Home » 2016 » November » 14 » 21. ALWAYS BE ABSORBED IN THE ATTITUDE " I AM BRAHMAN”
6:12 PM
21. ALWAYS BE ABSORBED IN THE ATTITUDE " I AM BRAHMAN”

21. ALWAYS BE ABSORBED IN THE ATTITUDE " I AM BRAHMAN”
Senantiasa beradalah dalam Kesadaran Illahi 

Sadarkah kita bahwa kita tidak berada di luar-Nya ? Kita tidak bisa berada di luar-Nya. Kesadaran Illahi meliputi keseluruhan diri kita. Ia berada di luar dan di dalam diri kita.

I am Brahman. Aham Brahmaasmi, Soham, itulah Aku — Kebenaran Hakiki itulah kebenaranku. Tidak ada kebenaran yang rendah dan kebenaran yang tinggi. Hanya ada satu Kebenaran. Dan, aku tak terpisah dari Kebenaran Tunggal Itu !

Guru kontemporer Sai Baba berkata, "Aku-lah Dia yang kau puja-puja selama ini … "

Saya, sebagai salah seorang pengurus Yayasan Sri Sathya Sai tempo dulu, pernah dipanggil oleh instansi yang didesak oleh instansi lain untuk memperkarkan ajaran Sai Baba. Itu bukan hal yang baru; dan upaya desak mendesak seperti ini masih berjalan terus, ada di mana-mana. Apa yang terjadi dengan kelompok Ahmadiyah atau Salamullah ? Apa pula yang dapat terjadi pada kelompok Shi’a dan kelompok-kelompok lain yang tidak sepaham dengan kelompok pendesak tradisional seperti itu ?! Kata kuncinya adalah "takut”, lalu mau memaksakan salah satu akidah atau pemahaman tentang agama dijadikan patokan bagi semua.

"Aku-lah Brahman” berarti Aku tidak tercela. Air tidak bisa membasahi diri-Ku, hanya badan-Ku yang menjadi basah. Api tidak mampu membakar jiwa-Ku; hanyalah raga-Ku yang terbakar. Kita menjadi lebih percaya diri, lebih percaya pada kesucian diri dan menjadi lebih mudah bagi kita memastikan kesucian tindakan serta ucapan kita karena pemahaman ini.

"Aku berasal dari-Nya, dan aku akan kembali kepada-Nya.” Kepercayaan kita pada kalimat ini membebaskan diri kita dari rasa takut terhadap neraka. Kita juga tidak tergiur oleh tawaran surga. Karena aku sadar bahwa Ia berada di atas surga dan neraka. Ia melampaui ke duanya. Ia jauh lebih besar dari keduanya.

Kemudian, mencapai kebesaran itu pula yang menjadi tujuan hidup kita. Itulah harapan kita; itulah impian kita. Allah, Illahi dan keillahian mewarnai seluruh hidup kita. Dalam seketika kita terbebaskan dari kegelapan dosa. Hidup kita tercerahkan oleh beragam warna pencerahan.

Saya sering bercanda. Sang Kekasih memang memberi banyak pilihan. Banyak kemungkinan yang ditawarkan-Nya kepada kita. "Mau surga bersama istri, keluarga, ditambah kerumunan bidadari ? Atau, bersama-Ku di manapun Aku berada ?” Saya memilih bersama-Nya.

Saya memilih kalimat: "Dari-Nya aku berasal, dan kepada-Nya aku kembali”. Pilihan ini menggugurkan surga dan neraka.

Anjuran yang ini sekaligus mengukuhkan anjuran sebelumnya: "Ikutilah petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi”. Dan shruti tidak pernah baku, ia berkembang terus. Persis seperti pelajaran di sekolah. Surga dan neraka adalah subyek bagi kita ketika masih kecil. "Dari-Nya aku berasal, dan kepada-Nya aku kembali” adalah subyek kita sebagai mahasiswa. Apa mau di TK terus ?

Tidak perlu berdebat dengan mereka yang masih belajar di TK. Tak sepantasnya pula meremehkan pelajaran mereka, karena kitapun pernah memperoleh pelajaran yang sama. Terimalah anak TK sebagai anak TK. Juga tidak perlu menyombongkan diri ….. untuk apa?

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 169 | Added by: nasionalisme[dot]id | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar