyelenggarakan pemilihan-umum, – itu sudah kita kerjakan, berhasil lumayan juga.

Dus: dari Panca Dharma itu baru satu Dharma sajalah telah kita kerjakan penuh. Empat Dharma belum kita selesaikan. Catur Dharma, – Catur artinya empat – , dus belum kita tunai-kan. Catur Dharma masih memanggil-manggil!

Dan sebenarnya: Catur Dharma ini berpusat kepada satu Dharma saja, yaitu Dharma Pembangunan. Catur Dharma berjiwakan Eka Dharma, – Eka berarti satu -, Tugas yang Empat berpusat kepada Tugas yang Satu: membangun, membangun, sekali lagi membangun. Tidak dapat kita membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma Persatuan. Tidak dapat kita membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma keamanan. Tidak dapat kita mem-bangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma mengenyahkan imperialisme dari Irian Barat.

Bahkan kitapun tak dapat membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma pemilihan-umum lebih dahulu. Dus, Panca Dharmapun berpusat kepada Eka Dharma pula. Lima berpusat kepada yang satu. Lima untuk yang satu, empat untuk yang satu, tiga untuk yang satu, dua untuk yang satu, satu-membangun-untuk yang satu! Ialah untuk Rakyat. Untuk si Dadap, untuk si Waru.

Untuk Nyi Icih, untuk Sarinah. Untuk Bang Amat, untuk Pak Bopèng. Untuk si Proletar, untuk si Tani, untuk si Prajurit, untuk si Pegawai. Untuk seluruh lapisan Rakyat Indonesia. Bukan untuk si kaya saja, bukan untuk Sang ndoro saja. Bukan untuk Bung Karno, bukan pula untuk Pak Menteri.

Itulah yang saya maksudkan dengan “yang satu” itu. Panca Dharma atau Catur Dharma untuk rakyat. Dan inipun masih harus memuncak lagi dalam isi-batinnya: – memuncak kepada “Yang Lebih Satu” lagi, yaitu memuncak kepada Tuhan.

Saudara-saudara, pemilihan-umum kita yang pertama, telah kita selesaikan: 29 September 1955 untuk D.P.R., 15 Desember 1955 untuk Dewan Konstituante. Zaman ”demokrasi raba-raba” telah ditutup, zaman “demokrasi yang lebih kongkrit” telah mulai berjalan. Dunia kagum melihat rapihnya pemilihan-umum kita itu berjalan. Tadinya disangka akan terjadi kekacauan, – bahkan ada yang meramalkan akan terjadinya kekacauan – , tetapi rakyat Indonesia bukan anak-kemarin di lapangan demokrasi! Jiwa demokrasi dan arti demokrasi buat bangsa Indonesia bukan barang-baru atau barang-import, tetapi adalah bagian daripada darah-daging bangsa Indonesia sendiri. Tatkala rakyat-rakyat di dunia Barat masih pentung-pentungan satu-sama-lain rebutan kebenaran, maka di Indonesia beberapa inti demokrasi telah berjalan! Karena itu, jika tadi saya memakai istilah “demokrasi raba-raba” untuk zaman sebelum pemilihan-umum D.P.R. dan Konstituante, maka itu samasekali tidak berarti bahwa rakyat Indonesia masih meraba-raba apa arti demokrasi, melainkan hanyalah karena dalarn zaman sebelum pemilihan-umum itu tidak seorangpun dapat menyatakan dengan tepat siapa-siapa, mewakili apa, di dalam badan-badan-perwakilan kita. Pada waktu itu, belum ada tata-pelaksanaan hak-hak-azasi rakyat yang bernama demokrasi, yaitu memilih wakilnya sendiri dengan cara rahasia, bebas, aman.

Pada waktu itu, tidak satu partaipun dapat mengatakan dengan pasti berapa besar jumlah rakyat yang diwakilinya. Pada waktu itu, kita serba meraba-raba tentang bagaimana dan seberapa kekuatan-demokratis, yang harus menentukan corak kehidupan-politik Negara.

Kini keadaan telah kita robah. Kini kita telah mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat pilihan rakyat sendiri. Tegaslah kini bentuk-bentuk politik, – morphologi politik – , daripada rakyat kita. Tegaslah kini warna-warna dalam pelangi politik bangsa Indonesia, – de kleuren in de politieke regenboog. Tegaslah kini imbangan-imbangan kekuatan politik dalarn masyarakat kita, – de politieke krachten-verhoudingen in ons volk. Tegaslah kini corak-coraknya Kemauan Rakyat, – de schakeringen van de Volkswil.

Dan dengan demikian, kita telah meletakkan dasar yang lebih kokoh lagi untuk mengem-bangkan kehidupan demokrasi yang lebih sempurna di masa datang. “Mengembangkan”. Sebab tata-demokrasi kitapun belum sempurna.

Tetapi Panta Rei, – alles vloeit -, kataku tempo hari, segala sesuatu mengalir, segala sesuatu berjalan, tidak ada barang sesuatu yang mandek. Janganlah lupa akan hukum sejarah ini! Saya tahu, ada di antara saudara-saudara yang tidak puas dengan cara atau prosedure daripada pemilihan-umum yang lalu itu. Saya tahu, ada yang berkata: “ah, orang itu-lagi dan orang itu-lagi masuk D.P.R.!” Tetapi saya bertanya: tidakkah prosedure itulah yang disetujui oleh D.P.R. yang lampau? Dan tidakkah demokrasi berarti tunduk kepada kehendak yang banyak? Kita ini mau berdiri atas dasar demokrasi atau tidak? Tidak seorangpun dari kita ini yang telah puas dengan apa yang telah kita capai sekarang, dan sayapun tidak. Tetapi saya berpikir riil. Saya tidak mau berpikir di luar buminya kenyataan. Karena itulah saya tadi berkata, bahwa dengan pemilihan-umum yang lalu itu kita meletakkan dasar yang lebih kokoh lagi untuk mengembangkan kehidupan demokrasi yang lebih sempurna di masa datang! Dan bahwa kita pasti menuju kepada kesempurnaan itu di masa datang, – itu bukan raba-rabaan saja bagiku, itu adalah pengetahuanku yang kokoh, itu adalah keyakinanku yang tidak goyang, laksana batu-karang di tengah lautan. Sekali lagi: Panta Rei, segala sesuatu berjalan, segala sesuatu ber-Evolusi. Aku melihat hari-kemudian kita selalu menaik. Aku melihat masa depan kita terang-benderang. Aku tahu benar kekuatan daripada cita-cita bangsaku, aku kenal benar kemampuan-kemampuan bangsaku untuk merealisir cita-citanya. Aku belum kehilangnn kepercayaan kepada bangsaku sendiri!

Segi lain yang memberi corak khusus kepada perayaan hari ini ialah, bahwa kita kini mempunyai satu Pemerintah yang program-bekerjanya diterima dengan suara bulat oleh Parlemen pilihan rakyat. Dan Parlemen pilihan rakyat inipun pada tanggal 21 April 1956 membenarkan dengan suara bulat, pembatalan unilateral daripada seluruh perjanjian-perjanjian K.M.B.!

Apakah arti pembatalan perjanjian K.M.B. itu? Arti daripada pembatalan itu ialah, bahwa kita telah berhasil mengembalikan status Negara kita kepada status yang dimaksudkan oleh Proklamasi: Satu Negara Merdeka yang berdaulat penuh, dengan tiada ikatan sedikitpun kepada suatu negara lain, yang mengurangi kepada kedaulatannya. Kembalilah kita kepada Realiteit Politik sebagai yang kita nyatakan sebelas tahun yang lalu. Kembalilah kita kepada maksud Proklamasi yang asli. Kembalilah kita kepada maksud ikrar: “Merdeka, 100% merdeka, dari Sabang sampai Merauke!” Sebagai yang kita gelèdèkkan pada permulaan Revolusi.

Ya, itulah arti pembatalan perjanjian K.M.B.: Kembali kepada realiteit politik yang semula, yaitu pada saat diadakan Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan saja Hari Proklamasi, 17 Agustus 1945 adalah pula Hari Lahirnya Republik. Dus, pembatalan perjanjian K.M.B. berarti kembali kepada Realiteit Politik 17 Agustus 1945. Tetapi, apakah pembatalan itu juga sudah berarti kembali kepada Jiwa sebagai yang kita alami tepat sebelas tahun yang lalu? – Jiwa Gemilang yang dalam bulan Agustus 1945 membuat hati-sanubari patriot-patriot Indonesia bersinar seperti ndaru, bersinar sebagai hatinya malaekat-malaekat? Jiwa Gemilang yang penuh dengan idealisme dan kesediaan berkorban. Jiwa Gemilang yang tidak mengenal takut, tidak mengenal kepentingan diri sendiri, tidak mengenal rasa kecil, tidak mengenal kesetengah-setengahan, – Jiwa Gemilang yang membuat Revolusi Politik kita pada waktu itu bersifat satu Revolusi Batin yang tiada taranya dalam sejarah revolusi-revolusi nasional di seluruh muka-bumi? Jawablah pertanyaan ini sendiri! Sebab, tergantung pula dari kita selanjutnya akan lekas mencapai hasil yang memuaskan, atau tidak!

Sebagaimana saya katakan pada pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat yang sekarang, kita ini telah melampaui dua taraf perjoangan: taraf revolusi bersenjata, dan taraf mengatasi akibat-akibat perjoangan bersenjata. Taraf “physical revolution”, dan taraf “survival”. Dan sekarang, demikian kataku selanjutnya, kita berada dalam taraf “investment”, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya, untuk pembangunan seterusnya. Dan telah saya jelaskan pula investment apa: Investment of human skill. Material investment. Dan Mental investment.

Investment of human skill: pemupukan modal yang berupa kejuruan, ketrampilan, keprigelan. Dus terutama sekali pemupukan Kader.

Material investment: pemupukan modal materie. Modal barang, modal bahan, modal alat-alat. Modal uang, yang harus berupa Modal Nasional yang harus kita pupuk dari uang bangsa Indonesia sendiri, sebagai yang sudah saya anjurkan dalam pidato 17 Agustus dua tahun yang lalu.

Mental investment: pemupukan modal mental. Modal cara-berfikir. Modal pandangan-hidup. Modal tekad. Modal batin.

Terangkah atau tidak, bahwa semua investment-investment ini, terutama sekali investment mental, menghendaki Jiwa Nasional yang suci-murni, “sepi hing pamrih ramé hing gawé”, – Jiwa Nasional yang benar-benar Jiwa Proklamasi, jiwa Nasional yang laksana ndaru kataku tadi, Jiwa Nasional yang laksana jiwanya malaekat kataku tadi pula? Ya, buat kesekian kalinya saya katakan: boleh sekarang kita belum mempunyai alat-alat materiil secara lengkap, boleh sekarang kita belum memiliki tractor ketian atau laksaan, boleh sekarang kita belum memiliki baja atau semen, arang-batu seribu gunung, boleh sekarang kita belum mempunyai bahan-bahan kimia seribu gudang, ya, boleh sekarang kita belum memiliki satu gergaji dan satu martilpun, – boleh sekarang kita belum beralat samasekali, laksana telanjang bulat hanya berdjari lima dan “akandang langit akemul mega”, – maka dengan jiwa malaekat Insya Allah kita tidak akan mati. Tetapi jika jiwa kita bukan jiwa yang benar-benar ingin membina satu Indonesia Baru, jika jiwa kita masih jiwa yang dihinggapi oleh penyakit-penyakit minder-waardigheidscomplex, jika jiwa kita masih jiwa yang berkarat dengan karatnya “Hollands denken”, jika jiwa kita belum jiwa yang mengalami Mental Revolution yaitu Revolusi Batin, maka janganlah mempunyai harapan apa-apa mengenai hari-kemudian melainkan kebelakangan dan perbudakan. Di Amerika tempo hari saya katakan: lebih baik kita tiada bertractor dan tiada berbulldozer daripada mengorbankan sebagian kecilpun daripada kedaulatan kita dan cita-cita kita, lebih baik kita membuka hutan kita dan menggaruk tanah kita dengan jari sepuluh dan kuku kita ini, daripada menjual serambutpun daripada kemerdekaan kita ini untuk dollar atau untuk rubel, – dan apa yang saya maksudkan dengan kata-kata itu niscaya tak mungkin berupa satu kenyataan, bila tidak dipikul oleh satu Jiwa Rakyat Indonesia yang benar-benar Jiwa Proklamasi.

Banyak hal-hal yang masih mengecewakan, meski harus diakui bahwa ada kemajuan. Ambillah misalnya kerjasama antar partai. Kerjasama antar partai belum seperti yang kita harapkan. Untuk investment secara efisien, diperlukanlah iklim baik yang memungkinkan orang bekerja keras zonder gangguan-gangguan apapun juga. Belum nanti kerja raksasa pembangunannya an sich! Iklim baik itu harus diusahakan, antara lain dengan penyempurnaan hubungan-antar-partai. Ya, sebenarnja hubungan-antar-partai itupun masuk dalam rangka investment mental yang saya maksudkan tadi. Mental kita harus berobah! Mental kita harus ber-revolusi! Mental kita harus mengangkat diri kita di atas kekecilan jiwa, yang membuat kita suka gègèr dan èkèr-èkèran mempertengkarkan urusan tètèk-bèngèk yang tidak penting.

Parlemen pilihan rakyat telah tersusun, pemerintah koalisi telah terbentuk, program-bekerja pemerintah telah disetujui oleh seluruh D.P.R., – mudah-mudahan kenyataan ini dapat memperbesar kemungkinan berkembangnya iklim yang baik, buat bekerja secara kontinu guna memulai usaha-usaha investment dan pembangunan secara tingkat-meningkat dan berencana, menuju pelaksanaan cita-cita rakyat!

Meskipun pemilihan-umum belum mendatangkan penyederhanaan dalam sistim kepartaian di tanah air kita, – ai, berapa jumlah partai besar-besar dan kecil-kecil dan maha kecil-kecil di tanah-air kita ini? -, namun setidak-tidaknya pemilihan umum itu dengan jelas telah menunjukkan konsentrasi alam fikiran kepada tidak lebih daripada empat-lima-enam buah. Alangkah baiknya, bila pemimpin-pemimpin konsentrasis ini dapat mengusahakan satu kerja-sama yang hidup atas dasar saling-mengerti dan saling-menghargai, dapat menjelmakan iklim-baik untuk simfoni yang hendak kita lakukan, yaitu simfoni pembangunan Negara dan pembangunan masyarakat yang telah puluhan-puluhan tahun kita idam-idamkan. Hendaknya pemimpin-pemimp0in konsentrasis itu mengusahakan agar supaya konsentrasi itu bukan konsentrasinya negativisme yang menyebarkan antagonisme ke kiri dan ke kanan, tetapi konsentrasi-nya positivisme yang menyebarkan sintese ke kiri dan ke kanan, – inti-inti energi di sekitar mana partai-partai lainnya bergerak runtut-tertib laksana elektron-elektron yang merupakan kesatuan dengan intinya.

Ya, memang telah ada kemajuan dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu. Antagonisme kepartaian sebagai tahun yang lalu, sekarang sudah berkurang. Kepanasan udara sebagai tahun yang lalu, yang orang hampir saja bunuh-bunuhan, sekarang sudah agak reda. Tetapi masih ada hal-hal lain yang menghambat persatuan dan kesatuan.

Antara lain: Pertama, hubungan antara pusat dan daerah, dan antara daerah dan daerah, belum sebagaimana mustinja. Kedua, penggangguan keamanan oleh gerombolan-gerombolan bersenjata masih belum kita sapu bersih samasekali. Ketiga, penjajahan ekonomi oleh Belanda masih belum kita lempar ke dalam laut, penjajahan kolonialis-imperialis di Irian Barat masih belum kita habisi. Kalau kita dalam waktu singkat dapat menyudahi tiga penyakit ini saja, dan kita menjalankan investment dengan serajin-rajinnya, maka dapatlah pembangunan berjalan dengan lantcar selancar-lancarnya.

Hubungan antara pusat dan daerah! Sudah menjadi pembawaan tiap-tiap manusia, bahwa ia lebih memperhatikan barang sesuatu yang berdekatan dengan dia, daripada barang sesuatu yang jauh. Sesuatu pemerintahanpun tak luput dari pembawaan ini: Kadang-kadang pandangan matanya ke daerah yang jauh letaknya menjadi kendor. Tetapi, sebagai yang saya katakan di Universitas Heidelberg dua bulan yang lalu: sesuatu Negara, sesuatu bangsa, adalah satu organisme, dan sesuatu organisme tak dapat dibagi-bagi, tak dapat dicerai-pisahkan, zonder membahayakan keselamatannya organisme itu. Ia adalah satu tubuh-hidup, yang meskipun terdiri dari bermacam-macam jenis organ, toh seluruhnya merupakan satu kesatuan yang saling memerlukan, saling pengaruh-mempengaruhi dalam fungsi-fungsinya, saling mengaktivir, saling menghidupi.

Republik Indonesia adalah satu organisme, bangsa Indonesia adalah satu organisme. Jagalah kesatuan hidupnya organisme itu. Jagalah jangan sampai satu organ tak dapat berfungsi, karena kurang mengalirnya zat-zat hidup kepadanya. Jagalah, sebaliknya, jangan sampai ada satu organ yang mendapat bagian zat hidup begitu banyak sehingga mengakibat-kan pertumbuhan yang tak seimbang antara organ dengan organ, dan oleh karenanya mengganggu irama hidupnya sang tubuh sebagai satu keseluruhan.

Dalam istilahnya Republik kita: jagalah jangan sampai hubungan antara pusat dan daerah, antara daerah dan daerah, kurang irama, baik di lapangan pemerintahan, maupun di lapangan ekonomi dan keuangan. Hanya bilamana ada keseimbangan yang rasionil dalam hubungan pusat dan daerah, dan antara daerah dan daerah, di lapangan-lapangan yang kusebutkan tadi, maka akan lenyaplah salah satu faktor negatif dalam usaha kita menyelenggarakan iklim baik dan keseragaman, bagi investment dan pembangunan, bagi pembinaan Negara dan masyarakat.

Saudara-saudara, semua hal yang saya katakan mengenai kehidupan antar-partai dan perhubungan pusat daerah itu, adalah masuk ke dalam Dharma menggembléng Persatuan, Persatuan yang begitu perlu-mutlak untuk iklim-baik. Dan Dharma Persatuan itupun, kecuali adalah satu syarat mutlak untuk kehidupan sesuatu rakyat sebagai Bangsa, sebagai kukatakan tadi adalah satu syarat untuk melaksanakan Dharma Pembangunan. Demikian pula maka Dharma menyelesaikan soal keamanan adalah satu syarat untuk Pembangunan.

Selama keamanan masih belum terjamin kembali pembangunan tak akan lancar! Bagaimana rakyat dapat bekerja tenang untuk penghidupannya, dapat bekerja tekun untuk membangun masyarakatnya, jikalau mereka selalu diliputi oleh rasa tidak aman, rasa kekhawatiran, rasa takut, karena masih ada gerombolan-gerombolan pengacau yang berkeliaran? Brandalan atau bendewezen ini selekas-lekasnya harus dibasmi bersih! Dan meskipun ada sesuatu ideologi politik di belakang sebagian daripada gerombolan-gerombolan itu, – bukan cara yang dapat kita benarkan, cara mereka itu mencoba mengembangkan tujuan-tujuan politiknya dengan memberontak kepada Negara, dengan membakar dan membunuh, dengan menggedor dan menggarong, – dengan menterori rakyat, menyengsarakan rakyat, menelanjangi rakyat, mengkocarkacirkan ekonomi rakyat, mengkocarkacirkan hati rakyat, mengkocarkacirkan keselamatan jiwa rakyat.

Karena itu, habisilah dengan segera pengacauan ini. Ya, itu telah sering saya katakan. Ya, itu telah sering pula dikatakan oleh orang-orang lain. Dan memang adalah kemajuan. Pemerintah menjalankan politik keamanannya, dibantu oleh alat-alat kekuasaan Negara. Di sana-sini tercapai hasil-hasil yang lumayan. Di sana-sini ada gerombolan-gerombolan yang berbalik fikir, dan datang ke pangkuan Republik dan masyarakat kembali. Saya mengucapkan penghargaan kepada saudara-saudara yang berbalik fikir itu, dan sebagai Presiden saya mengucapkan kepada mereka ”Selamat datang di rumah kembali”.

Kepada mereka yang belum berbalik fikir, saya ulangi panggilanku yang telah kuucapkan berulang-ulang. Untuk mereka itu saya ulangi di sini ucapanku tahun yang lalu: “Semua lapisan, semua gerombolan-gerombolan di hutan-hutan saya panggil pada hari ini, supaya lebih dalam menginsyafi dan mempraktekkan hidup ketatanegaraan, – hidup ketatanegaraan Republik Indonesia!”

Jikalau saya tinjau segala sesuatu dengan kacamata histori, maka saya tetap optimistis, “Historis optimistis!”. Saya tidak berkata bahwa misalnya D.I. dan T.I.I. dapat kita likwidir dalam tempo satu dua hari, atau satu dua pekan. Tidak! Tetapi saya berkata bahwa nanti, sesudah sesuatu jangka masa, D.I. dan T.I.I. pasti akan lenyap dari muka-bumi. Setahun yang lalu saya telah berkata:

“Di semua daerah-daerah pengacauan itu bukanlah rakyat sebagai satu keseluruhan memberontak kepada Republik, tetapi berjalanlah terornya bendewezen, terornya brandalan, – brandalan kriminil dan brandalan politik”.

“Ah, jikalau difikir-fikir, pengacauan-pengacauan itupun reruntuh-reruntuh kolonialisme. Apalagi sesudah terbukti jelas, bahwa anasir-anasir jahat dari fihak Belanda bercampur-tangan dalam pengacauan-pengacauan itu! Karena itu aku tetap optimistis. Satu waktu nanti Insya Allah pasti datang, yang pengacauan-pengacauan itu tidak ada lagi. Satu waktu nanti pasti akan datang, yang brandalan politik itu habis samasekali. Sebab kolonialismepun akan lenyap-bersih dari sini, – lenyap bersih samasekali, zonder ada sedikitpun sisa reruntuh-reruntuhnya lagi. Tetapi proses-proses historis pun tidak berjalan zonder campur-tangan manusia. Kita harus bertindak, kita harus berbuat sebagai elemen aktif dalam histori. Kita harus mematahkan pengacauan-pengacauan itu, sebagaimana juga kita harus mematahkan reruntuh-reruntuh kolonialisme yang lain-lain, – ya, sebagaimana juga kita mematahkan tulang-punggung kolonialisme dengan seribu-satu jalan.

Dus? Ya, – patahkanlah pengacauan-pengacauan itu dengan segala ikhtiar! Sedapat mungkin patahkanlah ia dengan jalannya penginsyafan, dengan jalannya penerangan, dengan jalannya kekuatan ratio dan moril. Sedapat mungkin laluilah jalannya otak dan jalannya batin. Tetapi jika tidak mungkin, patahkanlah ia dengan kekerasan senjata juga. Hantam dia dengan palu godam, jika ratio dan jika moril tidak mempan.

Malah barangkali inilah satu-satunya jalan pemadaman pengacauan yang tepat bagi Indonesia: Kombinasi antara jalan ratio moril dan jalan kekerasan senjata! Tidakkah kita menghantam kolonialisme bertahun-tahun lamanya juga dengan jalan kombinasi itu? Kombinasi antara desakan politik dan hantaman Revolusi? Kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld?”

Akhirnya, saudara-saudara, masih ada satu penghambat persatuan lagi yang maha-negatif. Penghambat persatuan, penghambat iklim-baik, penghambat pembangunan; peluka rasa kebangsaan, peluka rasa Nasional. Penghambat dan peluka itu ialah masih adanya penjajahan di Irian Barat. Sebelum penjajahan di Irian Barat itu lenyap, kita belum merasa aman. Dan rakyat di Irian Barat sendiripun menunggu-nunggu penggabungan kepada Republik. Karena itu, maka semua minat kita harus kita tujukan kepada pembebasan Irian Barat itu. Dengan gembira saya umumkan, bahwa pada hari syakti sekarang ini kita telah membentuk Propinsi Irian Barat. Sebagian daripada wilayah Propinsi Irian Barat itu telah berada dalam kekuasaan de facto kita, sebagian lagi belum. Di bagian yang belum dalam kekuasaan de facto kita itu masih bercokollah kekuasaan Belanda, – masih bercokollah kolonialisme dan imperialisme Belanda. Pembentukan Propinsi Irian Barat ini adalah hanya merupakan salah satu jalan saja dalam rangka perjoangan melaksanakan kekuasaan de facto Republik Indonesia atas bagian yang diduduki oleh Belanda itu. Salah satu jalan saja! Sebab kita tidak menyandarkan perjoangan kita pada pembentukan Propinsi Irian Barat itu saja, kita berjoang di segala lapangan yang kita pandang baik. Kita menyandarkan perjoangan kita pada Kekuatan Rakyat Indonesia, dan di samping itu pada kekuatan-kekuatan anti-kolonialisme di dunia internasional. Terutama sekali Kekuatan Rakyat Indonesia sendirilah yang akan menentukan hasil kesudahannya. Ingatkah saudara kepada ucapan saya di Surabaya tahun yang lalu?: “Perjoangan Irian Barat, the Battle of Irian, tidak ditentukan di Den Haag, tidak di Washington, tidak pula di P.B.B., tetapi di sini, di dalam pagar tanah-air kita sendiri!

Maka susunlah Kekuatan Rakyat itu sehebat-hebatnya, bangkitkanlah Kekuatan Rakyat itu sehebat-hebatnya. Irian Barat harus lekas kita kembalikan ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Saudara-saudara! Sebelum saya meneruskan pidato, marilah saya lebih dulu mengulangi lagi beberapa pokok:

P e r t a m a:

Kita mengadakan perayaan Hari Kemerdekaan sekarang ini dalam beberapa suasana:

Perayaan ini adalah sesudah terselenggara pemilihan-umum untuk D.P.R. dan Konstituante.

Perayaan ini diadakan dengan adanya satu pemerintah atas dasar program yang diterima dengan suara bulat oleh Parlemen pilihan rakyat.

Perayaan ini adalah perayaan sesudah kita membatalkan seluruh perjanjian K.M.B.

Perayaan ini adalah perayaan dalam alamnya investment untuk pembangunan.

K e d u a:

Dharma menggemblèng Persatuan Nasional perlu kita pergiat penyelenggaraannya, sebab Persatuan Nasional mendatangkan iklim baik untuk invesment dan pembangunan. Pemilihan-umum telah meletakkan dasar-dasar untuk iklim baik dan Persatuan itu. Tetapi pemilihan-umumpun hanya satu permulaan saja. Pemilihan-umum hanya batu yang pertama.

Persatuan Nasional masih harus disempurnakan lagi, agar iklim baik itu segera tercipta:

Hubungan antar partai masih belum baik; perbaikilah hubungan antar partai itu.

Hubungan pusat daerah masih belum baik; perbaikilah hubungan pusat daerah itu.

Pengacauan keamanan masih belum berakhir; banteraslah terus pengacauan itu. Irian Barat masih dijajah; banteraslah penjajahan di Irian Barat itu.

Nah, saudara-saudara, itulah yang saya uraikan di muka tadi. Satu hal menclèrèt di sepanjang uraian itu, – satu clèrètan api, apinya ikhtiar, apinya perjoangan. Saya menguraikan hal hubungan pusat daerah yang belum lancar itu tadi, hal keamanan yang di sana-sini belum terjamin, hal penjajahan di Irian Barat, bukan untuk meminta saudara-saudara berhenti, bukan untuk menyuruh saudara-saudara termenung bertopang dagu, melainkan justru untuk meng-gugah semangat saudara-saudara, membangkitkan saudara-saudara supaya berusaha, ber-ikhtiar, berjoang, bercancut-taliwanda, memasuki tingkat Revolusi Invesment dan Revolusi Pembangunan dalam nyala api-unggunnya Persatuan Nasional.

Alhamdulillah, platform untuk mempersatukan segenap tenaga nasional sekarang sudah ada: Program Kabinet, yang sudah diterima oleh seluruh partai. Gunakanlah platform politik ini sebagai tempat berpijak bagi kita semua untuk memutar roda pembangunan segiat-giatnya. Jangan program kabinet itu sekadar merupakan dokumen perhiasan saja. Jangan ia naskah yang mati! Sebab, program yang bagaimanapun indah susunannya, bagaimanapun progresif-nya, bagaimanapun kebenaran teoretisnya, akan menjadi satu bangkai naskah, jika tidak disertai keberanian bertindak dalam melaksanakannya.

Kita telah menunjukkan keberanian untuk secara jantan merobek-robek seluruh perjanjian K.M.B. Kita dengan itu telah menjalankan satu revolutionnaire daad, satu tindakan revolusioner. Tetapi jangan kita sekarang mandek! Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner dalam menampung segala akibat-akibatnya. Jangan setengah-setengah, jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan. Benar, memang jangan kita main sembrono, bertindak zonder perhitungan, tetapi ketidak-sembronoan dan perhitungan janganlah diartikan “alon-alon asal kelakon”! Rakyat sudah tidak sabar lagi! Kita boleh bersabar satu bulan, dua bulan, ya satu-dua tahunpun masih mungkin dapat kita bersabar, tetapi sekali-kali janganlah mencoba meminta kesabaran rakyat 350 tahun lagi!

Apa yang segera dikehendaki oleh si Dadap, si Waru, si Polan, si Badu, si Kromo? Apa yang dikehendaki oleh seluruh rakyat, terutama sekali oleh si Tani? Yang dikehendaki oleh mereka segera, ialah makanan, pakaian, perumahan, dan bagi si Tani ini berarti tanah. Tanah untuk mengambil makanan daripadanya, tanah untuk mengambil pakaian daripadanya, tanah untuk menaruh perumahan di atasnya.

Ini, inilah tiga masalah pokok yang mengisi fikiran rakyat sehari-hari: bagaimana periuk supaya berisi, bagaimana pakaian dapat berganti, bagaimana mempunyai rumah untuk berteduh diri? “Sandang, pangan, pangan”. Dan bagi si Tani persoalan ialah: bagaimana mempunyai tanah untuk ketiga-tiga hal itu? Si Tani! Ya, siapa itu puluhan juta manusia yang berduyun-duyun tempo hari ke tempat-tempat pemungutan suara dalam pemilihan-umum? Siapa itu laki-laki yang antri di sinar matahari, siapa itu wanita yang menggendong anak? Mereka adalah si Tani, dan di muka mereka berdiri pula si Tani. Dan di belakang mereka juga si Tani. Mereka datang mengeluarkan suaranya tentu dengan harapan di dalam kalbunya, bukan untuk sekadar “memilih” saja. Harapan mereka itu, dalam Negara kita ini, harus segera dipenuhi. Indonesia sekarang bukan lagi Indonesia jajahan. Indonesia sekarang adalah Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat, dan, Indonesia sekarang adalah Indonesia yang demokratis, Indonesia yang berkerakyatan. Alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang, – Parlemen yang dipilih oleh si laki di sinar matahari itu tadi dan oleh si wanita yang meng-gendong anak itu -, alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang ini menanggulangi opgave ini dengan selekas-lekasnya! Dan bukan Parlemen saja! Semua kita harus menanggulangi opgave ini. Semua kita, baik Parlemen, maupun Pemerintah, maupun partai-partai. Dan bukan menanggulanginya dengan “memepersoalkan” melulu opgave ini, melainkan menanggulangi-nya dengan penyelesaian yang kongkrit nyata. Dengan bicara saja kita tak dapat membangun Negara dan Masyarakat. Met praten alleen bouwt men geen land!

Ya, di segala lapangan kita tak boleh hanya “mempersoalkan soal” saja, di segala lapangan kita tak boleh hanya “praten” saja. Investment dan Pembangunanlah semboyannya perayaan sekarang ini. Investment besar-besaran, untuk Pembangunan besar-besaran. Ini berarti: mem-banting tulang, mengulur tenaga, memeras keringat, bekerja keras, bekerja mati-matian.

Investment of human skill meminta kita mendidik kader-kader kejuruan, kader-kader ekonomi, kader-kader teknis, kader-kader organisasi, – meminta kita memperluas jumlah sekolah-sekolah kita, menambah tempat-tempat penggemblengan tunas-tunas muda kita. Material Investment meminta kita memupuk modal materi, modal bahan, modal barang, dan terutama sekali, sebagai saya katakan tadi, modal uang, Kapital Nasional, yang harus kita pupuk dari uang-bangsa Indonesia sendiri.

Dan mental investment meminta kita merobah segenap kita punya alam-berfikir dan alam-kejiwaan, dari alamnya mentaliteit kolonial ke alamnya mentaliteit Nasional, dari alam mentaliteit Inlander ke alam mentaliteit Dinamika Revolusi.

Kita telah membatalkan seluruh perjanjian K.M.B. Rakyat sekarang menanti penampungan pembatalan itu. Dan sahabat-sahabat Indonesia di seluruh duniapun menanti-nanti, seolah-olah bertanya kepada kita: “Apa yang engkau perbuat seterusnya, hai Indonesia?” Karenanya, marilah berjalan terus! Sebagai kukatakan tadi: jangan kita mandek di tengah jalan. Terus! Dengan berpedoman kepentingan Negara dan kepentingan Rakyat Jelata! Bahu-membahu, berbareng bersama-sama dalam satu barisan Nasional! Penampungan pembatalan perjanjian K.M.B. yang disetujui oleh segenap rakyat itu adalah pula satu platform bersama yang baik untuk mempersatukan tenaga nasional.

Alhamdulillah, kita memang tidak mandek di tengah jalan. Kita tidak mangu-mangu. Setelah seluruh perjanjian K.M.B. kita batalkan, dengan segera kita telah bentuk “Panitia Negara Penasehat Penyelesaian Pembatalan K.M.B.” Panitia ini telah memberikan nasehat-nasehatnya, dan Pemerintah mempelajari nasehat-nasehat itu dengan saksama. Selangkah-demi-selangkah, setapak-demi-setapak. Pemerintah hendaknya bertindak untuk membersihkan Negara kita dari sisa-sisa tali-temali yang mencekek leher rakyat kita, menjirat kaki rakyat kita.

Salah satu tali itu adalah hutang-hutang K.M.B.

Ya, – “hutang-hutang K.M.B.” Hutangnya siapa? Pada waktu Belanda mengakui kemerdekaan kita pada akhir tahun 1949, pada waktu ia angkat kaki, ia meninggalkan almari besi. Bukan almari besi yang penuh dengan uang atau emas atau berlian, bukan almari besi yang berisikan “mas picis raja-brana”, melainkan almari besi yang penuh dengan – bon.

Bon-bon hutang pemerintah Nederlands-Indië yang berjumlah berjuta-juta, bahkan bermilyar-milyar gulden. Bon-bon ini menurut perjanjian K.M.B. kita harus oper. Bon-bon itu kitalah yang harus bayar. Bayar, bayar, ya bayar, bukan saja oleh generasi sekarang, tetapi meski sampai generasi ini menjadi tua-bangka, dan sampai generasi yang akan datang sekalipun. Ya, bayar, betalen, – bont en blauw betalen!

Perjanjian K.M.B. telah berjalan lebih dari enam tahun. Dan selama enam tahun itu, kita sebagai satu bangsa yang berbudi telah membayar, membayar dengan bunga-bunganya samasekali. Kita telah membayar “bont en blauw”. Membayar sampai kuning-hijau muka kita. Ya, kita memang pembayar hutang yang paling setia!

Akan tetapi, pada waktu bon-bon itu disodorkan kepada kita di K.M.B., kita tidak mempunyai cukup waklu untuk menelitinya dengan saksama. Kita pada waktu itu tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelidiki: “layak apa tidak hutang-hutang itu dibebankan kepada kita?” “Layak apa tidak ia kita oper?” Dan pada waktu itu Belanda was zo lief en zo goed untuk menghitungkan semua hutang-hutangnya – untuk kita!

Kita telah telaah semua bon-bon itu dengan saksama. Kini malah semua akibat-akibat perjanjian K.M.B. telah kita selidiki dengan teliti. Apa ternyata? Ternyata bahwa tidak semua hutang itu seharusnya kita yang bayar, tidak selayaknya kita yang bayar. Sebab sebagian besar daripada hutang itu ialah hutang untuk membeli pentung untuk mementung kepala kita. Dan atas nasehat Panitia, Pemerintah telah pula mengambil satu-satunya keputusan yang tepat: yaitu, tidak mengakui hutang-hutang Indonesia kepada fihak Belanda, dan tidak akan mem-bayar lagi hutang-hutang Indonesia kepada fihak Belanda.

Perhatikan: kepada fihak Belanda! Hutang-hutang Nederlands Indië kepada negara-negara lain, dan yang telah kita oper menjadi hutang kita, tetap kita akui, dan tetap kita jamin pembayarannya. Dus yang tidak kita bayar lagi itu ialah hutang-hutang kita kepada fihak Belanda, bukan hutang-hutang kita kepada fihak yang bukan-Belanda.

Kita bukan kaum kemplang. Kita bukan golongannya bangsa yang mau main sikut hutang. Kita bersedia membayar semua hutang, asal hutang itu nyata-hutang. Tetapi perhitungan-perhitungan yang kita kerjakan di waktu-waktu yang akhir ini membuktikan, bahwa kita ini sebenarnya – tidak punya hutang lagi kepada Belanda.

Bagaimana? Sebagian besar hutang itu ialah untuk membeayai peperangan menghantam kita, dan sebagian kecil ialah untuk pembangunan. Yang kecil ini sudah barang tentu kita akui sebagai hutang. Tetapi yang besar? Tidakkah sangat tidak layak, tidak adil, sangat aneh bin ajaib, kalau rakyat kita dibebani memikul hutang-hutang Belanda yang dulu dipakai untuk membeayai pentung pemukul kita? Tidakkah aneh bin ajaib bin majnun, kalau rakyat kita harus membayar hutang pembelian bom-bom dan dinamit-dinamit yang dulu dimuntahkan atas kepala-kepala kita, untuk membunuh kita dan menghancur-leburkan kita? Anak-kecil yang masih umbelen pun akan menjawab: wah itu memang aneh bin ajaib bin majnun.

Tapi hutang yang kecil, hutang yang untuk pembangunan? Ya, tentu, itu kita akui, itu kita mau bayar. Tapi hutang kecil ini dapat kita perhitungkan kembali kepada jumlah hutang yang jauh lebih besar itu tadi! Dan telah kita perhitungkan! Dengan begitu, hutang kita kepada fihak Belanda itu sebenarnya-sudah tidak ada lagi. Sudah habis. Sudah lunas. Sudah punah. Kita memang bukan tukang kemplang!   .....selanjutnya>>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 38 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pidato Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Paham Kebangsaan Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar