Home » 2016 » August » 30 » 37. CONQUER THE EFFECTS OF THE DEEDS DONE IN EARLIER LIVES BY THE PRESENT RIGHT ACTION
6:36 PM
37. CONQUER THE EFFECTS OF THE DEEDS DONE IN EARLIER LIVES BY THE PRESENT RIGHT ACTION

37. CONQUER THE EFFECTS OF THE DEEDS DONE IN EARLIER LIVES BY THE PRESENT RIGHT ACTION
Atasi pengaruh tindakan-tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini

Silahkan menerjemahkan "masa lalu” secara terbatas atau tidak terbatas, tidak menjadi soal. Bobot penggalan ayat ke lima ini tidak menjadi kurang atau lebih karena terjemahan kita.

Sah-sah saja bila masa lalu diterjemahkan sebatas masa yang telah berlalu dalam hidup ini. Tidak perlu menariknya jauh ke belakang, bila ada yang apriori terhadap Hukum Daur Ulang yang biasa disebut reinkarnasi, dan Hukum Aksi-Reaksi, Sebab-akibat, atau Hukum Karma.

Karma berarti "perbuatan: tindakan, kegiatan, pekerjaan. Ada akibat, ada sebab. Masuk anginpun tidak mungkin tanpa sebab. Apalagi musibah, kecelakaan, dan bencana alam. Semuanya itu hanyalah akibat. Dan, bila kita menderita karenanya, sebabnya sudah pasti kita pula. Hukum Alam yang satu ini tidak memungkinkan kita menderita karena ulah orang lain. Tidak ada kemungkinan untuk itu.

Setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal, demikian menurut hukum fisika. Hukum Fisika atau Hukum Aksi-Reaksi inilah Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Bila kita memahami hukum ini, kita tidak akan menyalahkan Tuhan, orang lain, atau keadaan atas apa yang menimpa diri kita.

Pemahaman tentang hukum ini membuat kita bertanggungjawab penuh atas setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. Kesalahan terjadi karena kita. Kekeliruan adalah kekeliruan kita, maka perbaikan pun dapat kita lakukan sendiri.

Atasi pengaruh tindakan-tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini. Baiklah, tetapi dengan cara apa ? Bagaimana mengatasinya ?

-       Dengan tidak mengulangi kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan di masa lalu.

-       Dengan belajar dari kegagalan-kegagalan di masa lalu.

-       Dan dengan memperbaiki tindakanku di masa kini, supaya kegagalan yang sama tak terulang di masa depan.

 

Pemerintahan berdasarkan agama dengan kekuasaan pada seorang atau sekelompok orang yang mengaku sebagai penafsir resmi ajaran agama dan kitab suci tidak pernah berhasil untuk waktu yang panjang. Pengalaman-pengalaman masa lalu sudah di depan mata, dapat di baca oleh siapa saja. Kendati demikian, kita menutup mata. Kita tidak mau belajar dari kegagalan masa lalu, dan masih tetap memaksakan pemerintahan berideologikan agama tertentu.

Bangsa Arab yang dipersatukan oleh agamapun tidak betul-betul satu. Orang Arab di Lebanon, Yordania, dan Kuwait lain dari orang Arab di Saudi. Kebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat mereka beda. Mayoritas Iran dan sebagian Iraq bahkanbukanla orang Arab. Mereka memiliki identitas sendiri. Kita menutup diri terhadap fakta-fakta sejarah itu dan masih terus memperjuangkan kesatuan atas landasan agama.

Sayang sekali, orang-orang kita yang sering bepergian ke tanah suci hanya berkenalan dengan satu sisi kepribadian Arab, sisi Saudi. Bagi mereka Saudi itulah Arab. Dan, paham Wahhabi itulah Agama Islam. Mereka tidak pernah melihat sisi-sisi lain. Mereka tidak pernah berkenalan dengan sisi-sisi lain. Padahal, sisi-sisi lain yang bercerita banyak tentang berbagai hukum alam. Inilah tragedi bangsa kita.

Kendati demikian, tragedi setragis apapun bukanlah harga mati, tidak setragis yang kita bayangkan. Tragedipun masih dapat di ubah menjadi komedi, "Eh, ternyata selama ini mataku tertutup. Ternyata aku tertidur, ternyata aku mimpi ….. Alamak !”

Atasi pengaruh tindakan-tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini. Ya, dulu kita bangsa yang besar. Selama ribuan tahun kita menguasai perdagangan rempah-rempah. Kemudian agama dijadikan faktor pemecah belah. Nusantara yang satu terbagi-bagi. Dalam seratus tahun lebih sedikit, kekuasaan dan kejayaan selama hampir dua ribu tahun lenyap tanpa bekas. Adakah suatu pelajaran yang kita petik dari kesalahan masa lalu itu ?

Sayang sekali, rupanya kita tidak belajar dari masa lalu kita. Karena itu, kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 183 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pencerahan, Kesadaran | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar