Home » 2016 » August » 7 » ​Beragama Itu Menegakkan Perikemanusiaan dan Perikeadilan
7:54 AM
​Beragama Itu Menegakkan Perikemanusiaan dan Perikeadilan
"Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhari dan Muslim)

Apakah perikemanusiaan itu? Perikemanusian adalah perikeadilan. Apakah perikeadilan itu? Perikeradilan itu adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. Jadi, mereka yang beriman pastilah akan berlaku adil dengan orang lain. Mereka yang beriman pastilah tidak akan merugikan dan menzalimi orang lain. Dan mereka yang sempurna dalam iman, pastilah mereka akan mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Perikeadilan inilah perikemanusiaan itu. Perikeadilan inilah nilai-nilai kemanusiaan yang melekat dalam penciptaan setiap manusia. Setiap manusia siapapun dia pastilah senang diperlakukan adil dan akan marah jika tidak diperlakukan dengan adil. Perikeadilan inilah yang menjadi inti perikehidupannya manusia. Di dalam perikehidupannya manusialah ada dan terdapat perikeadilan ini. Di dalam perikehidupan binatang, perikeadilan ini tidaklah berlaku. Bagi binatang, sah-sah saja jika mereka merampas milik atau menyakiti sesamanya. Tidak ada dosa dan salah bagi binatang melakukan yang demikian itu. Tapi dalam perikehidupan manusia, tentu sangatlah berbeda. Menyakiti, merugikan dan menzalimi sesama manusia adalah salah dan dosa. Menyakiti dan menzalimi sesama manusia adalah pengingkaran atas fitrah penciptaan. Menyakiti dan menzalimi sesama manusia adalah tindakan durhaka kepada ajaran Allah.

Tentu kita juga harus tahu bahwa keharusan berlaku adil ini tidaklah hanya terbatas kepada mereka yang segolongan dan seagama dengan kita. Berlaku adil adalah keharusan seorang manusia kepada manusia lainnya. Al-Qur’an telah sangat jelas menerangkan akan hal ini. Dan haruslah tahu juga kita bahwa bersaudara itu tidaklah juga hanya dibatasi oleh kesamaan golongan ataupun agama. Bersaudara itu haruslah juga meliputi seluruh umat manusia. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata: Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Ya, kita semua memanglah saudara dalam kemanusiaan. Maka ketika kita membaca hadist nabi di atas janganlah kita membatasi itu hanya sebatas mereka yang segolongan atau seagama dengan kita saja. Tidak, itu adalah berlaku kepada seluruh manusia. Mereka yang punya kualitas cinta yang seperti itulah mereka yang mempunyai kualitas iman yang sempurna. Mereka itulah orang-orang yang beriman bahwa Tuhan itu Esa. Mereka itulah orang-orang yang beriman bahwa semua manusia berasal dari Tuhan yang sama. Mereka itulah orang-orang yang beriman bahwa setiap manusia diciptakan dalam fitrah diri yang sama. Mereka itulah orang-orang yang beriman bahwa ada hak pada diri setiap manusia yang Allah haruskan kita saling hormati dan jaga. Mereka itulah orang-orang yang beriman bahwa menzalimi orang lain sama halnya dengan menzalimi diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang beriman bahwa hanya ketika manusia bersatu dan bersaudara sajalah bumi ini akan menjadi makmur dan sejahtera.

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.  (QS. Ar-Rahman [55]:7-9)

Kita haruslah percaya bahwa telah sejak mula-mula penciptaan alam semesta Allah letakan atasnya sebuah neraca. Neraca keadilan yang tidak boleh seorangpun melampaui batas dan mengurangi neraca itu. Menegakkan timbangan dengan berlaku adil terhadap sesama manusia itulah inti dari pada akhlak yang mulia itu. Bahkan Nabi Syuaib as yang jaraknya beribu-ribu tahun dari kita pernah berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”  (QS. Huud [11]:85). Nyata sekali bagi kita dari ayat tersebut bahwa setiap manusia mempunyai hak-hak yang harus kita hormati dan jaga. Kita tidak boleh mencurangi dan merugikan seorang manusia pun. Kita harus berlaku adil dan tidak boleh kita mengurangi takaran dan timbangan. Segala tindakan yang melampaui neraca; segala tindakan yang tidak berdiri di atas keadilan; segala tindakan yang mencurangi dan mengurangi timbangan, semua itu adalah kejahatan dan sesuatu yang merusak. Jadi, dapatlah kemudian kita memahami bahwa semua itulah maksud dari pada kita beragama. Inilah pokok inti dari kemuliaan akhlak manusia. Nabi Muhammad saw. sendiri telah berpesan kepada kita umatnya sejak lama: “Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”  (HR. Thabrani).

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)".  (QS. Asy Syuura [42]:15)

Jika kita berpijak kepada ayat tersebut dan kemudian menganalisa tentang apa yang sebenar-benarnya menjadi problematika umat manusia hari ini. Akanlah kita mendapati bahwa sebenarnya satu-satunya masalah kita punya adalah keengganan untuk saling memperlakukan setiap orang secara adil. Hanya itu sebenarnya masalahnya umat manusia. Nafsu, kesombongan dan keserakahan kita telah membuat kita gagal membangun sebuah sistem berkehidupan yang benar-benar dapat menjamin keadilan untuk setiap orang. Perhatikanlah kalimat: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu.” Jika kita perhatikan setiap kitab suci yang kita kenal, akanlah kita pun mendapati bahwa pada intinya sekali apa yang dikendaki adalah keadilan. Maka janganlah kita lupa bahwa sekalipun kitab yang kita punya berbeda-beda, tapi sungguh sebenarnya dari Allah jugalah ia ada. Jangan sampai perbedaan kitab suci malah membuat kita berkelahi. Berimanlah kepada semua kitab yang diturunkan Allah. Karena di dalam semua kitab agama yang benar, pastilah akan kita temukan ajaran yang serupa. Ajaran-ajaran yang mengharuskan kita untuk berlaku adil kepada sesama manusia. Sungguh keadilan itulah yang Allah ajarkan dan keadilan itulah yang Allah kehendaki untuk kita tegakkan.

Kita perhatikan kalimat berikutnya ini: ”Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu.”  Tentu kita harus benar-benar mengerti bahwa tidak ada Tuhan lain selain Allah. Hanya ada satu Tuhan di alam semesta ini. Allah adalah Tuhannya seluruh manusia; Allah adalah Tuhanya saya, anda, kita, mereka dan setiap orang yang ada, siapapun dirinya. Kita boleh saja menyebutnya dengan berbagai nama yang berbeda, kita boleh saja memuji-Nya dengan cara yang tak sama, tapi selama yang kita maksud dalam sebutan dan puja kita adalah Dia sang pencipta langit dan bumi ini, siapakah lagi jika bukan Allah. Kita tidak perlu meributkan nama-nama yang digunakan manusia untuk menyebutnya. Allah adalah pemilik asmaul husna atau nama-nama yang baik. Kita boleh menyebutnya sebagai Yang Maha Penyayang, Yang Maha Benar, Yang Maha Bijaksana dan segala sebuatan lain yang baik untuknya. Kita bisa saja menyebutnya sebagai Tuhan yang berkuasa atas jiwaku, Tuhan pemelihara bintang-bintang, Tuhan yang menjaga nafas hidupku atau sebutan baik lainya untuk-Nya. Satu-satunnya yang tidak boleh dalam hal ini adalah menamai-Nya dengan nama yang tak pantas untuk-Nya atau menyimpang dalam menyebut nama-Nya. Sungguh tiadalah sebutan menghalangi seseorang dari yang ditujunya. Karena melalui hatilah setiap kita dapat terkoneksi dengan-Nya. Bahkan doa dari seorang yang bisu sekalipun, selama disampaikan dari hati, tidaklah ada yang menghalanginya untuk sampai kepada-Nya.

Lalu kalimat berikutanya mengatakan: ”Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.” Kita benar-benar harus berfokus kepada amal perbuatan kita masing-masing. Kita tidak boleh berfokus kepada memperselisihkan dan mempertentangan sebutan dan cara kita memuja Tuhan. Jangan sampai perbedaan kitab, perbedaan sebutan Tuhan dan perbedaan cara kita memuja-Nya membuat kita berselisih, bermusuhan apa lagi sampai berperang. Kita harus merelakan masing-masing orang hidup menurut agama dan keyakinan mereka masing-masing. Bukankah memang tidaklah ada paksaan di dalam beragama? Jadi, satu-satunya yang harus kita atur dan perahtikan adalah perbuatan-perbuatan kita. Satu-satunya yang harus kita pastikan adalah ditegakannya keadilan. Setiap orang yang berbuat curang dan jahat, maka haruslah ia menerima hukuman yang setimpal atas kejahatannya itu. Dan orang-orang yang berbuat baik, haruslah juga ia menadapatkan balasan atas kebaikannya. Amal perbuatan seseoranglah yang harus kita jadikan ukuran dalam menilai dan menghakimi. Tantang urusan agama dan keyakinan seseorang biarlah Tuhan yang menilai dan menghakimi-Nya.

Kemudian kalimat berikutnya mengatakan: ”Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali.” Sudah semestinyalah tidak ada pertengkaran di antara kita jika kita semua berfokus kepada menegakkan keadilan dan berfokus kepada amal perbuatan. Kita tidak perlu bertengkar tentang kitab suci, kita tidak perlu bertengkar tentang nama Tuhan, kita tidak perlu bertengkar tentang cara ibadah dan segala hal lainnya tentang agama dan keyakinan kita. Kita hanya harus bersepakat bahwa tidak ada seorangpun yang boleh diperlakukan secara tidak adil. Tentang perbedaan-perbedaan istilah dan tata cara ibadah dalam agama, tidak usah kita risaukan karena pada akhirnya kita semua akan kembali kepada-Nya. Semua perbedaan itu tidak akan pernah selesai untuk kita perselisihkan di dunia ini.

Dari kutipan ayat-ayat di bawah ini kita akan dapat memahami eratnya hubungan antara menegakkan agama dan menegakkan keadilan.

Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan"….  (QS. Al A'raf [7]:29)

Jadi apakah yang Tuhan kehendaki kepada kita umat manusia? Tuhan menghendaki manusia menjalankan keadilan.

….dan dengan kebenaran itu mereka menjalankan keadilan.  (QS. Al A'raf [7]:181)

Jadi untuk apakah Allah menurunkan kebenaran kepada manusia? Untuk menjalankan keadilan.

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya….  (QS. Yunus [10]:47)

Jadi untuk apakah Allah mengutus para rasul? Untuk melaksanakan kehidupan yang ber-keadilan.

….Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan….  (Al Hadiid [57]:25)

Dan untuk apakah kitab diturunkan? Supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.

Jadi baiklah jika kita paham sepaham-pahamnya bahwa untuk menegakkan keadilan itulah adanya agama itu. Dan baiklah jika kita mengerti semengerti-mengerrtinya bahwa dengan menegakkan keadilan itulah kita menegakkan hukum Allah itu. Menegakkan ajaran para nabi. Menegakkan kebenaran. Menegakkan kitab suci. Karenanya siapapun yang mengaku menegakkan agama tapi tiada ia menegakkan keadailan untuk manusia, maka sesungguhnya dia telah berdusta.

Perhatikanlah. Bagaimanakah jika ada seorang anak kecebur ke dalam sumur, akankah kita bertanya terlebih dulu apa agamanya sebelum kita menolongnya? Apakah jika ada seorang wanita yang hendak diperkosa oleh segerobolan penjahat, akankan kita memastikan terlebih dulu apa agamanya sebelum kita menolongnya? Apakah jika ada seorang manusia yang kelaparan dan sekarat, apakah kita harus memeriksa terlebih dulu apa agamanya sebelum kita menolongnya? Tentu saja tidak. Karena di dalam kebenaran, setiap nyawa adalah berharga. Di dalam kebenaran, setiap manusia berhak atas keadilan yang setara. Dan di dalam kebenaran, setiap kita adalah saudara dalam kemanusiaan. Tidak peduli apa agamamu selama kamu seorang manusia, ada hak dari Tuhan pada dirimu yang harus dihormati dan dijaga. Keadilan inilah yang menjadi dasar terbentuknya akhlak yang mulia. Segala sesuatu yang berkaitan dengan akhlak pastilah kita dapati mengakar kepada perikemanuisan dan perikeadilan

Marilah kita ingat kembali apa yang menjadi arah dari pada revolusi bangsa kita. Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa arah dari pada revolusi Indonesia tidaklah hanya untuk mengusir penjajah, tapi lebih jauh dari itu adalah bahwa revolusi Indonesia itu menuju dunia baru. Menuju sebuah dunia tanpa eksploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa. Jadi apakah yang hendak bangsa ini perjuangkan dan lakukan? Kita hendak menegakkan keadilan bagi setiap orang, keadilan bagi setiap golongan, keadilan bagi setiap bangsa dan keadilan bagi setiap manusia. Semua haruslah mendapat hak yang setara untuk diperlakukan dengan adil.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al-Maidah [5]:8)

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 372 | Added by: PuteraGaruda | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar