Home » 2016 » October » 5 » 35. REALIZE AND SEE THE ALL-PERVADING SELF EVERY WHERE
5:36 PM
35. REALIZE AND SEE THE ALL-PERVADING SELF EVERY WHERE

35. REALIZE AND SEE THE ALL-PERVADING SELF EVERY WHERE
Saksikan "Sang Aku” yang meliputi segalanya, sadarilah kehadiran-Nya

Para penjahat berdarah dingin dan tak berperasaan yang berusaha untuk menakut-nakuti kita, meneror kita, juga "merasa” cuup percaya pada Tuhan. Mereka lebih rajin berdoa daripada orang-orang saleh dan berakhlak yang mereka kafir-kafirkan. Kendati demikian, mereka tetap bagaikan tumor yang harus segera diangkat. Mereka merusak seluruh tatanan sosial.

Seperti yang dikatakan oleh Maulana Wahiduddin Khan baru-baru ini, "Mereka tidak berjihad” karena, menurut beliau, jihad hanya dilakukan oleh Negara untuk melindungi atau membela diri. Jihad bukanlah untuk meneror orang. Jihad bukanlah untuk membunuh orang-orang tak bersalah. Para pelakunyapun tidak mewakili negara manapun. Mereka hanya mewakili kelompok-kelompok tertentu.

Pertanyaannya, apakah mereka belum cukup percaya Tuhan ? Jawabannya, ya dan tidak — tergantung pada siapa yang menjawabnya.

Bila seorang Maulana Wahiduddin Khan ditanyai, ia akan menjawab seperti yang dijelaskannya dalam talk show di televisi, "lihat saja hasilnya, tidak berhasil kan ?! Bila apa yang mereka sebut itu betul perjuangan, sudah pasti berhasil. " As simple as that, inilah keyakinan seorang ulama besar Hindustan.

Bila para pelaku kejahatan itu yang diminta menjawab, maka merekapun akan bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa mereka percaya sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa, bahkan mereka juga percaya bahwa tangan-tangan mereka yang melempar bom itu digerakkan oleh Tuhan.

Mereka memang percaya pada Tuhan. Tidak ada salahnya bila para penjahatpun percaya pada Tuhan. Kepercayaan pada Tuhan bukanlah monopoli orang-orang baik saja. Tuhan tidak pilih kasih. Saya yakin, Ia tidak keberatan bila para koruptor dan penghianat bangsapun percaya pada-Nya. Adalah persoalan lain bila kepercayaan mereka tidak mendapatkan tanggapan lain. Sekadar "diterima”, itu saja. Titik. Persis seperti "surat yang diterima, tapi tidak di balas” atau usulan yang diterima, tetapi tidak ditanggapi.

Para penjahat, koruptor, dan penghianat bangsa pun percaya pada Tuhan, tetapi barangkali tuhan yang hanya berada di luar sana, tuhan yang adalah penguasa surga di atas sana, entah di mana, tuhan yang hanya dijumpai di tempat-tempat tertentu dan pada saat-saat tertentu.

Mereka tidak mampu menghargai dan menhomati kepercayaan para sufi yang melihat Tuhan sebagai Khuda (bahasa Persia — a.k.), atau Self, Sang Aku, Sang Aku yang adalah aku-"mu” dan aku”ku”, Ia yang adalah Aku dari segala aku. Keberadaanku dan keberadaanmu semata karena Sang Aku itu ! Sebab itu, aku tidak dapat menjahatimu. Kamu tidak bisa menjahatiku.

Mereka yang mengklaim kesufian bagi diri dan masih suka menghujat, menghina dan menjelek-jelekkan orang lain adalah orang-orang yang sama-sama "tidak tahu” seperti para penjahat, para koruptor, dan pengkhianat bangsa. Mereka masih belum bisa "menyaksikan ‘Sang Aku’ yang meliputi segalanya, dan menyadari kehadiran-Nya.”

Mereka percaya pada Tuhan yang mereka sendiri "anggap” kerdil; kekuasaan dan kekuatan-Nya "terbatas” karena batas-batas "ciptaan” mereka sendiri. Tuhan dalam "anggapan” mereka bukanlah Tuhan Alam Semesta. Tuhan dalam "anggapan” mereka adalah Tuhan satu kelompok tertentu — kelompok mereka sendiri.

Ego mereka menciptakan "diri” yang terpisah dari Tuhan, diri yang harus "menghamba” kepada Tuhan. Kemudian, yang menjadi penting di mata mereka adalah "kehambaan diri” itu. Hamba boleh jahat, boleh baik, boleh bersyahwat lemah, dan menganggap seluruh dunia bersyahwat lemah kemudian membuat peraturan-peraturan kurang cerdas — yang penting sudah "merasa menghamba”.

Apapun kata dan klaim mereka, mereka tidak bisa atau belum bisa melihat Wajah Allah di barat dan di timur. Mereka belum bisa menerima seluruh umat manusia sebagai keluarga, sebagai satu umat. Mereka belum cukup sadar untuk itu. Kepercayaan mereka tanpa "kesaksian”, walau mereka mengklaim "telah menyaksikan”. Kelmudian klaim-klaim mereka itu menjadi palsu. Tidak memiliki arti. Tidak bermakna.

Bila kita belum mampu menyaksikan kekuasaan-Nya di atas bumi sebagaimana di "dalam surga”, di "lapisan langit yang tertinggi di atas sana”, kita belum menjadi saksi. Kita baru "tahu”.

Walau mengaku beriman, para hamba "non-saksi” seperti itu sesungguhnya belum beriman, karena iman tana kesaksian juga tidak memiliki arti. Iman seperti itu mudah tergoyahkan. Itu sebabnya mereka akan selalu membutuhkan polisi iman untuk menegakkan iman mereka. Mereka selalu membutuhkan "orang luar” untuk membantu mereka. Kadang "orang luar” itu adalah polisi agama, kadang ia perancang undang-undang kurang cerdas, pembuat peraturan-peraturan yang beranggapan bahwa kecuali para pembuatnya semua orang bodoh, dan patut di curigai imannya.

Ulah orang-orang seperti itu merepotkan kita semua. Seluruh dunia menjadi repot karena ketertutupan mereka, karena kepicikan mereka. Kalau menggunakan istilah kafir, barangkali mereka itulah kafir. Lalu, sungguh aneh, mereka mengafirkan orang lain, padahal mereka sendiri kafir.

Walau demikian, masih ada harapan. Bagi saya, persis seperti dalam pemahaman Maulana Wahiduddin Khan, kekafiran adalah sifat jiwa yang tertutup. Kita dapat embukanya kapan saja, asal memiliki niat yang kuat untuk itu. Asal mau berupaya sungguh-sungguh, mau berjihad, mau berijtihad untuk itu.

Membuka jiwa berarti membuka diri. — menerima diri orang lain sebagaimana kita terima diri kita sendiri. Berbuat terhadap orang lain sebagaimana kita harapkan orang lain berbuat terhadap diri kita. Menghormati kepercayaan dan keyakinan orang lain sebagaimana kita menghormati kepercayaan dan keyakinan kita.

Melihat percikan Api Illahi dalam diri setiap orang sebagaimana kita lihat dalam diri kita. Itulah maksud penggalan ayat ke lima ini. Melihat Nur yang sama, cahaya yang sama; melihat Keillahian dan Kemuliaan yang sama; Keindahan yang sama; Kebenaran yang sama. Kau tidak terpisah dari diriku, aku tidak terpisah dari dirimu — kita semua dipersatukan oleh Yang Satu Itu. Oleh Ia Yang Tak Terbagi.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 182 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pencerahan, Kesadaran | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar