Home » 2016 » October » 5 » 31. BE INDIFFERENT
5:41 PM
31. BE INDIFFERENT

31. BE INDIFFERENT 
Jaganlah kau terikat

Bila kita tidak berhati-hati, terjemahan sutra ini bisa menyesatkan: Bersikaplah cuek! Bukan itu maksud Shankara. Kata yang digunakan dalam bahasa Sanskerta adalah Udasin — bersikap sama; tidak berihak pada salah satu pengalaman. Tidak memilih salah satu pihak, tetapi merangkul keduanya.

Jangan terikat pada salah satu pengalaman. Jangan terikat dengan obyek-obyek tertentu yang memicu pengalaman itu, karena obyek-obyek itu bersifat sementara, tidak langgeng. Saat ini memang masih ada, sesaat kemudian belum tentu ada. Keterikatan kita pada pengalaman-pengalaman atau obyek-obyek itu hanya akan membawa penderitaan.

Mahaguru Shankara sedang berupaya keras untuk membahagiakan kita, untuk memperkenalkan kebahagiaan sejati, untuk memperjelas arti kebahagiaan abadi itu.

Hampir setiap sutra, setiap rumusan, setiap ayat dalam Panchakam ini berurusan denganAnanda, dengan Kebahagiaan Kekal Abadi, Langgeng, Sejati. Ia menjelaskan setiap rintangan, setiap halangan yang menjauhkan kita dari Ananda itu.

Keterikatan dengan salah satu pengalaman, keterlibatan dengan salah satu pihak, adalah halangan utama. Itulah rintangan yang harus dihindari, diatasi, dilampaui.

Di masa perang dingin, para pemimpin kita dihadapkan pada pilihan yang sungguh tidak tepat, pilih Blok Amerika, atau Blok Rusia. Para bapak bangsa kita sungguh jenius ketika mereka mencari jalan keluar sendiri dengan tidak memilih salah satu blok di antaranya. Mereka memproklamasikan diri sebagai Non-Blok. Sukarno, Nehru, Tito, Nasser dan Chou En Lai adalah pemimpin dunia yang memahami betul arti kata udasin, maka mereka mencetuskan Non-Blok.

Sayang sekali kecerdasan seperti itu sudah amat sangat jarang sekali diperlihatkan oleh pemimpin dunia masa kini. Seorang pejabat tinggi Negara kita, walau sudah menduduki jabatan tinggi yang tidak menjadi haknya, karena partainya tidak mendapatkan suara yang cukup untuk itu, masih saja menempatkan diri sebagai ketua partai, walau istilah yang dipergunakan sudah bukan itu lagi. Jelas dia tidak akan bertindak secara udasin, dia tidak bisa tidak pilih kasih. Ia tidak bisa memisahkan dirinya dari partai  dan mewakili Negara dan Bangsa seutuhnya. Agenda sempit partainya masih melekat padakepribadiannya.

Andaikata Mahaguru Shankara seorang Indonesia dan lahir di zaman ini, ia tidak akan berdiam diri. Ia akan mengingatkan kita akan makna udasinindifferent. Sesungguhnya, hanyalah dengan sikap itu kita dapat berkarya secara sempurna. Kita tak akan memikirkan satu kelompok saja. Kita menjadi sangat obyektif dalam hal pengambilan keputusan.

Sesungguhnya Guru Sejagad Shankara, saat inipun tengah mngingatkan kita akan perlunya sikap udasin bagi setiap pemimpin, setiap pekerja, setiap orang yang ingin meraih kebahagiaan, setiap makhluk yang ingin merayakan hidup !

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 210 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pencerahan, Kesadaran | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar