Home » 2016 » October » 5 » 33. IN SOLITUDE LIVE JOYOUSLY
5:38 PM
33. IN SOLITUDE LIVE JOYOUSLY

33. IN SOLITUDE LIVE JOYOUSLY
Hidup Ceria dalam keheningan dirimu

Bukan hidup ceria ditengah hutan; bukan hidup ceria di luar keramaian dunia, tetapi hidup ceria di tengah keramaian dunia, di dalam pasar dunia dengan mempertahankan keheningan dirimu.

Seorang teman berkata, "Sulit.” Saya menjawab, "tidak”, karena keceriaan bukanlah sesuatu yang kita beli dai pasar, bukanlah sesuatu yang kita peroleh dari keramaian. Keceriaan berasal dari dalam diri kita, maka kita hanya akan memperolehnya dari dalam diri kita juga.

Keceriaan adalah suatu sikap, suatu sifat. Kita tidak tergantung pada orang lain untuk bersikap ceria. Sikap itu adalah milik kita sendiri. Kita oleh miskin, tidak berduit, orang susah di mata orang kaya, tetapi tetap ceria. Sebaliknya mereka yang menganggap kita susah, walau kaya raya dan berduit, belum tentu ceria !

Kita menjadi penerima dan pemberi karena keceriaan kita. Interaksi antar manusia terjadi karena keceriaan. Tanpa keceriaan, yang terjadi bukanlah interaksi, tapi sekedar dialog tanpa arti.

Jiwa yang tidak ceria adalah jiwa yang tertutup, tidak bisa menerima dan tidak mampu memberi. Inilah jiwa-jiwa "kafir” dalam arti arti kata yang sebenarnya.

Maulana Wahiduddin Khan, seorang ulama kontemporer, seorang cendekiawan Hindustan, menjelaskan bahwa "kafir” adalah orang-orang yang "menolak” karena hati mereka tertutup. Karena itu menurut beliau, seorang non-muslim yang "tidak menolak” agama Islam walau tetap beragama lain, tidak bisa disebut kafir.

Demikianlah menurut ulama besar yang mengaku baru bisa menerima perbedaan, kebhinekaan, keberagaman "sepenuhnya” dalam usia senja setelah membaca karya monumental Arnold Toynbee, A Study of History (Televisi Nasional India Door-Darshan, 13 Maret 2006). Dan, sayapun menyaksikan keceriaan yang luar biasa pada wajahnya. Beberapa tahun yang lalu saya sempat bertemu dengan beliau (baca Islam Esoteris oleh penulis yang sama — Ed.) dan saya memang mengagumi pandangan-pandangan beliau, namun saat itu saya tidak melihat keceriaan yang saya lihat lewal layar kaca baru-baru ini. Keceriaan pada wajahnya sungguh mencerahkan.

Saya tidak dapat membayangkan seorang Buddha yang sudah tercerahkan, namun tidak ceria. Isa dan Muhammad dalam imajinasi saya tidak kalah ceria daripada Krishna.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 171 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pencerahan, Kesadaran | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar