Home » 2016 » August » 30 » 36. RECOGNIZE THAT THE FINITE UNIVERSE IS A PROJECTION OF THE SELF
7:14 PM
36. RECOGNIZE THAT THE FINITE UNIVERSE IS A PROJECTION OF THE SELF

36. RECOGNIZE THAT THE FINITE UNIVERSE IS A PROJECTION OF THE SELF
Sadarilah bahwa alam yang serba terbatas ini hanyalah proyeksi dari "Sang Aku”

Alam yang serba terbatas, walau masih tetap berada di luar jangkauan pikiranku, hanyalah proyeksi dari "Sang Aku”., proyeksi dari Ia yang meliputi segalanya. Ia yang berada di luar dan di dalam diri kita. Persis seperti air dan ikan di dalam kolam. Air berada di luar ikan dan berada pula di dalamnya.

Alam yang terasa maha luas oleh pikiran kita dan tak terjelaskan inipun hanyalah proyeksi dari ”Sang Aku” — sebagaimana diriku yang serba terbatas, sebagaimana dirimu yang serba terbatas pula … Kita semua adalah proyeksi dari "Sang Aku” yang sama.

Proyeksi "Sang Aku” tidak menjadi diri "ku” dan diri "mu”. "Ia” juga tidak menjadi alam semesta ini, namun semuanya adalah projection of the Self — Proyeksi dari "Sang Aku”. Persis seperti bulan terproyeksikan dalam wadah berisi air. Bulan juga terproyeksikan, bayangannya terlihat dalam air di kolam, di sungai, di cermin. Proyeksi-proyeksi tanpa batas itu tidak "mengurangi” bulan. Ia tetap utuh, tak terbagi.

Bulan yang terbayang dalam wadah kotor yang berisikan air kotor tidak ikut menjadi kotor. Bulan yang terbayang dalam wadah bersih yang berisikan air bersih tidak menjadi tambah bersih karena proyeksinya itu. Ia tidak berubah warna karena air berwarna di dalam wadah — walau tampak berwarna.

Pikiran penjahat yang suka meneror sesama manusia ibarat air berwarna dalam wadah yang barangkali kotor pula, namun bulan tetaplah "berkenan” untuk terbayang. Barangkali istilah "berkenan” pun tidak tepat, karena hal itu "terjadi”. Proyeksi atau refleksi adalah kejadian, sebuah keniscayaan. Soal lain bila air dalam wadah yang kotor tersebut tidak layak diminum. Ia menjadi tidak berguna bagi sesama manusia, sesama makhluk, bahkan berbahaya bagi kesehatan. Air itu harus dihindari, dibuang jauh-jauh; tidak dikonsumsi. Janganlah terbawa oleh sentimen, "Ah, bulan pernah terbayang dalam air itu.” Sentimen seperti itu tidak pada tempatnya. Bulan terbayang di mana-mana.

Hendaknya kita tidak menjadi pemalas dan pengecut dengan berdalih pada penggalan ayat yang satu ini. Bangkitlah untuk membuang jauh air yang sudah menjadi kotor karena kotornya wadah. Air itu tidak berguna. Bila kita membiarkannya di atas meja makan, seseorang bisa meminumnya dan jatuh sakit.

"Sang Aku” memang terbayang dalam diri para penjahat, para koruptor, para penipu dan para pengkhianat bangsa, tetapi itu tidak berarti kita harus "menerima” mereka. Terimalah "Sang Aku” yang Terbayang itu, tapi tidak perlu menerima wadah dan air yang kotor. Kotoran tetap harus ditolak dengan penuh kesadaran bahwa yang kita tolak adalah kotoran — Bukan "Sang Aku” !

Kita mesti menolak kebodohan dan ketaksadaran yang dapat mengancam kesatuan dan persatuan bangsa tanpa menaruh rasa dendam terhadap orang-orang bodoh yang tidak sadar.

Sadarilah bahwa alam yang serbaterbatas ini hanyalah proyeksi dari "Sang Aku”. Dalam air keruhpun bulan terbayang, tapi air itu tidak layak diminum. Sekali lagi, tidak perlu memusuhi, mencela, menghujat, atau mencaci maki air keruh dan kekeruhan. Sadari bahwa "Sang Aku” tidak ikut menjadi keruh karena air keruh atau wadah yang kotor, namun air keruh dan kekeruhan haruslah dihindari. Itu saja.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 161 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pencerahan, Kesadaran | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar