Home » 2016 » November » 14 » 24.GIVE UP TOTALLY THE TENDENCY TO ARGUE WITH WISE MEN
6:09 PM
24.GIVE UP TOTALLY THE TENDENCY TO ARGUE WITH WISE MEN

24. GIVE UP TOTALLY THE TENDENCY TO ARGUE WITH WISE MEN
Tinggalkan keinginan untuk berdebat dengan para bijak

Berterimakasihlah kepada mereka yang hendak menunjukkan kekeliruan kita, karena selama ini kita memang keliru. Kita sudah salah.

Seorang sahabat mengeluh: "Masak aku disalahkan melulu … ini salah, itu salah. Masak tidak ada satupun tindakanku yang tidak salah ?”

Memang tidak enak untuk didengar, namun demikianlah adanya. Tindakan-tindakan kita memang salah semua, karena kita bertindak dengan kesadaran yang salah. Kesadaran kita masih terfokus pada badan. Kesadaran kita masih belum menembus badan, maka apapun yang kita lakukan sudah pasti salah.

Badan adalah kendaraan yang diberikan kepada kita. Gunakanlah badan ini untuk mencapai tujuan. Sementara ini kita menganggap badan ini sebagai tujuan. Persis seperti kolektor kendaraan tua, kita mendandani terus kendaraan badan yang kita miliki. Kita tidak pernah turun ke jalan. Kita sudah puas dengan dandanan kendaraan kita dalam garasi. Celakanya, mobil bisa hidup dalam garasi, tetapi manusia tidak bisa hidup dalam garasi sempit pikirannya. Jiwa manusia yang hidup dalam garasi sempit pikirannya mengalami pembusukkan. Ia menjadi jasad berjalan. Persis seperti motor, seperti robot. Ia sepenuhnya tergantung pada "masa tahan” baterei pikirannya yang serba terbatas itu. Ia selalu berpikir pendek, tidak mampu berpikir jauh.

Karena itu, berbahagialah bilabertemu dengan seorang bijak yang sudi memberi nasihat. Janganlah membantahnya. Janganlah berargumentasi dengannya.

"Tapi bagaimana aku tahu bahwa dia seorang bijak ?” tanya seorang teman. Gampang, mudah. Pertama: Nasihatnya selalu membebaskan, meluaskan; tidak membelenggu, tidak menyempitkan. Ke dua: Dia selalu bertindak tanpa pamrih, tanpa "memikirkan” keuntungan pribadi.

Seorang bijak tidak pernah membuat peraturan untuk membatasi gerak-gerik kita. Ia berupaya untuk menyadarkan diri kita supaya kita membatasi sendiri gerak gerik kita, bahkan meninggalkan segala kebiasaan yang tidak menunjang kesadaran kita.

"Baiklah,” sahut teman tadi, "pasal pertama cukup jelas, tapi bagaimana dengan pasal ke dua ? Bagaimana tahu bahwa ia selalu bertindak tanpa pamrih, tanpa ‘memikirkan’ keuntungan pribadi ? Kau sendiri bagaimana ? Kau mengajarkan hal ini, tetapi kau menerima royalti dar penjualan buku-bukumu. Bukankah itupun pamrih ?”

"Syukur Alhamdulillah,” saya ucapkan kepadanya, " aku merasa tersanjung oleh anggapanmu ! Pertama: Aku belum tentu bijak. Dan, sesungguhnya kau pun masih ragu, ‘apa iya, apa iya ?’ Bila kau tidak bimbang tidak ragu, kau tidak akan berdebat denganku. Pertanyaanmu sudah cukup bukti akan keraguanmu. Ke dua: menerima royalti dan mengharapkan royalti adalah dua hal yang berbeda. Apalagi berkarya dengan harapan royalti belaka.”

Seorang bijakpun adalah manusia seperti kita. Iapun masih harus makan, minum dan tidur., dan semua itu membutuhkan biaya, maka iapun senantiasa berkarya. Namun, ia tidak berkarya untuk memperkaya diri. Ia berkarya demi kepentingan umum.

Dalam langkah berikutnya, Langkah ke empat, kita akan membaca tentang kebiasaan para bijak — Habits of The Wise Ones.

Mempertahankan Kesadaran : SULIT, tapi TIDAK MUSTAHIL !

 

"Awalnya Keberadaan itu Yang Ada,” Resi Gotama, ayah Shvetaketu menjelaskan kepada anaknya.

"Walau ada yang berpendapat bahwa Ketiadaan itu yang abadi, Ketiadaan itulah yang ada pada awalnya,” lanjut resi, "Tetapi, mungkinkah Keberadaan berawal dari Ketiadaan ?”

Tentunya tidak bisa, kecuali bila Ketiadaan itulah Keberadaan; kecuali, ketiadaan itulah "definisi kita” tentang Keberadaan; kemudian, Ketiadaan itulah Keberadaan "bagi kita”.

Sang ayah menjelaskan lebih lanjut, "Unsur-unsur dasar dalam alam ini: tanah, air, api, angin dan ruang kosong atau langit, semuanya berasal dari Keberadaan itu. Dunia benda ini, segala yang terlihat maupun tak terlihat oleh mata, semuanya berasal dari Keberadaan. Dan, setiap kita tertidur — tertidur lelap tanpa mimpi — kita kembali menyatu dengan Keberadaan yang adalah Kebenaran Sejati di balik segalanya, yang menjadi dasar bagi segalanya.”

"Bila memang demikian,” tanya Shvetaketu, "kenapa kita tidak mengingatnya saat terjaga kembali ? Kenapa kita tidak mengetahuinya ? Kenapa kita masih merasakan perbedaan yang disebabkan oleh nama dan rupa yang berbeda-beda ?”

Sang resi menjawab, "Madu terbuat dari sekian banyak bunga ….. bunga-bunga yang berbeda warna, bentuk dan nama. Sari setiap bunga ada di dalam madu, namun mereka tidak bisa berkata lagi, ‘aku sari bunga mawar’ atau ‘aku sari bunga melati’. Demikian juga dengan bunga-bunga yang lain. Dalam keadaan tidur lelap tanpa mimpi, bagaikan sari setiap bunga kita menyatu dengan Keberadaan. Saat itu tidak ada lagi perbedaan antara jiwa yang menghuni badan manusia atau badan hewan.”

"Saat terjaga, identitas badan kembali berperan. Identitas berdasarkan nama dan rupa kembali memisahkan manusia dari makhluk lain, bahkan seorang manusia dari manusia lainnya.”

"Kita semua, tanpa kecuali, setiap saat keluar dari alam kesadaran murni Keberadaan dan memasukinya kembali, namun kita tidak menyadarinya. Persis seperti seorang pejalan kaki yang melewati jalan raya di mana terpendam harta karun di bawah tanah. Ia melintasi jalan itu, tetapi tidak menyadari keberadaan harta karun di bawahnya.”

"Dan, seperti itu pula kesadaranmu, Shvetaketu. Khazanah, harta karun kesadaran murni ada di dalam dirimu. Selama ini kamu tidak menyadarinya. Sesungguhnya, Shvetaketu, Tat Tvam Asi — Itulah Kau !”

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 152 | Added by: nasionalisme[dot]id | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar