Home » 2016 » July » 18 » Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami
10:07 AM
Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami

“Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'”   (HR. Bukhari)

Tentu saja ada alasan yang sangat mendasar bagaimana seorang ibu begitu keramat dan mempunyai kedudukan yang amat istimewa dalam agama. Dan tentulah semua karena memang jasanya yang amat besar bagi setiap kita. Mengandung kita selama sembilan bulan lamanya, menyusui dan memelihara kita dengan segala peluh susah yang harus ditanggungnya dalam waktu yang panjang, adalah menjadi alasan yang amat kuat adanya keharusan bagi setiap orang untuk menghormati sang ibu. Itulah yang membuat berbakti kepadanya menjadi hal tidak boleh ditolak oleh siapapun. Dan hal itu pula yang membuat tindakan yang mendurhakai seorang ibu dipandang sebagai sebuah dosa yang besar. Bahkan, ada dikatakan seberapapun besar bakti yang kita buat pada sang Ibu tiadalah dapat itu membayar jasa-jasanya terhadap kita.

Terhadap negeri inipun demikianlah adanya. Negeri ini juga adalah ibu bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang kita menyebutnya dengan sebutan Ibu Pertiwi. Dari tanah dan airnya negeri inilah kita makan dan dibesarkan. Dari udara dan alamnyalah kita bernafas dan menyusu. Bayangkan berapa lama sudah kita menyusu dan dihidupi olehnya. Bayangkan berapa lama sudah kita dipelihara dan dijaga olehnya. Kita tidak boleh menyangkal jasa-jasanya yang besar terhadap kita itu. Dan seperti apapun adanya bangsa dan negara kita saat ini, kita tetap harus tahu bahwa amat banyak jasanya. Jika kita masih bisa berjalan dengan aman, kita masih bisa makan dan minum, kita masih bisa menikmati pendidikan, kita masih bisa menikmati berbagai fasilitas, dan banyak hal lainya, adalah kesemuanya karena upaya dari bangsa dan negara.

Jangan kira jika kita bisa keluar rumah dan pergi kemana saja dengan rasa aman, tidak ada peran dan jasa negara di sana. Bayangkan jika tidak ada hukum yang ditegakan, bayangkan jika tidak ada polisi dan tentara, bayangkan jika keamanan tidak dijaga dan ditata oleh negara, tentu kita tidak akan bisa keluar rumah dengan aman. Kita tentu masih ingat ketika kerusuhan besar terjadi pada bulan Mei 1998 yang lalu. Dimana kita melihat kejahatan dan pembantai terjadi dimana-mana, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran terjadi di berbagai tempat, semua itu terjadi karena tidak berfungsinya aparat penegak hukum pada waktu itu. Jadi jika saat ini kita dapat berjalan-jalan dengan aman, itu bukan karena tidak ada penjahat, tapi karena penjahat itu berpikir seribu kali untuk menjahati kita. Ada hukum yang tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja dari kejahatannya.

Tentu banyak kebaikan yang kita terima karena sebab kerja dari pada negara. Yang mungkin sebagian kita tidak melihat jasa-jasa dari pada negara itu. Benar memang negara kita belum menjalankan fungsinya dengan maksimal sebagaimana yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa. Tapi tidaklah itu menjadi alasan bagi kita untuk mengabaikan negara. Justru menjadi tugas kita semualah untuk memastikan negara ini benar-benar dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan sebaik-baiknya “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Sebagaimana yang diamanatkan oleh Pembukaan UUD’45 itu.

Tidak boleh juga kita abaikan jasa-jasa besar dari para pahlawan negeri ini yang telah mengorbankan segalanya untuk membawa bangsa ini ke alam kemerdekaannya. Hargailah jasa-jasa mereka itu dengan meneruskan cita-cita perjuangan mereka yang belum tergenapi sepenuhnya ini. Agar dengan itu tiadalah sia-sia segala pengorbanan mereka dan agar kita terus bergerak di dalam arus sejarah.

Haruslah kita sadari dengan sebaik-baiknya bahwa rakyat dan negara adalah bagian yang satu. Adalah bagian yang takterpisahkan. Negara ini tidak akan pernah kuat dan hebat tanpa rakyat ikut terlibat membuatnya kuat dan hebat. Janganlah kita menjadi anak-anak bangsa yang hanya bisa berkeluh kesah kepada negara tanpa mau turut serta membaguskannya. Janganlah juga kita membiarkan diri kita diadu domba, dipropokasi oleh mereka yang memang hendak membenturkan terus antara rakyat dan negara. Rakyat bukanlah musuh negara dan negara bukanlah pula musuh rakyat. Kita adalah satu. Inlah juga yang menjadi kunci bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kuat dan sentausa sebagaimana menjadi cita-cita Ampera.  Yaitu ketika rakyat dan negara benar-benar bekerja sama dengan mesra.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adh Dhriyat [51]:56)

Ya, untuk mengabdi kepada Allah-lah manusia itu diciptakan. Pertanyaannya, bagaimanakah cara kita mengabdi kepada Allah itu? Bung Karno pernah berkata: “Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Di dalam agama pun kita telah diajar tentang hubungan antara ‘hablumminallah’ dan ‘hablumminannas’. Karenanya kita tidak bisa menyebut diri kita telah berbakti kepada Allah tanpa kita berbuat suatu kebaikan untuk sesama manusia. Mari kita lihat gambar di bawah ini.

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”  (HR. Thabrani).

Apa yang hendak disampaikan melalui gambar itu adalah bahwa mengabdi kepada Tuhan meliputi pengabdian kita kepada keseluruhan kehidupan. Tentu memang kapasitas dan potensi yang dimiliki setiap orang berbeda-beda adanya. Dan yang paling minim sekali adalah mengbadi untuk diri sendiri. Inipun sebenarnya sudah merupakan bagian dari mengabdi kepada Tuhan jika memang sebatas itulah kesanggupan dan potensi kita. Jika kita tidak mampu untuk mengabdi untuk keluarga atau lingkup yang lebih besar lagi darinya, setidaknya kita menjadi pribadi yang tidak merusak, tidak merugikan orang lain, dan memelihara kebaikan diri kita sendiri. Tapi jika memang kita punya potensi dan kemampuan yang lebih besar dari itu, kita harus meluaskan kita punya pengabdian. Yang menjadi masalah sebenaranya adalah mereka yang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka yang hanya peduli dan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Tidaklah mereka akan disebut sebagai pengabdi. Tidaklah mereka dapat disebut berbakti kepada Allah SWT.

Maka janganlah ada orang-orang yang berkata bahwa tidak perlu kita mengabdi kepada negara. Janganlah ada orang-orang yang mengira bahwa mengabdi kepada negeri bukanlah sebuah pengabdian yang suci. Tidak! Mengabdi kepada negeri haruslah kita pandang sebagai bagian dan bentuk dari pengabdian kita kepada Ilahi Rabbi. Coba kita perhatikan bunyi Pasal 39 dari Piagam Madinah dibawah ini.

Sesungguhnya Yatsrib (Madinah) itu tanahnya haram (suci) bagi warga piagam ini. (Terjemahan Piagama Madinah)

Sesungguhnya kota Yatsrib (Madinah), Ibu Kota Negara, tidak boleh dilanggar kehormatannya oleh setiap peserta piagam ini. (Penafsiran Piagam Madinah menurut “Kitab pedoman Santri dan  Pondok Pesantren”)

Seluruh warga Madinah; setiap orang yang menjadi bagian dari Piagam Madinah, berkewajiban untuk menjaga kehormatan dan kesucian Madinah. Apakah dia Islam, Yahudi, Nasrani atau orang-orang Pagan sekalipun. Madinah harus dianggap tanah suci. Kenapa demikian, karena tatanan Madinah bagi seluruh warga Madinah merupakan sebuah sistem atau sebuah jalan bagi setiap orang yang ada di dalamnya untuk menghormati Allah. Untuk mengbadi kepada Allah. Jika tatanan Madinah kacau, tidak dihormati aturan dan hukum-hukumnya serta tidak berjalan menurut nilai-nilai yang telah ditetapkan, maka itu sama saja artinya tidak terjadinya pengabdian yang baik kepada Allah melalui tatanan Madinah tersebut. Karenanya itu setiap warga harus ikut serta dan bekerja demi keteraturan dan kemakmuran Madinah. Dan mengabdi untuk keteraturan dan kemakmuran Madinah adalah bagian dari keshalehan dan bagian dari pengabdian seseorang kepada Allah Tuhan semesta alam. Dan hanya dengan cara seperti itulah Allah akan menurunkan rahmat dan berkahnya dari langit dan bumi. Demikianlah memang semestinya kita memandang pengabdian kita peda negeri. Kepada Ibu pertiwi. Maka tak perlulah ada dari kita yang ragu untuk berkata: Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. Pandanglah itu sebagai sebuah jalan pengabdian kita kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 146 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar