F. R. nomor yang sekarang ini adalah mendekati 14 Maret 1933. Pada hari itu, maka genap 50 tahun telah lalu, yang Karl Marx menutup matanya buat selama-lamanya.

Marx dan Marxisme!

Mendengar perkataan ini, begitulah dulu pernah saya menulis mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayangan di penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat-muka dan kurus badan, pakaian berkoyak-koyak; tampak pada angan-angan kita dirinya pembela dan kampiun si mudlarat tahadi, seorang ahli-fikir yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan kebiasaannya mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng ­kuno Germania yang sakti dan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang “geweldig”, yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama “datuk” pergerakan kaum buruh, yakni Heinrich Karl Marx.

Dari muda sampai wafatnjya, manusia yang haibat ini tiada berhenti­-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miski ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 151 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-07 | Comments (0)

Di dalam F.R. nomor Lebaran, saudara Manadi telah menulis suatu artikel yang berkepala sebagai di atas. Artikel tahadi adalah membicarakan soal yang penting, yaitu menyelidiki, apakah benar semboyan-semboyan yang sering-sering kita dengar: “Jangan banyak bicara, bekerjalah!” Dan konklusi saudara Manadi adalah tajam sekali: semboyan tahadi tidak benar, bahkan semboyan kita harus: “Banyak bicara, banyak bekerja!” Di sini saya mau menguatkan sedikit kebenarannya “sembojan baru” yang dianjurkan oleh saudara Manadi itu. Memang di dalam “Suluh IndonesiaMuda” tempo hari saya sudah “menjawil” perkara ini, dan sayapun menjatuhkan “vonnis” atas sikapnya kaum yang menyebutkan dirinya kaum “nasionalis konstruktif”, yang mencela k ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 119 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-06 | Comments (0)

Hari Lebaran adalah hari perdamaian. Memang jikalau saya di sini memberi jawab atas kritiknya saudara Hatta yang tempohari disiarkannya di dalam pers tentang soal non-koperasi, maka itu bukanlah sekali-kali karena saya mau “berdebat-debatan”, bukanlah buat “bertengkaran”, bukanpun karena saya gemar akan “pertengkaran” itu. Saya adalah orang yang terkenal senang akan perdamaian dengan sesama bangsa. Saya ada­lah malahan sering-sering mendapat praedicaat “mabok akan persatuan”, “mabok akan perdamaian”.

Saya cinta sekali akan perdamaian nasional, dan selamanya akan membela pada perdamaian nasional itu. Tetapi saya pandang soal non-cooperation itu kini belum selesai difikirkan dan diper­timbangkan, belum selesai dianalisir dan dibestudir, belum selesai dibicarakan secara onpersoonlijk dan zakelijk. Saya minta publik me­mandang tulisan saya ini sebagai pembicaraan sesuatu soal yang maha penting secara onpersoonlijk dan zakelijk, dan tidak sebagai “serangan” atau “pertengkaran”, – walaupun orang lain tak bisa membicarakan se­suatu hal zonder menyerang dan bertengkar.

Saya memandang perlu sekali pembicaraan soal non-koopera ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 154 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-05 | Comments (0)

SEKALI LAGI : BUKAN “JANGAN BANYAK BICARA, BEKERJALAH!”, TETAPI “BANYAK BICARA, BANYAK BEKERJA!”

Di dalam F.R. nomor Lebaran, saudara Manadi telah menulis suatu artikel yang berkepala sebagai di atas. Artikel tahadi adalah membicarakan soal yang penting, yaitu menyelidiki, apakah benar semboyan-semboyan yang sering-sering kita dengar: “Jangan banyak bicara, bekerjalah!” Dan konklusi saudara Manadi adalah tajam sekali: semboyan tahadi tidak benar, bahkan semboyan kita harus: “Banyak bicara, banyak bekerja!” Di sini saya mau menguatkan sedikit kebenarannya “sembojan baru” yang dianjurkan oleh saudara Manadi itu. Memang di dalam “Suluh IndonesiaMuda”  tempo hari saya sudah “menjawil” perkara ini, dan sayapun menjatuhkan “vonnis” atas sikapnya kaum yang menyebutkan dirinya kaum “nasionalis konstruktif”, yang mencela kita, katanya kita “terlalu banyak bicara”, “terlalu banyak gembar-gembor di atas podium”, “terlalu banyak berteriak di dalam surat- ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 169 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-04 | Comments (0)

F. R. nomor yang sekarang ini adalah mendekati 14 Maret 1933. Pada hari itu, maka genap 50 tahun telah lalu, yang Karl Marx menutup matanya buat selama-lamanya.
Marx dan Marxisme!
Mendengar perkataan ini, begitulah dulu pernah saya menulis mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayangan di penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat-muka dan kurus badan, pakaian berkoyak-koyak; tampak pada angan-angan kita dirinya pembela dan kampiun si mudlarat tahadi, seorang ahli-fikir yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan kebiasaannya mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng ­kuno Germania yang sakti dan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang “geweldig”, yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama “datuk” pergerakan kaum buruh, yakni Heinrich Karl Marx.

Dari muda sampai wafatnjya, manusia yang ha ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 113 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2016-07-03 | Comments (0)

« 1 2 ... 30 31 32 33 »