Sukamiskin, 14 Desember 1931.

Yth. Saudara Mr. Sartono di Jakarta.

Saudara,

Dari saudara Thamrin yang kemarin pagi mengunjungi saya di dalam penjara Sukamiskin, saya mendapat berita, bahwa dari mana-mana tempat (jauh dan dekat) datanglah khabar, bahwa banyak sekali saudara-­saudara kaum sefaham yang berniat menjemput saya beramai-ramai di ­muka penjara Sukamiskin nanti pada hari Kemis 31 Desember pagi-pagi.

Berita ini sangatlah mengharukan hati saya, dan memenuhinyalah dengan rasa cinta dan terima kasih pada sekalian saudara-saudara yang begitu setia itu. Tetapi walaupun begitu, menurut fikiran saya, penjemputan itu kurang perlu. Zaman sekarang adalah zaman meleset, zaman kesempitan pencaharian rezeki, – uang yang akan dipakai untuk perongkosan itu, terutama bagi saudara-saudara yang dari jauh, lebih utamalah kalau digunakan unt ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 170 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-18 | Comments (0)

“Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'”   (HR. Bukhari)

Tentu saja ada alasan yang sangat mendasar bagaimana seorang ibu begitu keramat dan mempunyai kedudukan yang amat istimewa dalam agama. Dan tentulah semua karena memang jasanya yang amat besar bagi setiap kita. Mengandung kita selama sembilan bulan lamanya, menyusui dan memelihara kita dengan segala peluh susah yang harus ditanggungnya dalam waktu yang panjang, adalah menjadi alasan yang amat kuat adanya keharusan bagi setiap orang untuk menghormati sang ibu. Itulah yang membuat berbakti kepadanya ... Read more »

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 171 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-18 | Comments (0)

SWADESHI DAN IMPERIALISME

Tatkala saya diundang oleh kaum studen di Jakarta untuk membikin pidato tentang perlu dan faedahnya pergerakan Rakyat Indonesia diberi alas-alas teori, maka di dalam pidato itu saya telah membicarakan suatu contoh: – swadeshi. Dan saya mengupas soal swadeshi itu ialah oleh karena soal itu sekarang paling ramai dibicarakan orang, dilihat dari kanan dan kiri, dicium-cium, dikutuki, dimaki-maki, dikeramatkan, dipersyaitankan, – tetapi sepanjang pengetahuan saya sampai sekarang belum adalah satu analisa atau pengupasan soal itu yang agak dalam dan mengenai pokok, sehingga banyak sekali orang bangsa Indonesia yang hanya membeokan sahaja ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin di negeri lain. Ada yang dengan gampang sahaja meniru semboyan Mahatma Gandhi: “dengan swadeshi merebut swaraj”; ada yang juga dengan gampang sahaja mempersyaitankannya; ada pula yang tiada pendirian sama-sekali dan lantas menjadi bingung; tetapi belum ada yang mencoba dengan saksama membikin suatu penyelidikan tentang hal ini yang ber­sendi kepada analisa dialektik. Oleh karena itu maka soal ini adalah soal yang paling baik untuk dipakai sebagai contoh di dalam rapatnya kaum studen itu, di mana saya meyakinkan kandidat ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 195 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-17 | Comments (0)

Baiklah kiranya buku ini kututup dengan sebuah puisi.
Meski mungkin ini tidak seperti sebuah puisi, tapi pastinya ini bukan hanya sekedar basa-basi.
Semua datang dari hati untuk negeri dan untuk anak-anak ibu pertiwi.

Karena rupanya masih amat jauh negeri ini dari cita-cita kemerdekaannya.
Tak sedikit anak-anak ibu pertiwi yang lapar di negeri ini, yang terkenal dengan kekayaaannya yang tiada tara.
Tidak sedikit pula perbuatan keji yang terjadi di sudut-sudut negeri ini, yang terkenal sangat beragama.

Dan tidaklah sedikit pula keserakahan dan ketidakadilan yang tanpa malu dipertontonkan.
Dipertontonkan oleh mereka yang bahkan kita sebut seba ... Read more »

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 171 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-17 | Comments (0)

<<<sebelumnya.....   Dan marilah kita sebagai penutup mendengarkan perkataannya Mahatma Gandhi yang berseru: “Het is een zonde, Amerikaanse tarwe te eten, terwijl uw buurman, de korenkoopman, door gebrek aan klanten te gronde gaat … Ook maar een el uitheems weefsel in Indie invoeren, beduidt, een stuk brood uit de mond van een, die gebrek lijdt, wegnemen”. “De boycotten en de verbranding van vreemde weefsel hebben niets te maken met een rassenhaat tegen Engeland, die Indie niet koestert, ja zelfs niet kent.”

Jadi: macam-macam orang, macam-macam pendapat. Tetapi, poli­tik atau bukan politik, boikot atau bukan boikot, kebenyian atau bukan kebencian,- hatsilnya bagi imperialisme Inggeris adalah setali t i g a wang! lebih lakunya barang bikinan India, dan lebih tidak lakunya barang bikinan Inggeris; lebih majunya industri di Bombay dan Madras dan Jamsheedpore, dan lebih surutnya industri di Bradford dan Man­chester dan Birmingham. Hatsilnya bagi imperialisme Inggeris ialah, bahwa imperialisme Inggeris itu terkena ulu-hatinya, terkena pusat-nyawanya, terkena lak-lakan-rongkongannya ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 210 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-16 | Comments (0)

Pergerakan melawan musuh dengan secara “lijdelijk verzet” kini menjadi “hangat”. Bertahun-tahun cara itu menjadi caranya pergerakan-nasional dilaksanakan di Hindustan, – kini muncullah ia pula di Indonesia guna melawan wilde-scholen-ordonnantie. Cara ini perlu kita selidiki. Di dalam karangan ini, saya akan membikin beberapa catatan atas methode lijdelijk verzet itu.

Buat pembaca yang belum begitu mengetahui apakah lijdelijk verzet itu, maka ada baiknya lebih dulu di bawah ini saya sajikan dua “gambar”, dua “fragmen” daripada pergerakan itu di Hindustan: pertama: fragmen dari surat Mahatma Gandhi kepada gupernur-jendral Hindia Inggeris yang mengandung ultimatum akan menjalankan lijdelijk verzet, kedua: satu fragmen dari permulaannya lijdelijk-verzetsactie yang sekarang, yakni aksinya Gandhi melawan monopoli garam.

Surat itu adalah tertanggal 2 Maart 1930. Penutupnya berbunyi:

“Indien nochtans Indie als natie leven ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 190 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-15 | Comments (0)

Tatkala saya baru keluar dari penjara Sukamiskin, maka saya menyanggupi kepada kaum Marhaen Indonesia akan berusaha sekuat­kuatnya untuk mendatangkan persatuan antara Partai Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia. Saya mempunyai cita-cita yang demikian itu karena keyakinan, bahwa di dalam zaman sekarang ini, di mana malaise makin haibat, di mana kesengsaraan Marhaen makin meluas dan mendalam, di mana musuh makin mengamuk elan merajalela, di mana udara makin penuh dengan getarannya kejadian-kejadian yang telah datang dan yang akan datang, yang paling perlu untuk keselamatan Marhaen ialah per­satuannya barisan Marhaen, agar supaya tidak hancur tergilas oleh roda zaman yang baginya pada waktu ini ada begitu kejam, – lebih kejam lagi daripada yang sudah-sudah. Dan sayapun mempunyai cita-cita yang demildan itu karena saya yakin, bahwa di dalam hakekatnya P.I. dan P.N.I. adalah mempunyai satu belangen-basis dan tiada perbedaan azas yang dalam. Saya tidak mungkin mempunyai cita-tcita yang demikian itu, kalau saya melihat, bahwa P.I. dan P.N.I. mempunyai perbedaan-belangen-­basis dan perbedaan-azas yang besar. Juga sampai pada saat saya menulis maklumat ini, saya tetap mempunyai keyakinan itu.

Pendapat setengah orang, ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 172 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-14 | Comments (0)

Apakah demokrasi itu? Demokrasi adalah “pemerintahan rakyat”. Cara pemerintahan ini memberi hak kepada semua rakyat untuk ikut memerintah.

Cara pemerintahan ini sekarang menjadi cita-cita semua partai­-partai nasionalis di Indonesia. Tetapi dalam mencita-citakan faham dan cara-pemerintahan demokrasi itu kaum Marhaen tokh harus berhati-hati. Artinya: jangan meniru sahaja “demokrasi-demokrasi” yang kini diprak­tekkan di dunia luaran.

Bagaimanakah prakteknya demokrasi di dunia luaran itu?

Yang membawa “demokrasi” mula-mula di dunia Barat ialah pemberontakan Perancis, – kurang lebih 100 a 125 tahun yang lalu. Sebelum ada pemberontakan Perancis itu, cara pemerintahan Eropah adalah otokrasi: kekuasaan pemerintahan adalah di dalam tangan satu orang sahaja, yaitu di dalam tangan Raja. Rakyat tak ikut bersuara. Rakyat harus menurut sahaja. Raja mengaku dirinya sebagai wakil Allah di­ dunia ini.

... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 184 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-13 | Comments (0)

Pada tanggal 26 Oktober y.l. maka di dalam sidang Raad van Indie, direktur B.B. telah memberi permakluman, bahwa:

“Gebleken is dat het thans voor volwassenen mogelijk is, zich voor 21/2 cent per dag to voeden”, – artinya: bahwa:

“Ternyatalah, bahwa kini satu orang yang dewasa bisa cukup makan dengan sebenggol sehari”.

Cukup nafkah-hidup sebenggol sehari! – benarkah itu? Tentang pendapatan, yakni “inkomen” kita kaum Marhaen, maka saya hampir di dalam tiap-tiap rapat umum telah memberi angka-angka yang mendiri­kan bulu. Sering saya terangkan, bahwa pendapatan itu sebelumnya zaman meleset adalah 8 sen seorang sehari, bahwa kemudian di dalam permulaan zaman meleset ia merosot menjadi 4 a 4 setengah sen seorang sehari, dan bahwa kemudian lagi ia lebih merosot lagi menjadi sebeng­gol seorang sehari.

... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 155 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-12 | Comments (0)

I

Di dalam salah satu rapat umum saya pernah berkata, bahwa kita bukan sahaja harus menentang kapitalisme asing, tetapi harus juga menentang kapitalisme bangsa sendiri. Hal ini telah mendapat pembicaraan di dalam pers, dan sayapun mendapat beberapa surat yang minta hal ini diterangkan sekali lagi dengan singkat.

Dengan segala senang hati saya memenuhi permintaan-permintaan itu. Sebab soal ini adalah soal yang mengenai beginsel. Beginsel, yang harus dan musti kita perhatikan, jikalau kita mengabdi kepada rakyat dengan sebenar-benarnya, dan ingin membawa rakyat itu ke arah keselamatan.

Supaya buat pembaca soal ini menjadi terang, dan supaya pembicaraan kita bisa tajam garis-garisnya, maka perlulah lebih dulu kita menjawab pertanyaan:

Apakah kapitalisme itu?

... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 160 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-07-11 | Comments (0)

« 1 2 ... 12 13 14 15 »