Home » 2016 » November » 14 » 28. LIVE CONTENTEDLY UPON WHATEVER COMES TO YOUR LOT AS ORDAINED BY HIM
6:04 PM
28. LIVE CONTENTEDLY UPON WHATEVER COMES TO YOUR LOT AS ORDAINED BY HIM

LANGKAH KE EMPAT

28. LIVE CONTENTEDLY UPON WHATEVER COMES TO YOUR LOT AS ORDAINED BY HIM
Puaslah dengan apa saja yang kau peroleh atas kehendak-Nya

Tidak mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, tetapi menerima apa saja yang kita peroleh atas Kehendak-Nya — inilah esensi spiritualitas.

Ada yang menolak kenikmatan dan kelezatan dunia, tetapi mengharapkannya di surga. Persis seperti Ladin dan kawan-kawan. Ladin dalam pengertian saya adalah tanpa din atau tanpa agama. Inilah sifat-sifat orang tak beragama: mengharamkan sesuatu di dunia, dan mengharapkannya di akhirat. Penolakan semacam ini membuat kita menjadi munafik. Kemudian bila melihat orang lain menikmati sesuatu yang kita haramkan, kita iri atau marah. Kita membuat peraturan dan undang-undang, atau mengeluarkan fatwa supaya apa yang kita "anggap” haram diterima sebagai haram oleh khalayak ramai. Kita memaksakan kehendak kita.

Para teroris dan para agamawan berwawasan sempit memang suka dengan cara seperti itu. Mereka tidak memahami kedamaian dan kesejukan ajaran-ajaran agama. Mereka mungkin rajin membungkuk, tetapi sesungguhnya belum bisa menundukkan ego; hanyalah kepala mereka yang berjungkat jungkit. Mereka tidak bisa menerima Kehendak-Nya, karena merekapun tidak tahu dengan Kehendak-Nya.

Beragam budaya dan adat istiadat dengan coraknya masing-masing adalah Kehendak-Nya. Seua itu tidak akan bertahan jika tidak di Kehendaki-Nya. Agama Buddha, Agama Islam, Agama Kristen, Agama Hindhu, Agama Bahai, Agama Shinto, Agama Sikh, Agama Konghucu, Agama Tao dan masih banyak lagi agama-agama lain, semuanya adalah Kehendak-Nya. Semuanya "terjadi” karena dikehendaki-Nya.

Bukankah Ia telah menyempurnakan kitab suci bagi anda dalam bahasa yang anda pahami pula ? Lau, kenapa anda memaksakan isi kitab suci itu kepada orang lain yang sudah memiliki kitab suciyang telah disempurnakan pula baginya ? Kenapa anda memaksakan bahasa yang anda pahami kepada orangain yang tidak memahaminya ?

Menerima Kehendak-Nya berarti tidak memaksakan kehendak kita. Bila ini saja kita pahami dengan baik, hidup menjadi sebuah perayaan. Kita menjadi bahagia dalam arti kata sebenarnya.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 164 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pencerahan, Spiritualitas | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar