Home » 2016 » November » 14 » 27. BEG NO DELICIOUS FOOD
6:06 PM
27. BEG NO DELICIOUS FOOD

27. BEG NO DELICIOUS FOOD
Janganlah kau meminta makanan yang lezat

"Janganlah kau meminta” juga berarti "janganlah kau mengharapkan” ….. Makanlah sesuatu yang dapat diperoleh dengan mudah. Janganlah menyusahkan orang lain. Janganlah menjadi beban bagi orang lain.

Seorang tamu vegetarian yang menjadi beban bagi penjamunya hendaknya mengingat petuah yang satu ini. Menjadi vegetarian dan menyusahkan orang adalah dua hal yang saling bertentangan. Berpuasalah dengan minum air, minum susu, atau makan buah-buahan saja, sehingga tidak perlu merepotkan tuan rumah untuk menyiapkan makanan khusus.

Ketergantungan pada kelezatan menyengsarakan manusia. Ia menjadi kebiasaan yang sulit untuk diatasi. Karena itu, janganlah lupa bahwa makanan adalah sekadar obat untuk menyembuhkan penyakit lapar. Obat tidak perlu lezat. Obat adalah obat. Kemujarabannya yang penting, bukanlah kelezatannya.

Ketergantungan kita pada kelezatan dan kenikmatan telah menciptakan ilusi surga penuh kelezatan dan kenikmatan. Kita berbuat baik di dunia ini karena adanya janji surga yang maha lezatdan maha nikmat itu. Celakanya, kita pun mengukur kelezatan dan kenikmatan surga dengan ukuran dunia. Kita berilusi mengenai bidadari bertelanjang dada, tidak satu, tida dua, tapi segerombolan. Kita tinggal pilih saja. Ketergantungan kita pada kelezatan dan kenikmatan bahkan meruntuhkan dinding-dinding moral dan akhlak ciptaan kita sendiri. Apa yang kita anggap tidak bermoral untuk kehidupan di dunia kita jadikan bermoral di surga.

Jangan mengejar kelezatan dan kenikmatan sedemikian rupa sehingga di surgapun itu yang kita cari. Surga penuh kenikmatan dan kelezatan duniawi adalah surga buatan kita sendiri, surga ciptaan pikiran kita. Kenikmatan dan kelezatan yang kita peroleh dari surga seperti itu tidak lebih dari hasil rekaan pikiran. Bila iu yang menjadi pilihan kita, itu pulalah yang terjadi. Setelah kematian badan, kita terperangkap dalam alam pikir kita sendiri. Dalam alam itu pula kita memperoleh kenikmatan dan kelezatan ilusi, khayalan. Kemudian, kita lahir kembali dengan bekal khayalan itu, dengan bekal ilmu itu, maka sekali lagi kita mati dan hidup dalam ilusi.

Jangan mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, karena keduanya itu adalah urusan badan. Bila kita tidak memahami hal ini, dan saat ajal tibapun masih mengharapkan kelezatan dan kenikmatan, maka kita sudah pasti lahir kembali untuk mengharapkan kelezatan dan kenikmatan.

Kendati demikian, tidak megharapkan kenikmatan dan kelezatan juga tidak selalu berarti "menolak” keduanya. Terimalah apa saja yang diberikan kepada kita oleh Keberadaan. Tidak perlu menolaknya. Nikmatilah segala kenikmatan dan kelezatan tanpa mengharapkannya. Dan tiba-tiba kita akan terbebaskan dari ketergantungan pada keduanya.

Jangan mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, karena sesungguhnya harapan itulah yang menciptakan ketergantungan.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 161 | Added by: nasionalisme[dot]id | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar