6. Recognize that the pleasures of sense-objects (samsaar) are riddled with pain
Ketahuilah bahwa segala kenikmatan yang kau peroleh lewat inderamu diselimuti oleh duka

Inilah penyebab dosa. Inilah sebab kesalahan dan kekhilafan. Mempercayai kenikmatan yang kita peroleh lewat indera, dan menganggap kenikmatan itu menghasilkan suka adalah kesalahan atau kesalahpahaman kita.

Kenikmatan yang diperoleh lewat indera adalah hasil interaksi kita dengan hal-hal di luar diri, dengan pemicu-pemicu luaran. Tanpa pemicu itu, tidak ada kenikmatan. Panca indera sendiri tidak dapat menghasilkan sesuatu tanpa pemicu, atau intervensi dari pihak lain.

Karena itu, segala kenikmatan yang diperoleh lewat panca indra tidak mungkin bertahan lama. Sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Saat ini suka, sesaat kemudian duka; bahagia dan sengsara; tawa dan tangis. Demikianlah satu pengalaman menggantikan pengalaman yang lain. Inilah samsaara, pengulangan yang tak berkesudahan. Kata ‘sengsara’ dalam bahsa kita berasal dari samsaara, pengulangan yang menjenuhkan, membosankan, menyengsarakan. Alhasil; duka, duka dan hanya duka. Lambat laun pengalaman sukapun tak dapat membahagiakan, karena kita sadar bahwa ia ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 57 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2017-08-05 | Comments (0)

7. Seek the Self with consistent endeavour
Temukan Diri-mu dengan upaya sungguh-sungguh

Inilah jihad sesungguhnya: Jihad untuk mempertemukan kita dengan diri sendiri. Inilah yang mendatangkan kebahagiaan, karena jihad yang satu ini mempertemukan kita dengan Sumber Segala Kebahagiaan di dalam diri kita; kebahagiaan yang tidak membutuhkan pemicu-pemicu dari luar; kebahagiaan kekal, abadi, sekekal diri kita, seabadi diri kita. Kebahagiaan itulah jati diri kita. Itulah sifat dasar kita.

Apa yang disebut jati diri sesungguhnya bukanlah jati diri-"mu” atau jati diri-"ku”—tetapi hanya jati diri. Titik. Jati diri adalah esensi kehidupan, inti sari kehidupan; titik awal dan titik akhir kehidupan. Dua, tapi satu, karena kehidupan melingkar… dan titik darimana ia berawal juga menjadi titik dimana ia berakhir untuk memulai kembali perjalanannya. Sebesar dan seluas apapun lingkaran hidup, ia berawal dan berakhir di titik yang sama. Ia bermula dari satu titik, dan berakhir di satu titik. Satu titik yang sama.

Kita memperoleh kesan bahwa jarak antara titik awal dan "sekaligus” titik akhir itu merupakan lingkaran kehidupan yang sangat luas, padahal "ke ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 45 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2017-08-05 | Comments (0)

8. Escape from the bondage of "home”
Janganlah diperbudak oleh keterikatanmu

Ayat ini tidak dimaksudkan bagi para pengecut. Mereka yang tidak bernyali dan tidak berani menghadapi tantangan hidup menggunakan ayat ini untuk membenarkan pelarian mereka dari tantangan dan tanggung jawab. Ayat ini ditujukan kepada para pemberani. Kepada mereka yang berani menghadapi segala tantangan hidup.

Pesan Sang Acharya, Sang Guru Besar yang mengajar dari pengalaman sendiri amat jelas: Bebaskan dirimu dari keterikatan: Janganlah kamu diperbudak oleh keterikatanmu, karena keterikatan dalam bentuk apapun sudah pasti berakhir dengan duka.

Yang dimaksud adalah keterikatan pada pengalaman tertentu ; keterikatan pada benda-benda tertentu; keterikatan pada orang-orang tertentu.

Ada yang pernah bertanya; "Bagaimana dengan keterikatan kepada Tuhan? Apakah itu pun harus dilepaskan?” Pertanyaan seperti ini tidak relevan, dan inipun hanya permainan ilusi. Tidak ada urusan ikat mengikat antara bulan dan rembulan, antara kelembuatan dan air, antara panas dan api, antara gerakan dan angin. Keberadaan manusia semata karena Yang Maha Ada, karena Sang Keberadaan.

Hubungan m ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 48 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2017-08-05 | Comments (0)

9. Seek Companionship with Men of Wisdom
Bersahabatlah dengan Para Bijak

Seperti ayat-ayat yang lain, ayat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang "sedang menjalani” pelatihan rohani ; bukan bagi mereka yang merasa "sudah selesai menjalani”-nya ; bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan bantuan dari para bijak. Ayat-ayat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang siap menundukkan kepala, dan mau belajar.

Kita akan menjadi orang seperti orang-orang yang biasa kita ajak bergaul. Karena ayat ini mudah dimengerti. Bergaullah degan para bijak, bersahabatlah dengan mereka supaya kita sendiri nanti juga bisa bijak.

Tapi, siapa saja yang patut disebut bijak ? Setiap orang yang emosinya tidak bergejolak ; setiap orang yang dapat berpikir dengan jernih dan tidak terbawa oleh amarah ; setiap orang yang bertindak sesuai dengan kesadarannya, bukan karena hasutan orang, bukan karena dipengaruhi orang. Selain itu, orang bijak adalah setiap orang yang dapat mendengarkan suara hatinya ; set ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 47 | Added by: GitaMerdeka | Date: 2017-08-04 | Comments (0)

Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 16 Juni 1958.

Saudara-saudara sekalian,

Di dalam kursus saya yang pertama sebagai pendahuluan, saya terangkan kepada saudara-saudara bahwa perjuangan rakyat Indonesia untuk menumbangkan imperialisme tidak boleh lain daripada bersifat mempersatukan segenap tenaga-tenaga revolu­sioner yang ada di masyarakat kita. Saya jelaskan pada waktu itu sebabnya. Sebabnya ialah bahwa kita berhadapan dengan imperi­alisme Belanda yang imperialisme Belanda itu berlainan sifat daripada misalnya imperialisme Inggeris. Manakala imperialisme Inggris adalah terutama sekali satu imperialisme perdagangan, – yang saya maksudkan ialah imperialisme Inggris yang datang di India -, maka imperialisme Belanda yang datang di Indonesia, terutama sekali adalah satu imperialisme daripada Finanz-kapital. Finanz-kapital yaitu kapital yang ditanamkan di sesuatu tempat berupa perusahaan-perusahaan.

... Read more »

Category: Kursus Pancasila - Bung Karno | Views: 87 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

<<<sebelumnya.....  Datang saf zaman Hindu, yang di dalam bidang politik berupa negara Taruma, negara Kalingga, negara Mataram kesatu, negaranya Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutei, berupa Sriwijaya dan lain sebagainya. Datang saf lagi, saf zaman kita mengenal agama Islam, yang di dalam bidang politik berupa negara Demak Bintaro, negara Pajang, negara Mataram kedua, dan seterusnya. Datang saf lagi, saf yang kita kontak dengan Eropa, yaitu saf imperialisme, yang di dalam bidang politiknya zaman hancur-leburnya negara kita, hancur-leburnya perekonomian kita, bahkan kita menjadi rakyat yang verpauveriseerd. Jadi empat saf, saf pra-Hindu, saf Hindu, saf Islam, saf imperialis. Saya lantas gogo (gogo itu seperti orang mencari ikan, di lubang kepiting) sedalam-dalamnya sampai menembus zaman imperialis, menem­bus zaman Islam, menembus zaman Hindu, masuk ke dalam zaman pra-Hindu.

Jadi saya menolak perkataan bahwa kurang dalam penggalian saya. Dalam pada saya menggali-gali, menyelami saf-saf ini, saban-saban saya bertemu dengan: kali ini, ini yang menonjo ... Read more »

Category: Kursus Pancasila - Bung Karno | Views: 54 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

(Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 5 Juli 1958)

Saudara-saudara sekalian, saya ikut bergembira bahwa Saudara-saudara meski malam ini adalah malam Minggu dan di beberapa tempat di Jakarta hujan, Saudara-saudara toh memer­lukan datang dalam kursus ini.

Malam ini hendak saya kupas sila Kebangsaan.

Urut-urutan yang biasa saya pakai untuk menyebut kelima sila daripada Pancasila itu ialah: Ketuhanan Yang Maha Esa; Kebang­saan nomor dua; Perikemanusiaan nomor tiga; Kedaulatan Rakyat nomor empat; Keadilan Sosial nomor lima. Ini sekadar urut-urutan kebiasaan saya.

Ada kawan-kawan yang mengambil urut-urutan lain yaitu meletakkan sila Perikemanusiaan sebagai sila yang kedua dan sila Kebangsaan sebagai sila ketiga. Bagi saya prins ... Read more »

Category: Kursus Pancasila - Bung Karno | Views: 85 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

10. Be established in firm devotion to the Lord
Mengabdilah selalu pada Yang Maha Memiliki

Mengabdi kepada siapa? Berbakti kepada siapa? Kepada mereka yang mengaku Maha tahu dan maha memiliki? Kepada mereka yang telah menyandera hak kita untuk berpikir dan berperasaan? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Tentunya tidak. Mengabdilah kepada Ia Yang Maha Memiliki. Kepada Ia Yang adalah Pemilik Tunggal Alam Semesta. Kepada Dia yang disebut Hyang Widdhi oleh orang Hindhu, Adi Buddha oleh orang Buddhis, Bapa di Surga oleh orang Kristen, dan Allah oleh orang Muslim. Dia pula Tao yang Tak Terungkap, dan Kami Yang Tak Terjelaskan namun dapat "dijalani”, dilakoni dalam keseharian hidup. Dialah Satnaam para pemuja Sikh, Sang Nama Agung Yang Berada di Atas Semua Nama.


Be establihsed in firm devotion ~~ janganlah engkau goyah dari imanmu itu, dari pengabdianmu itu ….. Dari Iman pada Pengabdian itu sendiri !

Seornag pelayan boleh goyah; seorang pemban ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 83 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1955 DI JAKARTA

Saudara-saudara!

Pidato ini saya susun dalam tiga bagian. Bagian yang mengenai masa yang lampau. Bagian yang mengenai masa sekarang. Dan bagian yang mengenai masa datang.

Dengarkanlah!

Hari ini adalah hari ulang tahun kesepuluh sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada hari ini bangsa Indonesia seluruhnya, di manapun ia berada, di dalam dan di luar negeri, merayakan hari yang benar-benar bersejarah. Selayaknyalah pada ulang tahun yang kesepuluh ini, apabila kit ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 74 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

<<<sebelumnya..... Karena itu, segenap jiwa-ragaku berseru kepada bangsa Indonesia: “Terlepas dari ideologi apapun, – jagalah Persatuan! Jagalah Keutuhan” Bukan hanya oleh karena aku ini Presiden yang berdiri di atas semua partai dan semua golongan, maka aku berseru demikian! Aku menyerukan Persatuan dan Keutuhan, oleh karena aku seorang Patriot, oleh karena aku pencinta Kemerdekaan Nasional, oleh karena aku pencinta rakyat-jelata yang juga mengingini Persatuan, oleh karena aku ini sedikit-banyak ikut-ikut berjoang berpuluh tahun dan oleh karena aku sedikit-banyak ikut-ikut pula berkorban untuk mempersatukan bangsa Indonesia dan untuk mencapaikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Rela aku meninggalkan Istana Merdeka ini untuk mengabdi kepada Persatuan dan Kemerdekaan bangsa, sebagai patriot saja, dan tidak sebagai Presiden!

Kita sekalian adalah makhluk Allah. Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta. Ya, benar kita merencanakan, kita bekerja, ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 72 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-07-12 | Comments (0)

« 1 2 3 4 5 ... 16 17 »