Home » 2016 » August » 22 » Tahun Berdikari (Takari)
4:40 PM
Tahun Berdikari (Takari)

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1965 DI JAKARTA

Saudara-saudara !

Camkanlah! Hari ini genap 20 tahan Proklamasi Kemerdekaan! Hari ini tepat 20 tahun kita menjadi bangsa merdeka! Hari ini jangkap 20 tahun sejak saya – Sukarno dan Hatta – atas nama Bangsa Indonesia memaklumkan Proklamasi suci 17 Agustus dengan mengucapkan satu pidato singkat yang kuakhiri dengan kata-kata: “Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, – merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!”

Hari ini, detik ini, rasa hatiku luluh menjadi satu dengan hati Rakyatku, dengan hati Tanah-airku, dengan hati Revolusi. Fikiran dan perasaanku berpadu dengan fikiran dan perasaan semua saja yang mencintai dan membela Indonesia tanah tumpah darah kita, di kota-kota dan di desa-desa, di gunung-gunung dan di pantai-pantai, dari Sabang sampai Merauke, dari Banda Aceh sampai Sukarnapura, bahkan juga dengan Saudara-saudara kita sesama patriot yang kini menjalankan tugas di kelima-lima benua di bola-bumi ini! Hari ini, nama kita bukan Sukarno, bukan Subandrio, bukan Ali, bukan Idham, bukan Aidit, bukan Dadap, bukan Waru, bukan Suto, bukan Noyo, bukan Sarinah, bukan Fatimah, – hari ini nama kita Indonesia! Jabatan kita! Hari ini kita bukan Kepala Negara, bukan Menteri, bukan pegawai, bukan buruh, bukan petani, bukan nelayan, bukan mahasiswa, bukan seniman, bukan sarjana, bukan wartawan, – hari ini jabatan kita patriot! Gatutkaca Patriot! Urusan kita? Hari ini urusan kita – dan bukan hanya hari ini tetapi seterusnya … urusan kita bukan semata-mata politik, bukan melulu ekonomi, bukan hanya kebudayaan, bukan mligi ilmu, bukan militer thok, – urusan kita adalah kemerdekaan!

Sungguh kita diliputi rasa syukur ke hadirat Allah s.w.t., yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian dan hari inipun kita memuja kebesaran-Nya. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar !

Saudara-saudara senasib-sepenanggungan,

Kawan-kawanku seperjoangan,

Kalau hari ini mongkok kita punya dada, dan kalau hari ini menetes kita punya air-mata, – janganlah merasa malu. Aku tidak merasa malu, aku bangga bahwa dada kita kembang – mekar – karena rasa cinta tanah-air yang tidak berbatas. Aku bangga bahwa kita memiliki air-mata patriotisme.

Dan kalau di dunia ini ada yang mencerca kita, mengejek kita, mentertawakan kita, biarlah mereka tahu – memang beginilah pejoang-pejoang untuk kemerdekaan nasional, memang beginilah kaum yang tidak hanya berani hidup tetapi juga berani mati untuk cita-cita yang paling suci di dunia ini, yaitu kemerdekaan dan kebebasan umat manusia.

Resapkanlah, endapkanlah, renungkanlah bahwa kita ini sudah 20 tahun merdeka! Apa artinya 20 tahun dalam sejarah? Tergantung, Saudara-saudara, tergantung dari peranan dan iuran kita kepada sejarah itu! Manakala kita melempem, manakala jiwa kita lembek, manakala kita menyerah sebagai obyek-sejarah dan tidak berusaha menjadi subyek-sejarah, maka jangankan 20 tahun, bahkan 200 tahun sekalipun tetapi 200 tahun yang melempem, 200 tahun itu akan lenyap dalam debu sejarah sebagai bukan apa-apa, ya, sebagai bukan apa-apa. Tetapi manakala kita berlawan, berjoang, menjebol dan membangun, mendestruksi dan mengkonstruksi, berfantasi dan berkreasi, manakala kita berjiwa elang rajawali dan bersemangat banteng, manakala kita pantas disebut pejoang sebagaimana 20 tahun ini kita membuktikannya, maka jangankan 20 tahun, 2 tahun saja pun tetapi 2 tahun yang dahsyat demikian itu, 2 tahun itu akan tercatat abadi dalam sejarah dan akan berlaku sebagai teladan.

Apakah 20 tahun yang di belakang punggung kita itu benar-benar telah kita jalani dengan pantas, dengan memadai?

Dunia mengalami banyak revolusi. Di antaranya yang paling besar adalah revolusi Amerika, revolusi Perancis, revolusi Rusia. Revolusi-revolusi itu jauh lebih dahulu terjadi daripada revolusi kita, revolusi-revolusi itu mempunyai voorsprong daripada revolusi kita. Tetapi jikalau kita tengok hasil-hasil yang telah dibuahkan oleh revolusi Amerika, oleh revolusi Perancis, dan revolusi Rusia itu sampai dewasa ini, maka saya bukan hanya tidak malu dengan Revolusi Agustus 1945 kita, tetapi saya – dengan tidak ayal sedikitpun – berani mengatakan bahwa Revolusi kita memang hebat!

Kita yang bukan kapitalis tidak menganggap uang atau harta-kekayaan sebagai modal yang paling berharga. Bagi kita manusialah modal yang paling utama. Dan pada manusia, yang terpenting adalah kesedarannya. Kesedaran itupun bermacam-macam, dan di antara banyak kesedaran-kesedaran itu yang menentukan adalah kesedaran politik. Mengenai kesedaran politik ini, Rakyat Indonesia yang telah ditempa oleh palu-godam revolusi 20 tahun lamanya, sungguh patut dibanggakan. Rakyat Indonesia mujur tidak dididik dalam semangat borjuis “berusahalah menjadi milyuner, setiap orang bisa menjadi milyuner”. Rakyat Indonesia juga berbahagia tidak dididik dalam semangat oportunis “sayang Perang Dunia ke-2 dan perang melawan agresi kolonial 1947 dan 1948 memakan banyak korban, jangan peperangan datang kembali”.

Malahan kalau ditanyakan kepada Saudara-saudara bagaimana seandainya kita harus menjalani masa 20 tahun yang boleh kita pilih sendiri, maka saudara-saudara, jawab Saudara-saudara hendaknya: “Kalau kami boleh pilih jalan kami sendiri, kami akan jalani kembali 20 tahun seperti 20 tahun yang lewat ini”.

Demikianlah hendaknya semangat kita, ketetapan hati kita, tekad kita!

Adalah penyair yang masyhur, Alexander Blok, yang pernah menyanyikan:

Mereka yang dilahirkan di tahun-tahun kemacetan,

Tiada ingat akan jalannya sendiri.

Kita – putera-putera tahun keberanian …………

Tiada sesuatupun kita lupakan.

Ya, kita adalah putera-putera tahun-tahun keberanian. Kita malahan adalah putera-putera gelombang yang menderu-deru, kita adalah putera-putera prahara yang hebat-dahsyat! Kita bangsa gemblengan! Kita menggembleng diri kita sendiri, dan kita menggembleng zaman kita!

Dan bersama penyair lain yang tersohor, Wait Whitman, ingin saya memuja:

0, kehidupan … gairahmu, denyut-nadimu, kebisaanmu tak bisa ditundukkan.

Tiada manusia, tiada dewa, tiada setan, tiada iblis yang bisa menundukkan gairah kita, denyut-nadi kita, kebisaan kita, kemauan kita. Kita mau, maka itu kita bisa.

20 tahun yang lalu kita mau merdeka, maka itu kita bisa merdeka.

Sekarang kita mau mempertahankan kemerdekaan kita, maka itu kita bisa mempertahankan kemerdekaan kita!

Dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, kita telah jalani 20 tahun yang silam ini dengan pantas, dengan jitu. Apakah seterusnya kita akan hidup pantas dan jitu sebagai pejoang, inipun sepenuhnya tergantung dari kita sendiri. Perjoangan itu abadi. For a fighting nation there is no journey’s end.

Kita tidak akan berhenti di tengah jalan. Bukan saja karena sudah kepalang tanggung, tetapi karena tekad kita dan watak kita memang tidak kenal berhentinya perjoangan. Era jang, camah rek, kalau kita mandek! Mundur hancur, mandek amblek. Semboyan kita hanyalah satu: Maju terus, pantang mundur !

Hari ini saya ingin memberikan pertanggunganjawab kepada Rakyatku, kepada dunia, kepada Tuhan Seru sekalian alam, atas segala daya-upaya bangsa Indonesia dan aku sebagai salah seorang di antaranya, dalam masa sejarah 20 tabun ini. Karena aku sendiri tak pernah absen selama 20 tahun ini, karena aku adalah penyambung lidah Rakyat Indonesia yang pada tiap-tiap 17 Agustus menjurubicarai sikap dan pendirian Negara dan Rakyat Indonesia, maka biarlah aku cukup bagian-bagian dari pidato-pidato 17 Agustus-ku – 20 banyaknya, dari 1945 sampai 1964 – yang merupakan benang-merah yang menjelujur secara konsekwen.

1945 Dalam pidatoku 17 Agustus 1945 kukatakan:

”Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib-bangsa dan nasib-tanah-air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya”.

1946 Dalam pidatoku Sekali merdeka, tetap merdeka! kucetuskan semboyan :

“Kita cinta damai, tetapi kita lebih lagi cinta kemerdekaan”.

1947 Dalam pidatoku Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! kutegaskan :

“Kita tidak mau dimakan. Dus kita melawan! … Sesudah Belanda menggempur … mulailah ia dengan politiknya divide et impera, politiknya memecah-belah … maka kita bangsa Indonesia harus bersemboyan ‘bersatu dan berkuasa’.”

1948 Dalam pidatoku Seluruh Nusantara berjiwa Republik kunyatakan,

“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangunkan soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidakmerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal … Rumah kita dikepung, rumah kita hendak dihancurkan … Bersatulah!

Bhinneka Tunggal Ika. Kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula !”

1949 Dalam pidatoku Tetaplah bersemangat elang-rajawali! kubilang :

“Kita belum hidup di dalam sinar bulan yang purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang-rajawali !”

1950 Dalam pidatoku Dari Sabang sampai Merauke! kugariskan :

”Janganlah mengira kita semua sudahlah cukup berjasa dengan turunnya si tiga-warna. Selama masih ada ratap-tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai! … Berjoanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”.

1951 Dalam pidatoku Capailah tata-tenteram, kertaraharja! Kumaklumkan :

”Adakanlah koordinasi, adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepertingan-sendiri dan kepentingan-umum, dan janganlah kepentingan-sendiri itu dimenangkan di atas kepentingan-umum!”

1952 Dalam pidatoku Harapan dan Kenyataan! kuserukan :

“Kembali kepada jiwa proklamasi … kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa merdeka – nasional … kedua jiwa ikhlas … ketiga jiwa persatuan … keempat jiwa pembangun”.

1953 Dalam pidatoku Jadilah alat Sejarah! kutekankan pentingnya

”Bakat persatuan, bakat ’gotong-royong’ yang memang telah bersulur-berakar dalam jiwa Indonesia, ketambahan lagi daya-penyatu yang datang dari azas Pancasila”.

1954 Dalam pidatoku Berirama dengan kodrat! aku stress :

”Dengan ’Bhinneka Tunggal Ika’ dan Pancasila, kita, prinsipiil dan dengan perbuatan, berjoang terus melawan kolonialisme dan imperialisme di mana saja”.

1955 Dalam pidatoku Tetap terbanglah rajawali! kukemukakan

”Panca Dharma”: ”persatuan bangsa harus kita gembleng … tiap-tiap tenaga pemecah persatuan harus kita berantas … pembangunan di segala lapangan harus kita teruskan … perjoangan mengembalikan Irian Barat pada khususnya, perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonilalisme pada umumnya, harus kita lanjutkan … pemilihan umum harus kita selenggarakan” .

1956 Dalam pidatoku Berilah isi kepada hidupmu! kutegaskan :

”Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner. Jangan setengah-setengah, jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan … kita adalah satu ’fighting nation’ yang tidak mengenal ’journey’s end’.”

1957 Dalam pidatoku Satu tahun ketentuan! kukobar-kobarkan :

”Revolusi Indonesia benar-benar Revolusi Rakyat … Tujuan kita masyarakat adil dan makmur, masyarakat ’Rakyat untuk Rakyat’. Karakteristik segenap tindak-tanduk perjoangan kita harus tetap karakteristik Rakyat … demokrasi met leiderschap’, demokrasi terpimpin’ ”

1958 Dalam pidatoku Tahun tantangan! kusampaikan :

”Rakyat 1958 sekarang sudah lebih sedar … tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat … siapa pemimpin sejati, dan siapa pemimpin anteknya asing … siapa pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan … Dalam masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih daripada di masa-masa yang lampau, kita harus menggembleng-kembali Persatuan … Persatuan adalah tuntutan sejarah”.

1959 Dalam pidatoku Penemuan kembali Revolusi kita! yang kemudian diperkuat oleh seluruh nasion dan disyahkan sebagai Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) kurumuskanlah: ”tiga segi kerangka” Revolusi kita dan 5 ”persoalan-persoalan pokok Revolusi Indonesia” yaitu dasar/tujuan dan kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia; kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia, sifat Revolusi Indonesia, hari-depan Revolusi Indonesia, dan musuh-musuh Revolusi Indonesia.

1960 Dalam pidatoku Laksana malaekat yang menyerbu dari langit!, Jalannya revolusi kita (Jarek) kutandaskan: perlunya, mungkinnya dan dapatnya bersatu Nasionalisme, Agama dan Komunisme; harus satunya kata dan perbuatan bagi kaum yang betul-betul revolusioner; mutlak perlunya dilaksanakan landreform sebagai bagian mutlak Revolusi Indonesia; mutlak perlunya dibasmi segala phobi-phobian terutama Komunisto-phobi; perlunya dikonfrontasikan segenap kekuatan nasional terhadap kekuatan-kekuatan imperialis-kolonialis; dan keharusannya dijalankan revolusi dari atas dan dari bawah.

1961 Dalam pidatoku Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional! (Resopim) kuketengahkan: perlunya meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat agar meresap pula tanggungjawab terhadapnya serta mustahilnya perjoangan besar kita berhasil tanpa Tritunggal: Revolusi, Ideologi nasional progresif, dan Pimpinan nasional.

1962 Dalam pidatoku Tahun Kemenangan! (Takem) kulancarkan: gagasan untuk memperhebat pekerjaan Front Nasional, untuk menumpas perongrongan revolusi dari dalam, dan bahwa revolusi kita itu mengalami satu “selfpropelling growth” – “maju atas dasar kemajuan dan mekar atas dasar kemekaran”.

1963 Dalam pidatoku Genta Suara Revolusi Indonesia! (Gesuri) kulantunkan peringatan bahwa “tiada Revolusi kalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus” dan “kalau ia tidak merupakan satu disiplin yang hidup”, bahwa diperlukan “puluhan ribu kader di segala lapangan”, bahwa Dekon harus dilaksanakan dan tidak boleh diselewengkan karena “Dekon adalah Manipol-nya ekonomi”, bahwa abad kita ini “abad nefo” dan saya mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan Conefo; dan akhirnya:

1964 Dalam pidatoku yang terkenal, Tahun Vivere Pericoloso! (Tavip), kuformulasikan: ” 6 hukum Revolusi ”, yaitu bahwa Revolusi harus mengambil sikap tepat terhadap kawan dan lawan, harus dijalankan dari atas dan dari bawah, bahwa destruksi dan konstruksi harus dijalankan sekaligus, bahwa tahap pertama harus dirampungkan dulu kemudian tahap kedua, babwa harus setia kepada Program Revolusi sendiri yaitu Manipol, dan bahwa harus punya sokoguru, punya pimpinan yang tepat dan kader-kader yang tepat; juga kuformulasikan Trisakti :

berdaulat dalam politik,

berdikari dalam ekonomi dan

berkepribadian dalam kebudayaan.

Saudara-saudara setanah-air dan sebangsa.

Kawan-kawanku secita-cita,

Dari semuanya ini jelas, ya, dari pengalaman langsung kita selama 20 tahun ini jelas, bahwa Revolusi kita terus-menerus maju, terus-menerus meningkat. Majunya sudah barang tentu bukan maju dengan gampang, meningkatnya sudah barang tentu bukan meningkat tanpa korbanan. Scgala kepahitan dan kesakitan yang ada di dunia ini sudah kita alami. Pukulan-pukulan, gempuran-gempuran, kesalahan-kesalahan, kekalahan-kekalahan, korbanan nyawa – semua sudah kita alami. Kita malahan mengucapkan syukur Alhamdulillah bahwa kita telah mengalami segalanya itu. Sebab jika tidak, sudah pasti kita ini akan menjadi bangsa yang biasa kusebut bangsa … kintel atau bangsa-tuyul, bangsa yang barangkali suka hidup tetapi takut kepada kesukaran hidup, bangsa yang cuma mau enak saja, yang nerimo makan enak, sekalipun makanannya itu dicekoki oleh orang lain. Tidak! Syukur Alhamdulillah, kita ini bukan bangsa yang demikian itu! Kita bukan semacam rumput, – kita beringin! Kita bukan kambing – kita garuda, kita banteng! Berkat jerih-payah kita selama 20 tahun ini, berkat penderitaan yang saudara-saudara semua alami selama 20 tahun ini, maka kita sekarang bukan bangsa yang dalam tata-hidup internasional tidak-masuk-buku. Kita sekarang bangsa yang dihormati oleh kawan-kawan kita dan disegani oleh lawan-lawan kita. Kita sekarang bukan hanya bangsa yang diperhitungkan, tetapi sangat diperhitungkan. Lihatlah betapa pers imperialis kehilangan-kepala menghadapi kita dan betapa segala kata-kata kotor masuk ke halaman-halaman suratkabar-suratkabar itu jika membicarakan kita. Tetapi lihatlah pula betapa pers sahabat-sahabat kita meng-apresiasi perjoangan kita dan hasil-hasil kita. Ini bukti, bahwa kita berada di jalan yang benar!

Dari mimbar ini biarlah saya berseru kepada pers imperialis supaya kampanyenya yang anti-Indonesia itu jangan dihentikan, sebab kampanye itu menguntungkan kita dan membantu kita! Kepada pers negara-negara sahabat yang benar-benar bersahabat dengan kita, saya mengucapkan terimakasih atas segala kata-kata baik mereka, yang mendorong kita dan memberi inspirasi kepada kita. Saya harap, sahabat-sahabat itu tidak segan-segan mengkritik Republik Indonesia jika mereka melihat kekurangan-kekurangan Indonesia.

Pada hari raya dwi-dasawarsa Proklamasi Kemerdekaan ini, Republik kita menerima ribuan kawat dan surat dari luar negeri maupun dalam negeri.

Yang dari luar negeri itu datang praktis dari seluruh peloksok dunia. Dari mimbar ini sayapun ingin menyampaikan terimakasih Republik dan Rakyat Indonesia, terimakasih Pemerintah Republik Indonesia dan saya pribadi atas segala pernyataan simpati yang benar-benar mengilhami kita ini. Seperti halnya 20 tahun yang silam ini, juga di waktu-waktu yang akan datang Republik Indonesia tidak akan gagal memenuhi tugas-tugas internasionalnya – menyokong secara prinsipiil dan dengan segala-sesuatu yang mungkin kami berikan tepada setiap perjoangan kemerdekaan, di manapun dan oleh siapapun perjoangan ini dilakukan. Sebab, dengan menyokong perjoangan-perjoangan itu sesungguhnya Republik Indonesia menyokong dirinya sendiri, urusannya sendiri, cita-cita kemerdekaannya sendiri.

Hari ini hadir di tengah-tengah kita, kawan-kawan seperjoangan kita dari berbagai negeri. Mereka duduk di kanan-kiri saya. Hadir di sini exponen-exponen dari Afrika revolusioner; dari Amerika Latin revolusioner; dari Asia revolusioner; hadir pula di sini wakil-wakil dari Eropa. Mari kita ucapkan terimakasih dan salut kita kepada mereka!

Saudara-saudara sekalian,

Saya mau mengajak saudara-saudara hari ini untuk berfikir dalam ukuran yang lebih luas, berfikir dengan sayap-sayap-fikiran yang lebih lebar.

Ketika dasawarsa pertama Republik kita, saya mengundang Saudara-saudara untuk memikirkan apa-apa yang akan kita hadapi dalam dasawarsa yang mendatang. Kali ini saya mau mengajak saudara-saudara untuk memikirkan – sekurang-kurangnya soal-soal yang kita hadapi dalam 20 tahun yang akan datang.

Ulang-tahun ke-20 Hari Kemerdekaan ini benar-benar satu mylpaal, satu tonggak historis dalam perjalanan kita sebagai bangsa-negara.

Bagaimana hal ini mungkin? Sebabnya, Saudara-saudara, karena pada hari-hari Agustus 1945 kita bangsa Indonesia tahu menangkap kans, berani menangkap kans, dan pandai menggunakan momentum itu. Seandainya pada waktu itu kita percaya kepada Sekutu atau kepada janji-janji Jepang, maka rasanya kita tidak akan pernah merdeka! Bukankah aku di dalam Lahirnya Pancasila sudah mengatakan jangan kita njelimet, karena kalau kita njelimet kita tidak akan pernah merdeka? Bukankah di dalam pidatoku itu aku mengibaratkan penentuan kemerdekaan itu layaknya seperti mengambil keputusan perkawinan bahwa jangan menunggu gedung, menunggu permadani, menunggu tempat tidur yang mentul-mentul, menunggu meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, menunggu sendok-garpu perak satu kaset, dan menunggu punya kinder-uitzet dulu baru mau kawin, melainkan aku katakan ketika itu, orang sudah bisa kawin dengan satu gubuk, satu tikar dan satu periuk? Bukankah aku juga katakan ketika itu bahwa ketika memutuskan Revolusi Oktober Lenin boleh dibilang tidak punya apa-apa, tidak punya Jnepprprostoff, tidak punya station radio, tidak punya kereta-api, tidak punya creches?

Ya, Saudara-saudara, ketika itu bukan saja ramalanku tentang Perang Pasifik sudah menjadi kenyataan, tetapi malahan ramalanku tentang anaknya Perang Pasifik itu, jaitu Indonesia Merdeka sudah mendapatkan syarat-syarat dan kondisi-kondisi. Kita bukan bangsa yang cuma berani berjoang tetapi takut menang, tidak! Kita berani berjoang dan kita juga berani menang! Maka dari itu setelah mengadakan persiapan-persiapan seperlunya dengan mendapatkan bantuan yang sangat berharga dari gerakan-gerakan massa, terutama gerakan-gerakan pemuda revolusioner ketika itu, sayapun pada pertengahan bulan Agustus 1945 itu dengan tidak ragu-ragu memutuskan untuk menyatakan atas-nama bangsa Indonesia – kemerdekaan Indonesia.

Di Eropa Timur pada waktu itu, berkat perjoangan kaum partisan negeri-negeri Eropa Timur dan berkat bantuan aktif Tentara Merah Uni Sovyet sejumlah negeri melepaskan diri dari ikatan imperialisme dan mendirikan negara-negara merdeka yang mereka namakan Demokrasi Rakjat. Tetapi di Asia, Indonesia, termasuk negeri yang paling pertama melemparkan belenggu imperialisme ke dalam lautannya sejarah dan yang menegakkan satu Republik yang – seperti tercantum di dalam Mukadimah Undang-undang Dasar 1945 kita – azasnya “merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” dan yang berdasar kepada Pancasila. Sekitar waktu itu beraksi pula kawan-kawan kita dari Vietnam dan Korea – Vietnamnya Ho Chi Minh dan Koreanya Kim Il Sung. Ke mana saja rentetan revolusi-revolusi di Asia itu menggoncangkan bukan saja Pasifik dan Asia, tetapi bahkan menggoncangkan seluruh dunia. Oleh sebab itu, Saudara-saudara, kalau sekarang kita membina satu poros anti-imperialis yaitu poros Jakarta – Pnompenh – Hanoi – Peking – Pyongyang, janganlah dikira bahwa poros ini poros bikin-bikinan, tidak! – poros ini poros yang paling wajar, yang dibentuk oleh jalannya sejarah itu sendiri!

Republik Indonesia sendiri mengalami gelombang-pasang – gelombang surut, gelombang-naik – gelombang turun. Tetapi arus-pokok daripada Republik Indonesia itu adalah arus pasang, arus naik, arus maju, arus ofensif, arus kemenangan!

Ada saat-saat, yang karena kita kurang waspada terhadap jarum-perpecahan yang ditusukkan oleh kaum imperialis dan kaum reaksioner di dalam negeri, hampir-hampir saja Republik kita tertimpa bencana kehancuran.

Pedih hatiku pada saat-saat yang begitu itu, karena jika Republik dirobek-robek, hatikupun rasanya dirobek-robek! Tetapi dengan pedih-hati atau pilu-hati saja orang tidak mungkin memecahkan soal-soal. Maka dari itu, pada saat-saat yang demikian itu selalu aku prihatin, selalu kupelajari sebab-sebab dan masalah-masalahnya dengan teliti dengan bimbingan arah-orientasi yang tepat, dan manakala syarat-syaratnya sudah tersedia, selalu aku mengambil keputusan, ya, selalu aku bertindak, bertindak, sekali lagi bertindak. Sebab, pada instansi yang terakhir, nasib-sejarah sesuatu bangsa itu ditentukan oleh tindakan-tindakan yang tepat yang diambil pada saat-saat yang tepat. Di sinilah dituntut kepemimpinan kita, kenegarawanan kita! Yang sudah jelas, Saudara-saudara, segala keputusan dan tindakan itu harus selalu kita ambil dengan hati yang teguh laksana gunung karang!

Di waktu kita mengagungkan Revolusi Agustus sekarang ini, yang paling penting adalah untuk menarik pelajaran yang perlu-perlu dari segala pengalaman kita 20 tahun yang manis maupun yang pahit. Benar sekali pemimpin-pemimpin yang mengatakan bahwa praktek adalah ibu segala teori, bahwa pengalaman itu guru yang paling bijaksana. Bahkan, aku sendiri selalu mengatakan bahwa kegagalan itu ibunya sukses, dan kekalahan itu ibunya kemenangan. Ambillah misalnya pengalaman berunding dengan kaum penjajah.

Kita tahu dari sejarah, bahwa Diponegoro yang tidak bisa ditundukkan di medan pertempuran, akhirnya dijebak ke ruang perundingan. Tetapi pengalaman Diponegoro itu buat kita merupakan pengalaman tidak-langsung, sedang selamanya pengalaman tidak-langsung itu tidak mungkin meresap seperti halnya pengalaman yang langsung. Seandainya kita tidak pernah membikin kesalahan di atas bukit Linggarjati dan di atas kapal Renville, barangkali kita juga masih naif dalam berunding dengan kaum imperialis. Karena kita belajar dari pengalaman itulah maka kita sekarang tidak naif. Sehingga, di waktu utusan Pemerintah Amerika Serikat, tuan Ellsworth Bunker datang kemari, maka dalam persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat, maka “Peace Corps” Amerika diputuskan mundur! Ini merupakan peningkatan kedewasaan kita dalam menghadapi imperialisme!

Semuanya ini membuat kita juga mengerti, saudara-saudara, mengapa Republik Demokrasi Vietnam tidak sudi berunding dengan Amerika Serikat yang terus saja main bom dan main roket, pendeknya, terus saja main agresi. Perginya Perancis dari Indocina bukannya ditentukan di Fauntainebleau, tetapi di Dien Bien Phu!

Seperti bebasnya Irian Barat tempo hari – selalu ini aku katakan – tidak ditentukan di London atau di Moskow, di Washington atau di P.B.B., tetapi di rimba-rimba di Irian Barat sendiri!

Begitulah, setiap pengalaman itu berguna dan berharga, asal dia dipelajari dan disimpulkan!

Marilah pada saat-saat yang hahagia ini kita belajar sebanyak-banyaknya dari Agustus yang agung, belajar sendiri-sendiri maupun belajar bersama-sama. Sekarangpun pelajaran yang bisa kita timba dari pengalaman 20 tahun ini luar biasa banyaknya, luar biasa! Dan dengan pasti aku bisa mengatakan bahwa pelajaran itu tidak akan kunjung habis! Kelak, Saudara-saudara, manakala kita sudah lebih jauh terjarak dari masa-sejarah sekarang ini, pelajaran yang bisa dan yang akan ditimba orang akan lebih banyak lagi. Ahli-ahli sejarah, sarjana-sarjana lain, politikus-politikus, sastrawan-sastrawan, seniman-seniman, jurnalis-jumalis, semuanya kelak akan mempelajari sejarah kita, zaman kita, revolusi kita. Dan dengan menggeleng-gelengkan kepala mungkin mereka akan berkata dengan takjub:

“Hebat! Hebat! Bagaimana mungkin, dalam masa sependek itu bisa ditunaikan hal-hal sebesar itu!”

Sedarilah, insyafilah wahai Saudara-saudara sekalian, bahwa engkau, dan engkau, dan engkau, dan engkau – semuanya dan masing-masing, ambil bagian dalam proses sejarah yang besar ini. Seperti berkali-kali aku peringatkan, janganlah ada di antara kalian yang berfikiran “Ah, aku toh cuma satu orang; tanpa aku perjoangan juga berjalan”, lalu orang itu lebih suka thenguk-thenguk dan ongkang-ongkang. Revolusi kita ini begitu maha-dahsyatnya, sehingga tidak ada satu keluarga pun, tidak ada satu makhluk pun yang tidak tersangkut di dalamnya. Atau orang memihak revolusi dan ikut ber-revolusi, atau orang menolak revolusi dan ikut menentang revolusi! Yang netral tidak ada, dan tidak mungkin ada!

Duapuluh tahun, duapuluh tahun merdeka! Duapuluh tahun itu bukan masa sembarangan, Saudara-saudara! Duapuluh tahun yang bagaimana! Kalau direnung-renungkan, bahwa dalam periode 20 tahun itu kita berhasil menegakkan satu Republik kesatuan yang sentausa dengan sarana-sarananya – termasuk Angkatan Bersenjata – yang kuat, kita berhasil mengalahkan agresi-agresi imperialis dan berbagai-bagai kontra-revolusi, memulihkan keutuhan wilayah, dan yang amat-sangat pentingnya menggugah kesedaran Rakyat sehingga Rakyat kita menjadi Rakyat gemblengan seperti sekarang ini, yaitu : Rakyat yang bersatu dan mengembangkan persatuan, Rakyat yang berjoang dan mengembangkan perjoangan – maka kadang-kadang aku sendiripun keheran-heranan bagaimana segalanya ini menjadi mungkin dan bagaimana aku sendiri bisa memberikan pimpinan yang dikehendaki! Tetapi, Saudara-saudara: seperti berulang-kali kutunjukkan, sejarah itu mempunyai hukum-hukumnya yang obyektif. Seandainya kita pemimpin-pemimpin Republik Indonesia yang sekarang ini gagal, karena kita buta akan hukum-hukum obyektif sejarah itu, belum tentu sejarah akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang lain bagi bangsa Indonesia. Tetapi karena kita memahami hukum-hukum obyektif sejarah itu, dan karena kita setia berjalan di atasnya hukum-hukum obyektif itu, maka kita bisa menjalankan tugas-tugas raksasa yang dipikulkan oleh sejarah ke atas pundak kita. Kita, malahan asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersama dan memiliki tekad baja, kita bisa memindahkan gunung Semeru atau gunung Kinibalu sekalipun!

Hari ini kita berhimpun di depan Istana Merdeka di bawah Tugu Nasional yang megah dan di hadapan Patung Pahlawan Diponegoro yang gagah, disaksikan oleh matahari yang riang-gembira dan bermilyar-milyar mata sahabat-sahabat yang penuh simpati dari segala penjuru angin. Untuk apa?

Untuk mengadakan perhitungan, afrekening dengan masa-silam kita. Sebab, selalu satu bangsa itu berdiri di tengah-tengahnya masa-silam dan masa depan. Bilamana bangsa itu tidak tiap-tiap kali mengadakan perhitungan dengan masa-silamnya, bilamana bangsa itu tidak bertekad menumpas segala yang negatif dan mengembangkan segala yang positif dari masa-silamnya, maka bangsa itu tidak akan mungkin membina, membimbing, membangun masa depannya.

Kita mengadakan pertanggunganjawab, kita mengadakan perhitungan, kataku, karena sesungguhnya sebagai satu nasion yang berjoang kita ini sudah mengalami kristalisasi. Seperti gadis penampi, sejarah telah memisah-misahkan, telah memilah-milahkan emas dari loyang, sari dari ampas.

......selanjutnya>>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 145 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar