Home » 2016 » November » 14 » 20. FOLLOW THE DISCRIMINATIVE RATIONALE OF THE SHRUTI
6:13 PM
20. FOLLOW THE DISCRIMINATIVE RATIONALE OF THE SHRUTI

20. FOLLOW THE DISCRIMINATIVE RATIONALE OF THE SHRUTI
Ikutilah petunjukShruti yang mengajarkan diskriminasi

Shruti berarti "wahyu”, yang bagi para resi bukanlah monopoli mereka semata, melainkan wahyu yang dapat diterima oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Seseorang juga tidak membutuhkan gelar tertentu untuk menerimanya.

Shruti berarti "Yang Terdengar”, maka juga tidak dapat dipisahkan dari Sang Pendengar, dari ia yang mendengarnya. Shruti juga tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seseorang untuk mendengarkan sesuatu.

Shruti yang dijelaskan lewat kata-kata sangat tergantung pada kemampuan berkata-kata sang penerima, sang pendengar. Karena itu, penjelasan seorang pendengar bisa berbeda dari penjelasan pendengar yang lain, walau yang terdengar sesungguhnya sama.

Bahasa seorang pendengar dan kosa kata yang ada di dalam bahasa itu juga memengaruhi penjelasan-penjelasan tertulis. Penjelasan yang diberikan dalam bahasa Aram barangkali mirip dengan yang diberikan dalam bahsa Ibrani dan Arab karena kemiripan faktor sosial dan budaya. Juga karena kedekatan geografis. Namun yang diberikan dalam bahasa Sanskerta, Pali, China, atau Jepang bisa tidak sama, tidak mirip, bahkan terdengar "berseberangan” !

Bila kita terpaku pada kata-kata yang sudah tertulis, esensi Shruti itu sendiri hilang. Dan, persis ini yang terjadi selama ini. Kita sudah tidak memiliki semangat untuk mendengarkan sendiri. Kita malas, tidak mau bekerja, tidak mau berupaya untuk itu. Kita menganggap lebih gampang menelan sesuatu yang sudah disiapkan sebelumnya. Kita tidak mau memasak sendiri.

Shruti yang dibakukan kehilangan dinamikanya. Sesungguhnya, ia sudah bukan shruti lagi. Ia sudah menjadi buku teks. Ia menjadi tulisan dan bacaan belaka. Tulisan dan bacaan seharusnya mendorong para pembaca untuk berupaya agar mereka pun "mendengar sendiri”. Bila sudah tidak memberi semangat seperti itu, shruti kehilangan maknanya.

Bacalah ayat-ayat Allah yang bertebaran di mana-mana; dengarkanlah suara-Nya: lihatlah wajah-Nya !

"Ikutilah petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi”, yaitu mengasah kemampuan kita untuk menentukan sendiri "tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat”. Itulah hasil Shruti. Itulah tujuannya.

Shruti yang menjadikan kita budak dari kata-kata tertulis bukanlah Shruti. Shruti memberi kebebasan untuk berijtihad, untuk berupaya sungguh-sungguh untuk menemukan makna hidup.

Shruti bukanlah monopoli kaum cendekiawan, pemangku, bhiksu, pendeta, pastor dan alim ulama. Mereka bukanlah pewaris dan penafsir tunggal. Mereka tidak memiliki monopoli semacam itu. Shruti diperuntukkan bagi setiap makhluk hidup. Dan setiap jenis kehidupan diberi pula kebebasan dan kesempatan yang sama untuk memahami dan melakoninya sesuai dengan pemahaman itu.

Suara "itu” diperdengarkan untuk membantu langkah kita. Bila kita masih bingung, dan masih tidak mampu menentukan langkah, barangkali kita belum mendengar-Nya. Suara "itu”  diperdengarkan untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah yang dibuat oleh para calo untuk memisahkan diri kita dari-Nya. Setelah "merasa” mendengar-Nya pun bila dinding-dinding itu masih utuh, masih berdiri tegak, kita mesti melakukan perenungan yang dalam. Barangkali yang kita rasakan sebagai Shruti bukanlah Shruti.

Apakah kita telah mendengar-Nya atau belum ? Apakah yang kita anggap sebagai Shruti sekedar anggapan belaka ? Bagaimana menguji kebenaran pengalaman kita?

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 176 | Added by: nasionalisme[dot]id | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar