11. Cultivate the virtues such as shaanti, etc.
Kembangkan nilai-nilai luhur seperti kedamaian dan lain-lain

Shankara memberikan ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat berkarya dengan tenang. Ia dapat bekerja dengan damai dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya.

Banyak hal yang amat bernilai seperti kebenaran, kebajikan, kasih, dan lain-lain, namun Shankara hanya menyebut salah satu di antaranya secara spesifik. Kenapa? Karena, ia adalah ahli ilmu jiwa. Ia yakin bahwa jiwa yang damai akan menemukan sendiri nilai-nilai luhur lainnya.

Jiwa yang damai tidak terbujuk oleh kepalsuan, karena kepalsuan tidak pernah mendamaikan. Jiwa yang damai tidak mengenal kejahatan, karena kejahatan merusak kedamaian. Jiwa yang damai tidak bisa membenci, karena kebencian menyisihkan kasih dari hati.

... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 54 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-04-12 | Comments (0)

12. ESCHEW ALL DESIRE-RIDDEN ACTIONS
Hindari segala kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh sesuatu

Berkaryalah tanpa pamrih, tanpa memikirkan hasil akhir. Saat berkarya, bila kita memikirkan hasil akhir melulu, kesadaran kita sudah pasti terbelah. Banyak energi yang terboroskan, sehingga kebutuhan energi untuk menyelsaikan pekerjaan dengan baik tidak terpenuhi. Hasilnya pun kurang baik. Karena itu janganlah memboroskan energi dengan memikirkan hasil akhir. Pusatkan seluruh kesadaran pada apa yang sedang kita lakukan, pada karya itu sendiri, maka hasilnya sudah pasti baik.

Seorang pengabdi tidak pernah memikirkan hasil akhir. Ia sudah puas dengan kesempatan untuk mengabdi yang diperolehnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal; reaksi dengan proporsi dan kekuatan yang sama seperti aksi yang menyebabkannya. Karena itu untuk apa memikirkan hasil akhir ?

Seorang anak kecil perlu diiming-imingi dengan hadiah dan gula-gula supaya ia menyelesaikan pekerjaan rumah. Seorang dewasa tidak membutuhkan iming-iming seperti itu. Ia melaksanakan tugasnya; Ia menunaikan kewajibannya atas kesadaran sendiri.

Seorang saadhaka, seorang true seeker, pencari sejati tidak membutuhkan iming ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 58 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-04-12 | Comments (0)

13. TAKE SHELTER AT A PERFECT MASTER (SAT-GURU)
Berlindunglah pada seorang Guru Sejati

 

"Berlindunglah pada seorang guru sejati.”

Ya, berlindunglah, sebagaimana anda berlindung di bawah pohon yang lebat dari air hujan dan terik matahari. Berlindunglah, sebagaimana anda berlindung di dalam rumah dan badai di luar.

Kita semua mencari perlindungan jika keamanan dan kenyamanan tubuh terancam. Kita mencari perlindungan dari seorang guru bila evolusi bathin kita terancam berhenti.

Ini bukan pengkultusan, melainkan "pembudidayaan”, yaitu membudidayakan sifat-sifatnya di dalam diri kita. Dengan berlindung pada seorang rasul, misalnya, menurut Imam Besar Al-Ghazali, kita sedang membudidayakan "kelahiran Rasul di dalam diri manusia”.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 53 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-03-30 | Comments (0)

14. EVERYDAY SERVE HIS LOTUS FEET
Layani teratai kaki Nya setiap hari 

“Melayani Teratai Kaki” adalah sebuah peribahasa. Kaki seorang guru diibaratkan sebagai bunga teratai. Persis seperti bunga tersebut, seorang guru tidak tercemar oleh lumpur dunia di sekitarnya. Ia tumbuh dari lumpur, tapi tidak berlumpur. Ia berada dalam dunia, tetapi keduniawian tidak menyentuhnya. Kepada seorang Guru Sejati seperti itulah hendaknya kita berlindung. Kepada seorang Guru Sejati berjiwa bebas seperti itulah hendaknya kita berindung.

Berhadapan dengan seorang Guru, saya memang kecil. Saya harus berada di bawahnya, supaya aliran kebijakan serta kasihnya dapat menyirami saya. Saya tidak bisa berada di atas dahan dan mengarapkan perlidungan dari pohon yang dahannya saya duduki itu. Berada di atas sana, saya sudah pasti basah kuyup bila turun hujan. Saya tidak bisa berada di atap rumah bila ingin berlindung dari badai dan topan. Saya harus berada di dalam rumah, di bawah atap.

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 57 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2017-03-29 | Comments (0)

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1958 DI JAKARTA

Saudara-saudara ini adalah salah satu ulang tahun Republik Indonesia yang paling diperhatikan orang! Diperhatikan orang di dalam dan di luar negeri. Boleh dikatakan seluruh dunia pada hari ini mengarahkan pandangan matanya ke Jakarta, atau memasangkan arah-telinganya ke Jakarta. Bagaimana suasana Jakarta pada hari ini, dan apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada hari ini? Apakah suasananya suasana yang tertekan, suasananya rakyat yang baru saja dapat pukulan-pukulan di badannya, – babak-belur, babak-bundas? Apakah suaranya suara rakyat yang telah remuk-redam dalam jiwanya, suara rakyat yang telah megap-megap?

Pantas juga orang di luaran mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu, terutama sekali orang-orang dari kalangan-kalangan yang tak senang kepada kita atau tidak senang kepada politik kita. Pantas! Sebab apa yang tidak kita alami dalam tahun yang lalu! Segala macam cobaan-cobaan pahit dan getir telah kita alami, yang, jikalau umpamanya kita ini bukan bangsa yang ulet dan Insya Allah d ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 164 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

<<sebelumnya.....  Pada hari keramat 17 Agustus sekarang ini, saya menyerukan lagi: jangan lupa D.I.-T.I.I., – jangan biarkan mereka, hantamlah terus D.I.-T.I.I., sampai mereka hancur-lebur samasekali!

Sekarang, apakah yang dinamakan kelanjutan daripada Revolusi ialah terletak dalam segala bidang yang perjoangannya belum selesai. Kelanjutan Revolusi ialah kelanjutan perjoangan-perjoangan yang belum selesai. Kelanjutan perjoangan di bidang politik, kelanjutan perjoangan di bidang ekonomi atau lebih tepat sosial-ekonomi, kelanjutan perjoangan di bidang kepribadian Nasional. Revolusi kita adalah satu “revolusi campuran”, revolusi politik dan sosial-ekonomi dan kebudayaan, – satu Revolusi yang pada hakekatnya adalah “a summing up of many revolutions in one generation”. Satu bagian daripada Revolusi ini adalah lebih maju daripada bagian yang lain, tetapi semua bagian-bagian itu meminta kelanjutan daripada perjoangannya.

Welnu, kelanjutan daripada Rev ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 155 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

<<sebelumnya.....  En toh, rupanya, dunia Barat, atau lebih tegas: elemen-elemen kolonialis-imperialis dari dunia Barat, mau main-mainan dengan Kereta Jagarnathnja Sejarah itu! Mereka menentang, sedikitnya selalu menjelek-jelekkan, segala apa saja yang timbul mencari realisasi di Asia-Afrika itu. Mereka menentang pertumbuhan di Indonesia. Mereka menentang pertumbuhan di Mesir, mereka menentang pertumbuhan di lain-lain negara Arab. Cannot they realise that history is against them? Apakah mereka tak mau mengerti, bahwa sejarah menentang mereka? Mereka mengingatkan saya kepada itu anak Belanda dari ceritera-dongengan, yang hendak menahan jebolnya gili-gili dengan menutup lobang dalam gili-gili itu dengan jari-tangannya. Lima meter dari tempat anak itu, gili-gili jebol, dan anak itu mati klelep di dalam banjir yang membandang.

Alangkah baiknja jikalau dunia Barat mengerti, bahwa nasionalisme Asia adalah satu kepastian sejarah, satu historisch phenomeen, dan bahwa nasionalisme Asia itu pasti sedikitnya bermuka dua. Kami tidak minta dibantu, kami hanya minta dimengerti dan dibiarkan, Biarkanlah kami mencari kepribadian s ... Read more »

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 133 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

15. WORSHIP "OM” THE IMMUTABLE
Bersembahlah kepada OM yang Kekal Abadi 

Berlindunglah pada seorang Guru Sejati dan melayaninya siang malam, supaya kita makin dekat dengan Zat Yang Maha Agung "Itu” !

Bersembahlah kepada OM yang Kekal Abadi, yang Tak Pernah Mutasi ; Tak Pernah Berakhir, karena Tak Berawal pula. Ia adalah Sanaatana, selalu "Ada”, di mana-mana "Ada”.

Anda boleh menyebutnya YHV, That I Am – Esensi Diri. Atau, Brahman Yang Maha Misterius, Tak Pernah Terungkap Misteri Nya. Atau, Allah Yang Tak Terwujud, namun Wajah Nya tampak jelas di barat dan di timur, di mana-mana. Buddha, Tao – apa saja sebutan anda tidak menjadi soal.

OM adalah sebuah kata generik, sebuah formula, rumusan ….. seperti H2O. Anda boleh menyebutnya air, water – apa saja ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 142 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

16. LISTEN IN DEPTH THE UPANISHADIC DECLARATIONS
Dengarkanlah pernyataan-pernyataan Upanishad

Kitab-kitab yang biasa disebut Upanishad, belasan dari ratusan yang pernah ada, merupakan "hasil dari upanishad”. Kitab-kitab itu bukanlah upanishad. Upanishad berarti "duduk bersama”. Duduk bersama mereka yang telah melihat, telah menyaksikan Kebenaran.

Banyak yang tahu tentang Kebenaran ; banyak pula yang bicara tentang-Nya, namun duduk bersama mereka tidak bisa disebut upanishad. Mereka belum "melihat” Kebenaran. Mereka belum "menyaksikan”-Nya. Sia-sia saja bila kita duduk bersama mereka. Pernyataan-pernyataan mereka tak akan membantu kita.

"Pernyataan Upanishad” adalah "Pernyataan mereka yang telah menyaksikan Kebenaran”. Mereka yang telah menyaksikan Kebenaran disebut Rishi — Ia yang telah melihat. Mereka ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 141 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

17. REFLECT EVER UPON THE MEANING OF THE UPANISHADIC COMMANDMENTS
Senantiasa renungkanlah makna dari pernyataan-pernyataan tersebut


Kalau kita simpulkan pemelajaran kita sampai disini, inilah langkah praktis yang harus kita tempuh. Pertama : temukan mereka yang telah melihat-Nya. Ke dua : duduk bersama mereka, dengarkanlah pengalaman mereka. Ke tiga : hayati, renungkan makna dari apa yang telah kau dengarkan.

Merenungkannya sekali saja tidak cukup, kita dituntut untuk merenungkannya setiap saat, senantiasa, karena pikiran kita, perasaan kita "suka” jalan-jalan. Bila tidak diberi pekerjaan, mereka akan melakukan apa saja just for the heck of it. Mereka akan menjadi sibuk melakukan hal-hal yang tidak penting, tidak berguna. Karena itu, "senantiasa renungkanlah makna dari pernyataan-pernyataan tersebut” supaya otak dan hati kita tersibukkan olehnya. Supaya mereka tidak berkeliaran.

Renungan Pertama : Aku telah "menyaksikan Kebenaran” Yang Satu Itu ! Renungan ke dua : Tiada suatupun Kebenaran di luar-Nya. Renungan ke tiga : Kebenaran itu pula yang meliputi alam semesta.

Aku berada di dalam Kebenaran Itu Di luar Dia, di dalam Dia, di mana ... Read more »

Category: 5 Steps to Awareness | Views: 136 | Added by: nasionalisme[dot]id | Date: 2016-11-29 | Comments (0)

1 2 3 ... 12 13 »