AMANAT PRESIDEN SOEKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1956 DI JAKARTA

Saudara-saudara!
Di bawah kepulan hitam api-peperangan yang masih kemelun di udara Indonesia sebelas tahun yang lalu menyatakan kemerdekaannya. Bukan sinarnya Purnama-Sasi yang mengiringi Proklamasi itu, bukan nyanyian-nyanyian yang merdu-merayu. Sebaliknya, gempa peperangan masih terasa; api-revolusi-rakyat meledak sekaligus oleh karenanya; gemerincingnya pedang dan pekiknya barisan-barisan bambu-runcing memenuhi angkasa; ledakan bom dan granat menjadi pengalaman sehari-hari.

Tidak ada seorangpun di waktu itu yang menghitung-hitung atau menimbang-nimbang: “bagaimana dunia nanti akan menerima Proklamasi ini?” Tidak ada seorangpun yang menghitung-hitung: “berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjoang dan berkorba ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 94 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

<<<sebelumnya.....   Saudara-saudara! Kita berjalan terus. Siapa mandek akan mati! Roda sejarah berputar dengan tak mengenal berhenti. Kita bangsa Indonesia bersama-sama dengan bangsa-bangsa Asia-Afrika lainnya masih di dalam kancahnya perjoangan-umum untuk membersihkan dunia ini dari kutu-kutunya kolonialisme. Kita bersama-sama dengan mereka harus mengerahkan seluruh tenaga kita untuk mcnggugur-kan singgasana penjajahan. Oleh karena itu, dari tempat ini dan pada hari yang keramat bagi kita ini, saya menyatakan salut-kehormatan kepada semua pahlawan-pahlawan penggempur kolonialisme, semua pahlawan-pahlawan dari segala bangsa, yang telah gugur atau sedang menderita karena perjoangan kemerdekaan. Saya serukan kepada mereka, bahwa segenap rakyat Indonesia berdiri di belakangnya, sebab rakyat Indonesia tidak dapat netral, sekali lagi tidak dapat netral, dalam menghadapi pertarungan antara penjajahan dan kemerdekaan. Saya ulangi sekarang juga ucapan saya di Cairo tahun yang lalu, bahwa kita sahabat Mesir dan tak kenal kompromi dalam perjoangan melawan kolonialisme. Kita cinta damai, sungguh kita cinta damai, tetapi hanya damai tanpa kolonialisme. U ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 69 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1957 DI JAKARTA

Saudara-saudara!

Hari ini kita merayakan Ulang Tahun Proklamasi. Ulang tahun yang kedua-belas. Dan tiap-tiap kali mengadakan perayaan semacam ini, hati kita mengucapkan syukur kepada Tuhan. Dan hati kita amat terharu.

Terharu, bahwa Republik kita tetap berdiri. Terharu, – karena mengingat penderitaan-penderitaan dan korbanan-korbanan kita untuk mendirikan dan mempertahankan Republik ini. Terharu, bahwa kita dalam dua-belas tahun itu toh mencapai beberapa kemajuan juga, yang hanya orang-orang yang menderita penyakit sinisme saja akan memungkirinya. Terharu pula, bahwa k ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 61 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

<<<sebelumnya.....   Ada hal-hal yang menggembirakan dalam segala kerèwèlan-kerèwèlan belakangan ini! Apakah itu? Yang menggembirakan ialah cepatnya rakyat kita mereaksi kepada hal-hal yang tidak baik. Cepatnya rakyat kita mereaksi kepada penyelèwèngan-penyelèwèngan dalam pelaksanaan Revolusi, misalnya: birokrasi di pusat adalah satu hal yang memang tidak baik. Cepat rakyat mereaksi kepada birokrasi itu. Partai-sentrisme adalah satu penyelèwèngan. Cepat rakyat mereaksi kepada hal itu. Sejarah dari lain-lain bangsa atau lain-lain negara menunjukkan, bahwa sesuatu keburukan atau penyelèwèngan dapat berjalan berpuluh-puluh tahun tanpa reaksi apa-apa, sehingga menjadilah keburukan atau penyelèwèngan itu bersulur dan berakar, dan akhirnya merupakan satu dekadensi permanen, atau satu keruntuhan.

Reaksi rakyat Indonesia adalah cepat, dan itulah menggembirakan. Hanya caranya mereaksi itu di sana-sini kurang tepat, bahkan membahayakan. Membahayakan keutuhan Negara, membahayakan keutuhan Bangsa. Mengenai cara ini, saya di Dewan Nasional pernah memekikkan pekik Latin “non  tali auxilio!”, &ldq ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 30 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

11. Cultivate the virtues such as shaanti, etc.
Kembangkan nilai-nilai luhur seperti kedamaian dan lain-lain

Shankara memberikan ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat berkarya dengan tenang. Ia dapat bekerja dengan damai dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya.

Banyak hal yang amat bernilai seperti kebenaran, kebajikan, kasih, dan lain-lain, namun Shankara hanya menyebut salah satu di antaranya secara spesifik. Kenapa? Karena, ia adalah ahli ilmu jiwa. Ia yakin bahwa jiwa yang damai akan menemukan sendiri nilai-nilai luhur lainnya.

Jiwa yang damai tidak terbujuk oleh kepalsuan, karena kepalsuan tidak pernah mendamaikan. Jiwa yang damai tidak mengenal kejahatan, karena kejahatan merusak kedamaian. Jiwa yang damai tidak bisa membenci, karena kebencian menyisihkan kasih dari hati.

... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 107 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-04-12 | Comments (0)

12. ESCHEW ALL DESIRE-RIDDEN ACTIONS
Hindari segala kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh sesuatu

Berkaryalah tanpa pamrih, tanpa memikirkan hasil akhir. Saat berkarya, bila kita memikirkan hasil akhir melulu, kesadaran kita sudah pasti terbelah. Banyak energi yang terboroskan, sehingga kebutuhan energi untuk menyelsaikan pekerjaan dengan baik tidak terpenuhi. Hasilnya pun kurang baik. Karena itu janganlah memboroskan energi dengan memikirkan hasil akhir. Pusatkan seluruh kesadaran pada apa yang sedang kita lakukan, pada karya itu sendiri, maka hasilnya sudah pasti baik.

Seorang pengabdi tidak pernah memikirkan hasil akhir. Ia sudah puas dengan kesempatan untuk mengabdi yang diperolehnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal; reaksi dengan proporsi dan kekuatan yang sama seperti aksi yang menyebabkannya. Karena itu untuk apa memikirkan hasil akhir ?

Seorang anak kecil perlu diiming-imingi dengan hadiah dan gula-gula supaya ia menyelesaikan pekerjaan rumah. Seorang dewasa tidak membutuhkan iming-iming seperti itu. Ia melaksanakan tugasnya; Ia menunaikan kewajibannya atas kesadaran sendiri.

Seorang saadhaka, seorang true seeker, pencari sejati tidak membutuhkan iming ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 107 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-04-12 | Comments (0)

13. TAKE SHELTER AT A PERFECT MASTER (SAT-GURU)
Berlindunglah pada seorang Guru Sejati

 

"Berlindunglah pada seorang guru sejati.”

Ya, berlindunglah, sebagaimana anda berlindung di bawah pohon yang lebat dari air hujan dan terik matahari. Berlindunglah, sebagaimana anda berlindung di dalam rumah dan badai di luar.

Kita semua mencari perlindungan jika keamanan dan kenyamanan tubuh terancam. Kita mencari perlindungan dari seorang guru bila evolusi bathin kita terancam berhenti.

Ini bukan pengkultusan, melainkan "pembudidayaan”, yaitu membudidayakan sifat-sifatnya di dalam diri kita. Dengan berlindung pada seorang rasul, misalnya, menurut Imam Besar Al-Ghazali, kita sedang membudidayakan "kelahiran Rasul di dalam diri manusia”.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 93 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-03-30 | Comments (0)

14. EVERYDAY SERVE HIS LOTUS FEET
Layani teratai kaki Nya setiap hari 

“Melayani Teratai Kaki” adalah sebuah peribahasa. Kaki seorang guru diibaratkan sebagai bunga teratai. Persis seperti bunga tersebut, seorang guru tidak tercemar oleh lumpur dunia di sekitarnya. Ia tumbuh dari lumpur, tapi tidak berlumpur. Ia berada dalam dunia, tetapi keduniawian tidak menyentuhnya. Kepada seorang Guru Sejati seperti itulah hendaknya kita berlindung. Kepada seorang Guru Sejati berjiwa bebas seperti itulah hendaknya kita berindung.

Berhadapan dengan seorang Guru, saya memang kecil. Saya harus berada di bawahnya, supaya aliran kebijakan serta kasihnya dapat menyirami saya. Saya tidak bisa berada di atas dahan dan mengarapkan perlidungan dari pohon yang dahannya saya duduki itu. Berada di atas sana, saya sudah pasti basah kuyup bila turun hujan. Saya tidak bisa berada di atap rumah bila ingin berlindung dari badai dan topan. Saya harus berada di dalam rumah, di bawah atap.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 103 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-03-29 | Comments (0)

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1958 DI JAKARTA

Saudara-saudara ini adalah salah satu ulang tahun Republik Indonesia yang paling diperhatikan orang! Diperhatikan orang di dalam dan di luar negeri. Boleh dikatakan seluruh dunia pada hari ini mengarahkan pandangan matanya ke Jakarta, atau memasangkan arah-telinganya ke Jakarta. Bagaimana suasana Jakarta pada hari ini, dan apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada hari ini? Apakah suasananya suasana yang tertekan, suasananya rakyat yang baru saja dapat pukulan-pukulan di badannya, – babak-belur, babak-bundas? Apakah suaranya suara rakyat yang telah remuk-redam dalam jiwanya, suara rakyat yang telah megap-megap?

Pantas juga orang di luaran mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu, terutama sekali orang-orang dari kalangan-kalangan yang tak senang kepada kita atau tidak senang kepada politik kita. Pantas! Sebab apa yang tidak kita alami dalam tahun yang lalu! Segala macam cobaan-cobaan pahit dan getir telah kita alami, yang, jikalau umpamanya kita ini bukan bangsa yang ulet dan Insya Allah d ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 208 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

<<sebelumnya.....  Pada hari keramat 17 Agustus sekarang ini, saya menyerukan lagi: jangan lupa D.I.-T.I.I., – jangan biarkan mereka, hantamlah terus D.I.-T.I.I., sampai mereka hancur-lebur samasekali!

Sekarang, apakah yang dinamakan kelanjutan daripada Revolusi ialah terletak dalam segala bidang yang perjoangannya belum selesai. Kelanjutan Revolusi ialah kelanjutan perjoangan-perjoangan yang belum selesai. Kelanjutan perjoangan di bidang politik, kelanjutan perjoangan di bidang ekonomi atau lebih tepat sosial-ekonomi, kelanjutan perjoangan di bidang kepribadian Nasional. Revolusi kita adalah satu “revolusi campuran”, revolusi politik dan sosial-ekonomi dan kebudayaan, – satu Revolusi yang pada hakekatnya adalah “a summing up of many revolutions in one generation”. Satu bagian daripada Revolusi ini adalah lebih maju daripada bagian yang lain, tetapi semua bagian-bagian itu meminta kelanjutan daripada perjoangannya.

Welnu, kelanjutan daripada Rev ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 204 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

« 1 2 3 4 5 ... 14 15 »