Home » 2017 » August » 5 » 1. Study the Vedas daily
3:12 PM
1. Study the Vedas daily

1. Study the Vedas daily
Pelajarilah Veda setiap hari

Veda berarti "Pengetahuan”, pengetahuan yang senantiasa berkembang, pengetahuan yang maju dan memajukan; pengetahuan yang tidak kaku, tidak baku; pengetahuan yang tidak mengerdilkan jiwa. Hanya "pengetahuan” macam itu yang dapat dipelajari setiap hari; ditekuni dan didalami dari hari ke hari. Veda bukanlah dogma dan doktrin yang tidak dapat di ganggu gugat. Veda bukanlah dogma, bukan doktrin. Veda tidak memperbudak manusia. Veda tidak menjerat jiwa, tapi membebaskan jiwa manusia.

Mempelajari Veda berarti mempelajari diri, mempelajari potensi diri, kemampuan diri ; melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Pengetahuan yang dimaksud bukanlah untuk pengetahuan mengenai hal-hal di luar diri, tetapi pengetahuan mengenai segala yang ada di dalam diri.

Berbeda dari pemahaman umum, Veda bukanlah sekedar kumpulan buku-buku yang di sucikan oleh kalangan tertentu. Veda adalah kesucian itu sendiri, yang pengetahuan tentangnya kemudian di bukukan. Karena itu, Veda tidak perlu di sucikan. Pengetahuan tentang diri itulah Veda. Itulah pengetahuan sejati. Itulah kesucian.

Ayat di atas mengajak kita untuk mengenal diri. "Kenalilah dirimu, karena ia yang mengenal dirinya mengenal Tuhan” demikian kata para pujangga Arab jaman dulu. Tak ada pengetahuan yang lebih tinggi daripada pengetahuan tentang diri. Sama pula yang dikatakan oleh pujangga Yunani masa silam.

Dapatkah kita menjelaskan persamaan ini ? Para pujangga di India, China, Timur Tengah mengatakan hal yang sama. Kenapa ? Apakah urusannya sekedar contek-menyontek ? Tidak. Itu terjadi karena mereka semua menempuh perjalanan yang sama. Mereka semua meniti jalan ke dalam diri.

Karena itu Muhammad tidak bertentangan dengan Isa, dengan Musa, dengan Ibrahim. Mereka berdiri bersama. Tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi. mereka juga berdiri bersama Siddharta, Krishna dan Lao Tze. Mereka semua mengajak untuk menengok ke dalam diri. Mereka mengajak kita setelah sebelumnya mereka sendiri melakukan hal yang sama, sehingga penemuan mereka sama.

Tidak demikian dengan para "calo agama” dan "penafsir sah kitab-kitab suci” masa kini. Barangkali mereka tidak pernah menengok ke dalam diri, dan mata mereka melihat ke luar saja, sehingga hanya perbedaan yang terlihat oleh mereka. Dengan cara pandang seperti itu, mereka membaca dan berupaya untuk menafsirkan ayat-ayat suci, maka sia-sia lah segala upaya mereka. Kesucian ayatpun tertutup oleh ketaksucian cara pandang mereka.

Pernah ada, dan saya kira masih ada yang akan bilang, "Inilah kebenaran ; demikianlah penglihatanku. Tak ada kebenaran lain di luar apa yang terlihat olehku. " Kelantangannya menunjukkan bahwa ujung jubah kebenaranpun belum terjamah olehnya.

Klaim dan monopoli serupa atas kebenaran kadang dilakukan pula oleh orang yang tidak merasa perlu untuk berteriak lantang. Mereka sangat sopan. Sebuah senyuman siap saji, selalu menghiasi wajah mereka. Dan, kita pun terkecoh. Barangkali ia telah menemukan Kebenaran Mutlak itu. Barangkali klaim akan kemutlakannya itu benar. Barangkali itulah Kebenaran. Kita terbawa oleh senyuman dan kelemah-lembutan mereka sebagaimana rakyat Jerman pernah terbawa oleh semangat Hitler yang berapi-api.

Mempelajari Veda, dan berbagai kitab suci, bila tanpa menyelam ke dalm diri, hanya akan memberi kta kesibukan baru. Pikiran dan intelek pun terhibur. Sungguh menyenangkan ; pikiran puas dan kita berhenti pada tahap mempelajari saja. Kita menjadi pelajar profesional. Menuntut ilmu hingga memasuki liang kubur adalah proses yang bagus, tetapi jangan lupa bahwa ilmu yang sudah dituntut itu masih perlu dipraktekkan. Bila tidak, untuk apa menuntut ilmu? Pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri, ia harus ditindaklanjuti dengan praktik, dengan laku.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 55 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Pencerahan, Kesadaran, Spiritual | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar