Home » 2016 » November » 14 » 23. GIVE UP THE DELUSORY MISCONCEPTION " I AM THE BODY”
6:10 PM
23. GIVE UP THE DELUSORY MISCONCEPTION " I AM THE BODY”

23. GIVE UP THE DELUSORY MISCONCEPTION " I AM THE BODY”  
Bebaskan dirimu dari anggapan keliru bahwa badan inilah dirimu

Bebaskan diri dari anggapan keliru yang bersifat "delusory” — ilusif. Anggapan keliru ini telah membingungkan kita. Kemudian kita bersuka dan berduka dalam kebingungan itu.

Kita senang karena ‘merasa’ berhasil dan menang. Kita sedih karena "merasa” gagal dan kalah. Siapa yang merasakan keberhasilan dan kegagalan itu ? Siapa yang merasakan kemenangan dan kekalahan itu ? Panca indra kita. Apakah panca indra itu satu-satunya kebenaran diri kita ? Adakah kebenaran lain yang lebih tinggi di balik panca indra yang kita miliki ?

Dimanakah kita sebelum nikah, berkeluarga dan membina rumah tangga ? Siapakah kita sebelum terciptanya ikatan dan keterikatan baru itu ? Seperti apakah jati diri kita sebelum kita menjadi suami dan ayah, atau istri dan ibu ?

Pertanyaan-pertanyaan ini masih bisa ditarik ke belakang. Dimanakah kita sebelum kelahiran kita ? Dimana pula keberadaan kita nanti setelah kematian ? Apakah kelahiran badan menandai kelahiran kita ? Apakah kematian badan mematikan diri kita ?

Para "perancang” undang-undang anti pornografi kita saat ini tidak mampu melihat kebenaran lain di balik badan, maka rancangan undang-undang mereka membingungkan banyak orang waras. Setiap perempuan dianggap berpotensi menjadi pelacur, maka gerak-geriknya di batasi. Kaum pria di bela mati-matian. Kenapa ? Karena mayoritas para perancang undang-undang adalah pria.

Bila betis dan belahan blus seorang perempuan menggoda pria-pria bersyahwat lemah, yang dijatuhi hukuman adalah perempuan.

Bila seorang perempuan diperkosa oleh seorang pria jahat, yang dianggap bersalahpun perempuan karena katanya perempuan itu memang penggoda. Ia dapat menggoda kaum adam dengan 1001 macam cara. Para perancang undang-undang kita tidak bisa melihat kebenaran lain di balik badan — di balik betis dan belahan blus yang dianggapnya menggoda. Mereka tidak sadar bahwa yang tergoda adalah pikirannya.

Celakanya, rancangan undang-undang macam itu menggunakan dalih agama dan kepercayaan. Agama dan kepercayaan yang mengajak kita untuk melihat kebenaran di balik badan justru dilecehkan oleh mereka. Dan, lembaga-lembaga keagamaan diam. Mereka membisu dan tidak bertindak terhadap pelecehan seperti itu. Kenapa ? Karena barangkali merekapun masih tidak mampu melihat kebenaran di balik badan.

Krisis bangsa kita saat ini bukanlah krisis moneter; bukan krisis kepemimpinan, tetapi krisis kesadaran. Kita terjebak dalam anggapan keliru bahwa badan inilah segala-galanya.

Berdoa pun dikaitkan dengan gerak-gerik badan melulu. Tempat-tempat ibadah kita adalah bangunan-bangunan beton. Kita masih belum mampu berdoa dalam keheningan hati, dalam cinta, dalam kasih.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 141 | Added by: nasionalisme[dot]id | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar